Gus Dur Dari Pesantren Jadi Presiden RI

Posted in Uncategorized on February 11, 2010 by bedjonugroho

SAAT ini masyarakat luas bisa menyaksikan sendiri, bahwa lembaga pendidikan pesantren bisa menghasilkan cendekiawan sekaliber KH.Abdurahman Wahid atau Gus Dur yang wafat pada 30 Desember 2009. Kita sungguh kehilangan sosok Gus Dur yang dikenal luas oleh masyarakat di dalam maupun di luar negeri. Bahkan, bagi kalangan pesantren, tentu saja Gus Dur merupakan ‘’ikon’’ membanggakan, karena ia berasal dari dunia pesantren, lalu melaju karirnya hingga ke jabatan tertinggi di negeri ini, yakni: Presiden RI. Oleh sebab itu, suata  saat pesantren-pesantren yang bertebaran di Indonesia—termasuk di Jawa Barat akan mengisi pula jabatan tertinggi di negeri ini, temasuk di lembaga strategis lainnya. Misalnya, di DPR RI  atau MPR. Selain itu,  Hidayat Nur Wahid, alumni Pondok Modern Gontor, Jawa Timur—pernah juga menjadi Ketua MPR RI. Kini, beliau menjadi anggota DPR RI dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera).

Gus Dur lahir 7 Agustus 1940 di Jombang dari pasangan KH.Wahid Hasyim dan Hj.Solecah Wahid Hasyim.Kakeknya adalah KH Hasyim Asy’ari,pendiri Nahdiatul Ulama.Beliau menempuh pendidikan sekolah dasar di Jakarta. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Ekonomi  (SMEP) di Yogyakarta pada tahun 1956. Selanjutnya menjadi santri Tembakberas Jombang,Jawa Timur. Setelah tamat dari pesantren, Gus Dur menjadi guru Madrasah Mu’alimat Jombang,Jawa Timur hingga tahun 1963. Pada tahun 1967, beliau sempat menempuh pendidikan tinggi di Department Of Higher Islamic and Arabic Studies,Universitas Al-Azhar,Kairo dan juga Fakultas Sastra,Universitas Baghdad,Irak.

Gus Dur pun pada tahun 1972 sempat menjadi dosen Universitas Hasyim Ashari,Jombang hingga tahun 1974. Pada tahun 1976, beliau mendirikan pondok pesatren Ciganjur,Jakarta. Pada tahun 1979, Gus Dur menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama hingga 1984. Dalam Mukhtamar ke-27 NU di Pondok Pesantren Salafiyah Safi’ah Sukerejo (Situbondo), Jatim,  beliau terpilih menjadi ketua Tanfidziah PBNU periode 1984-1989. Lalu, terpilih kembali pada tanggal 28 November 1989 untuk periode 1989-1994. Untuk ketiga kalinya Gus Dur memegang tampuk pimpinan Tanfidziah melalui mukhtamar ke-29 NU di Pondok Pesantren Cipasung,Tasikmalaya,Jawa Barat.

Hal yang paling mengejutkan, Gus Dur yang jebolan pondok pesantren tersebut terpilih sebagai Presiden RI keempat menggantikan BJ Habibie pada tanggal 20 Oktober 1999.Gus Dur adalah satu-satunya Presiden RI yang dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab ketika bertemu dengan raja Fahd dari Arab Saudi. Ia tidak menggunakan penerjemah seperti Presiden-Presiden RI lainnya. Sangat sedikit sekali pejabat kita yang mampu berbahasa Arab. Bahkan, terkadang pejabat kita tak mampu membaca Al-Quran dan tak mengenal sama sekali apa itu Islam.   Terkadang, mereka pun tidak sholat, tapi mengaku beragama Islam. Jadi, tidak  heran, jika negeri ini dikenal sebagai negara terkorup di dunia, karena para pejabat kita umumnya berasal dari luar pesantren yang akhlaknya rendah dan kurang imannya.

Mampu Memimpin

Dari uraian diatas menunjukan, alumni pesantren mampu memimpin negeri ini. Padahal,ketika Gus Dur menjadi Presiden RI keempat beliau dalam keadaan tidak melihat. Bayangkanlah, dalam kondisi tak melihat pun orang pesantren bisa jadi Presiden RI, apalagi dalam kondisi normal,  kemungkinan  Gus Dur bisa menjadi  Presiden RI dua kali priode seperti SBY.

Mengapa alumni Pesantren bisa menjadi pejabat tertinggi di negeri ini dan menjadi pejabat-pejabat di berbagai lembaga tinggai lainnya? Sebab, mutu santri pondok pesantren di Indonesia tidak kalah dengan lulusan sekolah umum. Bahkan, lulusan pesantren mempunyai nilai plus, karena di  Lembaga pesantren selalu diajarkan pelajaran umum dan pelajaran agama, sehingga bobot lulusan pesantren jauh lebih bermutu dan lebih tinggi dibandingkan sekolah umum. Oleh sabab itu, tidak heran Gus Dur bisa menjadi Presiden RI, sebab memang lulusan pesantren lebih bermutu, karena metode pendidikan  di  pesantren  pada umumnya lebih mengutamakan pendidikan daripada pegajaran. Sedangkan di sekolah umum lebih mengutamakan pengajaran tanpa penalaran. Akhirnya, tidak heran jika murid-murid sekolah umum di Jakarta dan di kota-kota besar lainnya suka tawuran, suka kebut-kebutan dan memakai narkoba, karena akibat pergaulan yang salah serta pendidikan umum yang tidak memberi tambahan nilai akhlak bagi  para peserta didiknya.

Oleh sebab itu, bagi orang tua yang ingin menyelamatkan putra-putrinya baik di dunia maupun di akhirat,  sebaiknya menyekolahkan anak-anak mereka ke pesantren. Dijamin, jebolan pesantren bisa seperti Gus Dur yang pernah menjadi Presiden RI, dan kini sedang diusulkan jadi Pahlawan Nasional. Selamat Jalan Gus Dur, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT. Amin. (Jihad Islam, Santri Kelas IV Pondok Modern Al-Ikhlash, Ciawi Lor, Kuningan, Jawa Barat).

sumber : http://politisi-indonesia.com

IPNU Anugerahi Gus Dur Jadi Tokoh Pendidikan

Posted in Uncategorized on February 11, 2010 by bedjonugroho

JAKARTA – Almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terus menerima anugerah dari berbagai pihak. Kemarin giliran Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) yang memberikan gelar tokoh pendidikan kepada presiden ke-4 RI tersebut.

Gus Dur dianugerahi gelar tersebut karena dianggap memiliki komitmen besar terhadap pendidikan. Tidak hanya pendidikan pesantren, mantan ketua umum PB NU itu juga memiliki komitmen yang tak diragukan terhadap kemajuan pendidikan formal. “Saya yakin, tidak akan ada pihak yang menyangsikan komitmen beliau di dunia pendidikan. Beliau layak disejajarkan dengan Ki Hajar Dewantoro,” ujar Ketua Umum PP IPNU Ahmad Syaukhi di gedung PB NU, Jl Kramat Raya, Jakarta, kemarin (9/2).

Salah satu bukti komitmen Gus Dur di dunia pendidikan, ungkap dia, adalah saat menjabat presiden. Meski hanya memegang kekuasaan pemerintah sekitar dua tahun, Gus Dur menorehkan jasa yang tidak akan dilupakan para pendidik. “Dialah yang membuat terobosan menaikkan gaji guru dan banyak mengangkat di antara mereka menjadi PNS,” papar Syaukhi.

Putri sulung Gus Dur, Alissa Qotrunnada, yang mewakili pihak keluarga menerima penghargaan itu. Ikut menyaksikan penganugerahan tersebut Kepala Balitbang Depdiknas Prof Dr Mansyur Ramli, anggota Komisi X DPR RI Dedi Wahidi, dan Sekjen PB NU Endang Turmudzi.

Dalam sambutannya, Alissa mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas atensi berbagai pihak kepada ayahandanya selama ini. Anugerah sebagai tokoh pendidikan itu juga dirasakan pantas disandang Gus Dur. “Tapi, pendidikan di mata Gus Dur sebenarnya tidak cukup hanya dengan memiliki ijazah, melainkan harus pintar, berkarakter, dan beretika,” ujarnya. (dyn/tof)

Sumber : http://www.jawapos.co.id

Mengenang 40 Hari GUS DUR Wafat

Posted in Uncategorized on February 8, 2010 by bedjonugroho

Jombang (beritajatim.com) - KH Mustofa Bisri alias Gus Mus menilai bahwasannya Gus Dur layak masuk Guines Book of Record. Kalau hanya masuk MURI (Museum Record Indionesia), terlalu kecil bagi almarhum Gus Dur.Pernyataan menggelitik itu dilontarkan KH Mustofa Bisri saat memberikan mauidzoh hasanah di acara peringatan 40 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid fi Tebuireng, Jombang, Minggu (7/2/2010) malam.

Menurut Gus Mus, fenomena banyaknya peziarah yang datang ke makam Gus Dur adalah yang pertama kali. Sebelumnya belum pernah ada tokoh dunia yang mengalaminya. Betapa tidak, mulai dari meninggalnya, yakni 30 Dsember lalu hingga 40 harinya, makam mantan ketua PBNU itu tidak pernah sepi dari peziarah.Para peziarah datang dari berbagai daerah dengan ikhlas. Mereka tidak ada yang menyuruh. “Bisa dibayangkan berapa juta orang yang datang ke makam Gus Dur untuk berziarah. Mulai dari wafat hingga 40 harinya, Tebuireng tidak pernah putus dari peziarah. Jadi Gus Dur itu layak masuk meseum rekor dunia atau Guines Book of Record,” kata Gus Mus yang disambut tepuk tangan hadirin.

Gus Mus lalu membandingkan dengan tokoh dunia lainnya semisal, Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln,� Jhon F Kenedy, serta Gamal Abdul Naser. Meski sederet nama tersebut tokoh dunia, namun makamnya tidak seramai Gus Dur.Pria asal Rembang Jawa Tengah ini menceritakan, saat mantan presiden Mesir, Gamal Abdul Naser, tutup usia, ia ikut takziah. Saat itu ada sekitar 4 juta peziarah yang hadir. Namun seiring bergulirnya waktu, makam Gamal berangsur sepi peziarah. Kondisi itu tidak terjadi pada makam Gus Dur. “Mulai wafat hingga 40 harinya, pusara Gus Dur tidak pernah putus dari doa peziarah. Menariknya, semua itu dilakukan dengan ikhlas,” tambah kiai yang juga sastrawan ini.

Bahkan, kata Gus Mus, yang ikut mendoakan itu bukan hanya dari kalangan Islam saja. Namun lintas agama, etnis, dan lintas keyakinan. Saat ini 40 harinya Gus Dur ini saja, lanjut kiai asal Rembang ini, ia mendapat sembilan undangan acara. “Ini artinya seluruh warga Indonesia malam ini ikut berdoa untuk Gus Dur,” pungkasnya. [suf/eda]

Mahfud MD: Gus Dur Lengser Karena Pegang Prinsip

Minggu, 07 Februari 2010 22:14:27 WIB

Reporter : Yusuf Wibisono

Jombang (beritajatim.com) - Almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah sosok yang teguh memegang prinsip. Hal itu pula yang menyebabkan Gus Dur lengser dari kursi kepresidenan. Mahfud MD, adalah salah satu saksi sejarah turunnya Gus Dur dari orang nomer satu di Indonesia.Mahfud menceritakan, saat gonjang-ganjing politik tahun 2001, pihaknya sedang berada di samping Gus Dur menjabat menteri. Oleh Gus Dur, ia diutus untuk menemui rival politik Gus Dur. Setelah itu, hasil pertemuan itu disampaikan ke mantan ketua PBNU tersebut.Hasilnya, jika Gus Dur ingin selamat dari kemelut politik, maka harus melakukan reshuffle kabinet. Yakni dengan mengganti si A dengan si B, mengganti si C dengan si D. “Jika hal itu dilakukan maka Gus Dur akan aman alias tidak akan dijatuhkan,” kata Mahfud saat memberikan testimoni di acara 40 hari wafatnya Gus Dur di Tebuireng, Minggu (7/2/2010).

Tapi apa jawaban Gus Dur? Menurut Mahfud, mantan presiden itu tetap bersikukuh dengan prinsip yang dipegang. Gus Dur tidak mau melakukan reshuflle. Cucu pendiri NU ini lebih memilih kehilangan jabatan dari pada mengorbankan prinsip.Sudah begitu, Gus Dur tetap memanfaatkan orang-orang yang menjatuhkannya dari kursi presiden. Hal itu terbukti, usai lengser, Gus Dur tidak pernah memusuhi rival politiknya.”Jadi tidak perlu ketetapan atau undang-undang yang mengatur masalah memaafkan Gus Dur saat dijatuhkan dari kursi presiden. Karena Gus Dur tidak bersalah,” pungkasnya. [suf/ted]

Malang (beritajatim.com) - Ribuan cahaya obor itu menerangi bahana langit. Cahayanya yang terang, menusuk dinding malam. Dengan berbusana putih suci, nyala obor itu berharap tak akan pernah padam. Seperti semangat Gus Dur. Seperti petuah-petuahnya. Tetap membara dan abadi.Sekelumit syair itu tersirat dari ribuan Warga Ansor Kabupaten Malang yang menyalakan 1.300 obor. Bertempat di halaman Kantor PCNU Jalan Sumedang, Kepanjen, Kabupaten Malang, ribuan warga Nahdliyin, Ansor, serta lembaga sekolah Islam, tumpek blek mengenang 40 hari wafatnya mantan mendiang Presiden ke-4 KH Abdulrahman Wahid atau yang akrab di sapa Gus Dur itu, Minggu (07/02/10) malam.

“Gus Dur adalah guru bangsa. Jika harimau mati meninggalkan belangnya, Gus Dur banyak meninggalkan ajaran-ajarannya yang patut kita teladani bersama. Gus Dur adalah semangat dan panutan segala umat di tanah ini,” ucap Ketua PC Ansor Kabupaten Malang Umar Usman, usai ditemui selepas acara.Menurut Umar, penggagas acara seribu obor untuk Gus Dur itu, semangat dan petuah-petuah Gus Dur tak akan pernah padam meski diterpa badai dan tiupan angin. Seperti nyala obor, Gus Dur adalah panutan yang sikap dan ilmunya, bisa menerangi manusia disekelilingnya.“Dengan simbol api obor ini, kami berharap agar semangat Gus Dur soal kebebasan demokrasi, berbicara, beda pendapat dan segala tingkah lakunya, bisa menjadi sinar terang dihati kami. Sehingga, apa yang sudah diberikan mendiang Gus Dur pada bangsa ini, sejognya mampu dijadikan teladan semua kalangan,” terang Umar yang juga seorang dokter umum ini.

Setelah berkumpul, ribuan siswa-siswi dari berbagai Sekolah dan Lembaga Islam serta warga Nahdliyin, Ansor dan Banser Kabupaten Malang, menyalakan obor bersama-sama. Mereka berjajar rapi. Dengan diiringi lantunan Sholawat Nabi, pawai seribu obor pun akhirnya diberangkatkan hingga finish menuju Masjid Agung Baiturahhman, di jantung kota Kepanjen, Kabupaten Malang.Tak ayal, iring-iringan panjang pembawa obor pun mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat sekitar. Nyala api obor yang terlihat hingga radius satu kilo meter, seperti padang api di tengah pekatnya malam itu. Melalui rute Jalan Sumedang, Cepokomulyo, dan berakhir di Jalan Ahmad Yani, Kepanjen, pawai obor yang memakan jarak sekitar 1 kilometer itu, akhirnya finish di halaman Masjid Agung Baiturahhman, Kepanjen.

Sepanjang perjalanan, lantunan puji-pujian dan sholawat Nabi Muhammad SAW terus berkumandang. Usai memasuki halaman masjid, ribuan warga Nahdliyin, Banser, serta Ansor pun berkumpul. Mereka akhirnya bersama-sama melantunkan bacaan Surat Yasin diiringi Tahlil akbar bersama-sama didalam masjid. Hingga pukul 21.00 malam, ribuan warga yang masih memadati halaman masjid, menggelar Sholat Ghaib bersama untuk mendoakan mendiang Gus Dur. Selamat Jalan Gus. Semangatmu, tak akan pernah padam selamanya. (yog/eda)

Jombang (beritajatim.com) – Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfudz MD sudah hadir di pondok pesantren Tebuireng, Jombang untuk mengikuti tahlil 40 wafatnya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Kedatangan Mahfud langsung disambut oleh pengasuh ponpes Tebuireng, KH Salahudin Wahid alias Gus Solah.Disinggung tentang Gus Dur, ketua MK ini menilai Gus Dur sebagai sosok yang percaya diri dan sabar. Bahkan, saat diberhentikan sebagai presiden, Gus Dur tidak nampak bersedih. Sayangnya ketua MK kelahiran pulau garam Madura ini tidak banyak komentar, ketika dicecar sejumlah pertanyaan oleh wartawan.”Saya tidak mau jawab diluar acara ini,” katanya berulang-ulang.Kondisi terakhir persiapan acara, ribuan peziarah sudah memenuhi pondok Tebuireng. Untuk memfasilitasi peziarah, saat ini pengurus sudah memasang tujuh layar lebar. Empat layar dipasang di luar komplek pondok, dan tiga lagi dipasang di dalam pondok. [suf/wir]

ombang (beritajatim.com) - Membludaknya peziarah di makam KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, dimanfaatkan oleh PAC PKB Kecamatan Diwek, Jombang untuk membagikan air minum gratis. Tak ayal, air mineral 250 ml itu langsung diserbu para peziarah luar kota tersebut.Untuk memudahkan, PAC PKB Kecamatan Diwek membuat stand di pinggir Jalan Raya Kwaron. Puluhan kardus air mineral ditata berjajar di atas meja. Sejumlah pezirah yang kelelahan langsung mampir dan meminum air segar tersebut.

Eko Nugroho, salah satu pengurus PKB mengatakan, dibukanya stand air minum gratis merupakan uapaya yang dilakukan dalam rangka menghormati peziarah. Pasalnya, sebagian besar peziarah berasal dari luar kota. Sampai di Jombang, para peziarah itu sudah kelelahan.”Untuk meringankan beban para peziarah, mereka kita sediakan air minum gratis. Jika kelelahan itu hilang, maka peziarah lebih bisa konsentrasi dalam berziarah,” kata Eko yang juga pengurus Ansor ini.Gayungpun bersambut. Ribuan peziarah yang melewati stand PKB itu langsung mampir. Mereka mengambil air mineral untuk melepaskan dahaga. “Alhamdulillah dapat air minum gratis,” kata rombongan peziarah asal Pasuruan. [suf/eda]

Tahlilan dan Doa Bersama Mengenang Gus Dur

Di tengah hujan rintik yang tak mau reda, beberapa orang sudah siap di aula Student Center Jakarta pada Sabtu malam, (09/08). Mereka duduk di hamparan karpet. Seorang mahasiswi maju ke depan, mengambil mic lalu membuka acara bertajuk Tahlil dan Doa Bersama Mengenang KH Abdurrahman Wahid: Visi Kebangsaan Gus Dur. Setelahnya, tahlil digelar. Tidak semarak tapi khusyuk-peserta terlambat datang karena cucuran air langit yang kurang bersahabat malam itu.

Tahlil selesai, para narasumber yang berdatangan datang. Mereka berturut-turut adalah Putu WIjaya, Rm Tjahyadi Nugroho, pemuka Khong Hu Cu Bingki Irawan, Rumadi, Roostien Ilyas, Sonia, dan Imdadun Rahmat. Sayangnya Asvi Warman Adam berhalangan datang. “Saudara iparnya ada yang sakit keras,” jelas Abi, panitia, tentang intelektual yang sejarawan ini. Di sisi kiri dan kanan sudah mengapit moderator, Ahmad Makki dan Mansur al-Farisi. Berturut-turut mereka memberikan testimony di tengah hadirin yang terus menghambur, memenuhi hampir tiga perempat ruangan itu.

Roostin Ilyas mengagumi Gus Dur meskipun dalam sebuah perjumpaan yang singkat. Dalam kesempatannya menjadi pengurus PKB, meski hanya 6 bulan, ia merasakan kebesaran Gus Dur, terutama menghadapi hinaan dan cercaan. Waktu itu, sedang diadakan rapat pemenangan Pemilu. Di antara yang hadir dalam rapat tersebut adalah Fauzi Munir, dirinya sendiri, dan KH. Kholil Bisri (alm.), dan Gus Dur. Di tengah-tengah rapat, sebuah fax masuk. Lama sekali.

Setelah disambung-sambung, fax itu menunjukkan gambar yang mengejutkan. Di sana, ada kepala Gus Dur berkalung bendera Israel, dengan badan babi, dan di tubuh babi terdapat gambar Benny Moerdani, Megawati, dan Uskup Belo. Mereka bertiga kaget luar biasa. Tak mereka Cuma bisa kasak-kusuk supaya tidak kedengaran Gus Dur. Gus Dur memang tidak (mampu) melihat isi fax itu, tetapi Gus Dur tetap berhak diberitahu, karena gambar di fax itu menyangkut Gus Dur.

Fauzi Munir kemudian mengambil posisi itu, menjelaskan tentang fax itu langsung kepada Gus Dur. Dengan bahasa yang dibuat se-santun mungkin, Fauzi-seperti diceritakan Roostin-menjelaskan isi fax tersebut. Bukannya marah, Gus Dur malah tertawa. “Ya, badan saya memang gemuk, kalau digambarkan seperti cacing itu baru penghinaan,” jelas Gus Dur tanpa beban, seperti dikiutip Roostin. Babi memang haram menurut Islam, kata Gus Dur, tetapi hukum tidak berlaku dalam rimba raya politik.

Tentang kalung Israel, Gus Dur juga tak emosi, sebab sulit disangkal jika ia dekat dengan George Soros. Dan memang Gus Dur ingin menjalin hubungan diplomatic Israel, semata-mata agar bisa lebih aktif memediasi konflik abadi Palestina-Israel. Ketiga orang itu-Benny Moerdani adalah sekutu dekat Pak Harto, Megawati adalah anak Bung Karno, dan Uskup Belo adalah peraih Nobel yang turut serta dalam referendum di Timor Timur-juga tidak menimbulkan amarah Gus Dur; mereka memang teman buat Gus Dur. Tidak masalah digambarkan di sana.

Bukan itu saja reaksi Gus Dur yang membuat Roostin terpana. Fa x itu ternyata diminta oleh Gus Dur untuk dfotokopi lalu disebarluaskan. “Fax itu difotokopi anak Forkot lalu dibagi-bagi,” jelas Ketua Komisi Perlindungan Anak ini. Hadirin yang memadati aula Student Center pun tertawa.

Di akhir pembicaraannya, Roostin berharap semangat dan ajaran Gus Dur tentang penghormatan kepada golongan lain diteruskan.

Sonia, waria berjilbab, mengemukakan kekaguman yang sama dengan Gus Dur. Gus Dur pernah menjadi Dewan Pembina Waria. Bagi Gus Dur, sebagaimana dituturkan Sonia, waria adalah manusia yang berhak mendapat perlindungan di muka bumi ini dan di mata hukum. Ia manusia juga, sebagaimana halnya laki-laki dan perempuan. “Kalau al-Qur’an diturunkan sekarang, bukan hanya ada laki-laki dan perempuan, tapi juga ada waria,” demikian joke Gus Dur seperti ditirukan Sonia. Begitu besar rasa kagum itu, Sonia menyatakan Gus Dur tidak wafat. “Gus Dur selalu hidup dalam hati saya,” terangnya seperti terisak. Karena alasan inilah, ia tak pernah menyambangi kediaman Gus Dur, menemui Shinta Nuriyah atau sekedar berkirim pesan pendek kepada salah satu putrinya. Sonia seperti belum rela kehilangan idolanya itu.

Rumadi dari the WAHID Institute menyuguhkan sisi lain Gus Dur. Baginya, Gus Dur adalah orang yang membuat dirinya sebagai orang kampung, orang dusun, tidak modern memiliki kebanggaan karena identitasnya yang NU. Ketokohan Gus Dur, yang menjangkau seluruh kalangan dan juga dunia internasional, menghilangkan citra-citra miring kaum tradisionalis. Dari bibit yang disemai Gus Dur itu kini lahir para pemikir muda Islam yang progresif, sesuatu yang membuat seorang tokoh dari ormas Islam modern seperti setengah menyesal karena tidak masuk NU. “Dan karena itu kategori tradisional-modern perlu dikiritisi, tidak bisa seperti  yang dikemukakan Deliar Noer dulu,” jelas Rumadi menirukan Azyumardi Azra. Deliar Noer (w. 2008) di tahun 1990 pernah membuat buku bertajuk “Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942″ yang diterbitkan oleh LP3ES yang menjadi rujukan klasik-klasik politik Islam di Indonesia. Term modern di buku ini tentu saja tidak mengacu kepada golongan tradisional NU.

Rumadi juga menceritakan pengalamannya di Jombang mengantar kepergian guru bangsa itu. Di sepanjang jalan, sejak dari bandara, tak putus orang berdiri di tepi jalan melambai menghormati mobil yang mengangkut jenazah Gus Dur. Beberapa yang membawa mobil pun menyempatkan diri keluar untuk memberi penghormatan kepada almarhum. Antrian penghormatan itu makin parah memasuki kawasan Pesantren Tebuireng. Penghormatan itu membuatnya menarik kesimpulan; bahwa Gus Dur adalah orang baik. “Saya teringat kata orang tua dulu, bahwa baik tidaknya orang dapat dilihat waktu dia meninggal,” jelas Koordinator Program the WAHID Institute. Ketika banyak orang bersedih dengan kematian seseorang, maka mereka berbondong-bondong datang memberikan penghormatan, itulah orang yang baik. Sebaliknya dengan orang yang tidak baik. Rumadi meyakini bahwa ekspresi Gus Dur juga merupakan cara beragama yang benar. Bahwa, dengan berIslam justru membuat orang yang beragama lain terlindungi dan saling menghormati. Inilah yang mesti diteruskan orang-orang sepeninggal Gus Dur.

Selain itu, dosen fakultas Syari’ah UIN Jakarta ini mengajak para hadirin untuk bersyukur. “Kita bersyukur satu zaman dengan orang seperti Gus Dur  yang belum tentu ada seratus tahun lagi,” tandasnya. Toh, begitu bukan berarti kita harus mencari pengganti Gus Dur karena Gus Dur tak akan tergantikan dan tidak akan ada tiruan Gus Dur di dunia ini.

Anak ideologis Gus Dur lain yang turut memberikan testimony adalah Imdadun Rahmat. Mantan aktivis Lakpesdam NU ini mengaku bimbang ketika masih berkuliah di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab). Di masa perkuliahannya, dia diperintahkan dosennya agar tidak mematuhi kyai dan pemerintagh Indoesia-maklum saja, lembaga pendidikan ini didanai oleh pemerintahan Arab Saudi yang Wahabi. “Jangan percaya kyai-kyai sebab mereka ahli bid’ah dan jangan percaya pemerintahan Indonesia, sebab Indonesia negara kafir,” rincinya menirukan sang dosen. Yang merupakan negara kafir Tapi ia menemukan pencerahan ketika tulisan tentang ke-Islam-an dan kebangsaan. Tulisan Gus Dur itulah yang menginspirasinya untuk menjadi pejuang pluralisme sekarang ini.

Seniman besar, Putu Wijaya, turut serta memberikan testimoni. Putu amat berkesan melihat antusiasme masyarakat ke Ciganjur untuk memberikan penghormatan terakhir kepada presiden RI keempat itu. “Mereka berpakaian bersih, seperti hendak menemui raja,” katanya. Selain itu, untuk pertama kalinya, ia menemui polisi yang ramah-padahal mereka biasanya garang, menilang sepeda motor. Wajah mereka ramah mengatur orang dan kendaraan yang hilir mudik menuju rumah duka.

Antuasiasme masyarakat, menurut Putu, menunjukkan bahwa Gus Dur adalah sosok istimewa; ia bukan orang biasa. ia adalah pemimpin besar, yang berbeda dari pemimpin biasa. Pemimpin lazimnya mampu menggerakkan emosional massa ketika masih hidup. Tapi Gus Dur, sepeninggalnya, justru mengunggah semangat banyak orang untuk berubah, untuk meneladani ajaran-ajarannya. Sayangnya, orang terlambat menyadari kebesaran Gus Dur. Gus Dur dianggap besar setelah ia tak lagi bernyawa.

Dari ajaran Gus Dur ia terkesan dengan pembedaan Gus Dur akan persatuan dan kesatuan. Yang diperlukan adalah kesatuan. “Persatuan dilakukan dengan paksa, termasuk dengan menggunakan kekerasan,” jelasnya menirukan Gus Dur. Persatuan bahkan menghilangkan perbedaan yang menjadi cirri khas masing-masing golongan. Kesatuan membiarkan perbedaan tetap ada dalam satu wadah tempat berhimpun.

Wahyu Muryadi menceritakan pengalamannya selama bertugas sebagai Kepala Protokoler Istana ketika Gus Dur menjabat presiden. Pemuka Khonghucu, yang merupakan pengurus Matakin, menceritakan pengalamannya ketika diajak mengunjungi pesantren. Rm. Tjahjadi, yang cukup sering menemani Gus Dur, berkisah tentang janjinya yang tak terpenuhi kepada almarhum. Ia diminta segera pulang dari Salatiga, Tjahjadi tak menurut, dan kini ia hanya dapat menemui peraduan Gus Dur yang terakhir.Acara yang diselenggarakan oleh Lisan (Lingkar Studi untuk Negeri)-gabungan dari beberepa forum studi Mahakam, IPS, Forum Studi Makar, Piramida Circle, Forum Kopi, Logos, Senjakala, elkis Sawangan, el Kaffi, dan Sensazi-bekerja sama dengan BEMJ PPI (Pemikiran Politik Islam) dan BEMF Ekonomi ini juga dimeriahkan dengan penampilan elkis Sawangan menembangkan lagu yang diciptakan Mansur al-Farisi khusus untuk mengenang Gus Dur: “Bertarung dengan Waktu”. Selamat jalan, Gus. Ajaranmu akan kami teruskan (NN).

URABAYA(POs Kota)-Menjelang digelarnya peringatan 40 hari meninggalnya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Tebuireng, ratusan kendaraan dari luar kota mulai menyerbu kota Jombang. Rombongan yang akan mengikuti pembacaan Yasin dan Tahlil ini datang menggunakan bus serta mobil pribadi.Kedatangan rombongan itu mulai ramai selepas maghrib semalam. Jalan protokol di kota Jombang tidak seperti biasanya. Setiap lima menit selalu lewat bus rombongan dari luar kota yang akan menuju pondok pesantren Tebuireng.Selain bus, rombongan yang menggunakan mobil pribadi juga tidak kalah ramainya. Praktis, kepadatan lalu lintas di kota santri meningkat tajam.

“Rata-rata kendaraan yang lewat itu berasal dari luar kota. Semisal, Probolinggo, Jember, Madura, Blitar, Semarang, Yogyakarta, Pekalongan, dan sejumlah daerah lainnya. Bahkan ada yang berasal dari luar pulau, seperti Palembang dan Nusa Tenggara Barat (NTB),” kata Khamim, petugas dari Dinas Perhubungan yang berjaga di jalur masuk kota, Sabtu (6/2).

Kondisi itu dibenarkan juga oleh Mahmudi, salah satu pengurus ponpes Tebuireng. Menurutnya, rombongan yang akan mengikuti peringatan 40 hari Gus Dur mulai berdatangan sejak semalamBerapa jumlahnya? ia tak menyebut angka pasti.. Santri asal Tembilahan, Riau ini hanya mengatakan bahwasannya sudah ada 200 bus yang datang ke Tebuireng.Ratusan rombongan itu berasal dari luar kota dan luar pulau. “Yang pasti pada acara puncaknya nanti, kita memperkirakan jumlah pengunjung diatas 30 ribu,” kata pria yang mulai nyantri di Tebuireng tahun 1997 ini.Selain di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, peringatan 40 hari meninggalnya s Gus Dur juga dilakukan di dua tempat lainnya yakni, Ponpes Denanyar, Jombang dan Ponpes Ciganjur, Jakarta. Dua tempat itu merupakan bagian dari keluarga besar Gus Dur.Pengasuh ponpes Tebuireng Jombang, KH Salahudin Wahid alias Gus Solah, mengatakan, jumlah pengunjung 40 hari Gus Dur diperkirakan 30 ribu lebih. Untuk memudahkan pengunjung mengikuti tahlil, di area pondok akan disediakan layar lebar sekitar 11 buah.“Peringatan 40 hari meninggalnya Gus Dur dilaksanakan pada Minggu malam atau 7 Februari,” kata adik kandung Gus Dur ini.

Siapa saja tokoh yang akan hadir? Menurut Gus Solah, salah satu tokoh yang akan hadir dalam tahlilan itu adalah Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).Namun, kata Gus Solah, tidak menutup kemungkinan beberapa tokoh lain juga hadir. Karena acara peringatan 40 hari Gus Dur terbuka untuk umum.“Yang sudah pasti datang adalah Pak Mahfud MD. Karena beliau sudah menghubungi saya dan memastikan untuk datang ke acara tersebut,” pungkas Gus Solah.(nurqomar/B)

VIVAnews — Sedikitnya 15 orang tunanetra yang tergabung dalam ‘Pasti’ atau Persatuan Antar Seniman Tunanetra Indonesia terlihat dengan hikmat mengikuti acara 40 hari meninggalnya mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ciganjur, Jakarta Selatan, Minggu, 7 Februari 2010.Mereka mengaku datang atas inisiatif sendiri tanpa diundang dan pemberitahuan. “Saya menghitung sendiri waktunya, mulai dari almarhum meninggal,” kata Ade Komarudin kordinator ‘PAsti’ kepada VIVAnews.Meski belum pernah bertemu langsung semasa hidup dengan Gus Dur, tetapi suaranya sering didengar saat menjabat sebagai presiden. “Kalau dulu saya denger suaranya saja tanpa pernah bertemu,” ujarnya.

Meski demikian, 15 para tunanetra ini melihat sosok almarhum sebagai orang yang penuh dengan kebanggaan, penuh simpatik dan kharisma. Bahkan hingga kini foto Gus Dur masih terpampang di salah satu sudut ruangan tidur Ade Komarudin di Sukabumi.
Selain dihadiri oleh 15 tunanetra, acara juga dihadir sejumlah pemuka agama di Indonesia seperti Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.Kegiatan 40 hari meninggalnya mantan Presiden RI ke empat ini juga berlangsung di pesantren Tebuireng, Jombang Jawa Timur dan dihadiri ribuan orang.

Kamis, 04 Februari 2010 | 15:55 WIB

TEMPO Interaktif, Jombang – Jelang peringatan 40 hari wafatnya mendiang mantan presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pengurus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur sudah memboking tiga lokasi parkir di sekitar kawasan pondok. Tiga lokasi itu adalah: lapangan koramil Kecamatan Diwek, lapangan masjid Ulul Albab, dan lapangan parkir Pabrik Gula (PG) Kecamatan Cukir.

“Persiapan area parkir itu untuk menghindari penumpukan kendaraan para peziarah,” kata ketua Pengurus Pondok Pesantren Tebuireng, Lukman Hakim, Kamis (04/02).Pengurus pondok memprediksi, jumlah peziarah yang datang ke komplek makam mencapai ribuan. Jumlahnya juga diprediksi melebihi jumlah peziarah pada tahlil akbar peringatan tujuh hari paska meninggalnya mendiang presiden ke empat ini. Saat itu, masyarakat lintas daerah memenuhi pondok. Selain itu, santri dan alumni pondok juga tumplek di Tebuireng.

Dijelaskan, dalam peringatan 40 hari akan digelar pada hari Minggu, 7 Februari 2010 nanti dengan menggelar tahlil akbar. Tahlil akan digelar di tiga lokasi, yakni di rumah kediaman almarhum, jalan Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan, di pondok Tebuireng, Jombang, dan kediaman almarhum di pondok Denanyar, Jombang.Sebelumnya, pengasuh ponpes Tebuireng, Salahudin Wahid alis Gus Solah sempat mengatakan, bahwa prosesi peringatan 40 hari meninggalnya Gus Dur digelar seperti peringatan tujuh hari sebelumnya. Koordinasi dengan kepolisian dan banser tetap dilakukan. Mengingat jumlah pengunjung yang diprediksi membludak, pondok juga akan konsentrasi pada upaya pengamanan.”Persiapan pastinya masih dibahas,” kata dia.Eko Nugroho, aktifis Anshor kecamatan Diwek, Jombang mengungkapkan, Anshor akan menggelar seminar bedah pemikiran Gus Dur sebagai rentetan prosesi upacara peringatan 40 harinya. Seminar digelar satu hari jelang peringatan, yakni hari Sabtu pagi. Anshor menghadirkan Kacung Marijan sebagai pemateri. Ia melanjutkan, sekitar 500 undangan, di antaranya anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mahasiswa, tokoh Nahdhatul Ulama (NU) dan para aktifis juga dilibatkan. ”Semua elemen masyarakat kami undang,” terangnya.

Sumber : Seputar Jatim.com

KH Abdur Rahman Wahid Catatan dari Berbagai Media

Posted in Uncategorized on February 8, 2010 by bedjonugroho

Biografi Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Latar Belakang Keluarga Abdurrahman “Addakhil”, demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”, sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata “Addakhil” tidak cukup dikenal dan diganti nama “Wahid”, Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati “abang” atau “mas”. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia. Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid.

Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya. Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya. Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya. Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia. Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur.

Perkawinannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir. Pengalaman Pendidikan Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur’an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur’an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gu Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik. Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan/ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP.

Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma’shum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya. Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul ‘The Story of Civilazation’. Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatan kemampuan bahasa Ingrisnya sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice of America dan BBC London. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin ‘What is To Be Done’ . Pada saat yang sama, anak yang memasuki masuki masa remaja ini telah mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato,Thales, dan sebagainya.

Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur. Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo. Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki. Terdapat kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi era keemasan kaum intelektual. Kebebasan untuk mengeluarkkan pendapat mendapat perlindungan yang cukup. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di Irak ia masuk dalam Departement of Religion di Universitas Bagdad samapi tahun 1970. Selama di Baghdad Gus Dur mempunyai pengalaman hidup yang berbeda dengan di Mesir. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas. Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur pada saat itu. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh. Selepas belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud melanjutkan studinya ke Eropa. Akan tetapi persyaratan yang ketat, utamanya dalam bahasa-misalnya untuk masuk dalam kajian klasik di Kohln, harus menguasai bahasa Hebraw, Yunani atau Latin dengan baik di samping bahasa Jerman-tidak dapat dipenuhinya, akhirnya yang dilakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi pelajar keliling, dari satu universitas ke universitas lainnya. Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker.

Gus Dur juga sempat pergi ke McGill University di Kanada untuk mempelajari kajian-lkajian keislaman secara mendalam. Namun, akhirnya ia kembali ke Indoneisa setelah terilhami berita-berita yang menarik sekitar perkembangan dunia pesantren. Perjalanan keliling studi Gus Dur berakhir pada tahun 1971, ketika ia kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang sekaligus sebagai perjalanan awal kariernya. Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik. Perjalanan Karir Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Sehingga tidak heran jika tulisan-tulisannya jarang menggunakan foot note. Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES. Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin.

Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap ‘menyimpang’-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987. Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya.

Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid. Catatan perjalanan karier Gus Dur yang patut dituangkan dalam pembahasan ini adalah menjadi ketua Forum Demokrasi untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non muslim. Anehnya lagi, Gus Dur menolak masuk dalam organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Tidak hanya menolak bahkan menuduh organisai kaum ‘elit Islam’ tersebut dengan organisasi sektarian. Dari paparan tersebut di atas memberikan gambaran betapa kompleks dan rumitnya perjalanan Gus Dur dalam meniti kehidupannya, bertemu dengan berbagai macam orang yang hidup dengan latar belakang ideologi, budaya, kepentingan, strata sosial dan pemikiran yang berbeda. Dari segi pemahaman keagamaan dan ideologi, Gus Dur melintasi jalan hidup yang lebih kompleks, mulai dari yang tradisional, ideologis, fundamentalis, sampai moderrnis dan sekuler. Dari segi kultural, Gus Dur mengalami hidup di tengah budaya Timur yang santun, tertutup, penuh basa-basi, sampai denga budaya Barat yang terbuka, modern dan liberal. Demikian juga persentuhannya dengan para pemikir, mulai dari yang konservatif, ortodoks sampai yang liberal dan radikal semua dialami.

Pemikiran Gus Dur mengenai agama diperoleh dari dunia pesantren. Lembaga inilah yang membentuk karakter keagamaan yang penuh etik, formal, dan struktural. Sementara pengembaraannya ke Timur Tengah telah mempertemukan Gus Dur dengan berbagai corak pemikirann Agama, dari yang konservatif, simbolik-fundamentalis sampai yang liberal-radikal. Dalam bidang kemanusiaan, pikiran-pikiran Gus Dur banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat dengan filsafat humanismenya. Secara rasa maupun praktek prilaku yang humanis, pengaruh para kyai yang mendidik dan membimbingnya mempunyai andil besar dalam membentuk pemikiran Gus Dur. Kisah tentang Kyai Fatah dari Tambak Beras, KH. Ali Ma’shum dari Krapyak dan Kyai Chudhori dari Tegalrejo telah membuat pribadi Gus Dur menjadi orang yang sangat peka pada sentuhan-sentuhan kemanusiaan. Dari segi kultural, Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia pesantren yang sangat hierarkis, tertutup, dan penuh dengan etika yang serba formal; kedua, dunia Timur yang terbuka dan keras; dan ketiga, budaya Barat yang liberal, rasioal dan sekuler. Kesemuanya tampak masuk dalam pribadi dan membetuk sinergi.

Hampir tidak ada yang secara dominan berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur. Sampai sekarang masing-masing melakukan dialog dalam diri Gus Dur. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan suliit dipahami. Kebebasannya dalam berpikir dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas tradisionalisme yang dipegangi komunitasnya sendiri.

Penghargaan

• Tokoh 1990, Majalah Editor, tahun 1990• Ramon Magsaysay Award for Community Leadership, Ramon Magsaysay Award Foundation, Philipina, tahun 1991 • Islamic Missionary Award from the Government of Egypt, tahun 1991 • Penghargaan Bina Ekatama, PKBI, tahun 1994 • Man Of The Year 1998, Majalah berita independent (REM), tahun 1998 • Honorary Degree in Public Administration and Policy Issues from the University of Twente, tahun 2000 • Gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, tahun 2000 • Doctor Honoris Causa dalam bidang Philosophy In Law dari Universitas Thammasat Thaprachan Bangkok, Thailand, Mei 2000 • Doctor Honoris Causa dari Universitas Paris I (Panthéon-Sorbonne) pada bidang ilmu hukum dan politik, ilmu ekonomi dan manajemen, dan ilmu humaniora, tahun 2000 • Penghargaan Kepemimpinan Global (The Global Leadership Award) dari Columbia University, September 2000 • Doctor Honoris Causa dari Asian Institute of Technology, Thailand, tahun 2000 • Ambassador for Peace, salah satu badan PBB, tahun 2001 • Doctor Honoris Causa dari Universitas Sokka, Jepang, tahun 2002 • Doctor Honoris Causa bidang hukum dari Konkuk University, Seoul Korea Selatan, 21 Maret 2003. • Medals of Valor, sebuah penghargaan bagi personal yang gigih memperjuangkan pluralisme dan multikulturalisme, diberikan oleh Simon Wieshenthal Center (yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM dan toleransi antarumat beragama), New York, 5 Maret 2009. • Penghargaan nama Abdurrahman Wahid sebagai salah satu jurusan studi Agama di Temple University, Philadelphi, 5 Maret 2009. • Dan penghargaan-penghargaan lainnya… Lucunya Gus Dur Apr 17, ‘06 3:05 PM for everyone

assalaamu’alaikum wr. wb.

Seorang penulis pernah bilang bahwa Gus Dur ini memang tidak tanggung-tanggung kontroversialnya. Di satu sisi ia mengedepankan sekularisme, tapi di sisi lain ia habis-habisan menunggangi simbol-simbol keagamaan seperti pesantren, ke-kyai-annya, atau ke-Gus-annya. Di sana-sini ia berteriak agar jangan terlalu mengeksploitasi hukum Islam dalam kehidupan berbangsa yang pluralis, namun ketika ada yang hendak melengserkannya dari kursi kepresidenan, tiba-tiba muncul istilah “fiqih dalam menghadapi makar terhadap pemimpin umat”. Tiba-tiba saja ayat-ayat Al-Qur’an digunakan untuk mengecam orang-orang yang hendak menjatuhkan dirinya. Tapi itulah politik. • Belum lama ini, situs resmi Jaringan Islam Liberal (JIL) memuat sebuah wawancara yang dilakukan oleh M. Guntur Romli dan Alif Nurlambang terhadap mantan orang nomor satu di Indonesia itu. Pembicaraan seputar RUU APP yang memicu banyak perdebatan itu. Di dalamnya, lagi-lagi, muncul begitu banyak ‘kelucuan’ yang sebenarnya sudah menjadi ciri khas seorang Abdurrahman Wahid. • Ketika dimintai komentar tentang Perda Tangerang yang melarang habis pelacuran, Gus Dur melihatnya dari ’sisi lain’. Menurutnya, membuat aturan yang melarang pelacuran bukanlah prioritas utama. Di baliknya, masih ada persoalan ekonomi. Dengan kata lain, jika tidak ada peningkatan taraf kehidupan, maka pelacuran tidak akan bisa dihapuskan.

Barangkali Gus Dur lupa bahwa pelacuran senantiasa ada meskipun di lingkungan orang-orang kaya. Memang gayanya beda, dan pelacur jenis ini tidak mejeng di pinggir jalan, melainkan menunggu telpon di rumah masing-masing. Bayarannya bukan dalam hitungan ratusan ribu rupiah, jutaan rupiah pun ada. Para pelacur ini juga bukan orang miskin, namun kaum perempuan hiperseks yang mau saja dijadikan komoditas bisnis dengan harga yang sangat tinggi. Tidak ada bukti bahwa pelacuran bisa dihapuskan ketika ekonomi rakyat membaik. • Berikutnya, pewawancara meminta pendapat sang Gus tentang kesan ‘arabisasi’ dalam pelaksanaan RUU APP dan sejumlah perda syariat. Gus Dur membenarkan kesan tersebut dan tidak lupa mempertanyakan sikap ‘arabisasi’ tersebut. • Pertanyaan usang soal ‘arabisasi’ ini sebenarnya sudah dijawab dengan sangat jitu oleh Mas Jonru, namun biarlah saya mengulangnya sedikit (dengan redaksi saya sendiri). Anggaplah kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh menerima budaya lain yang akan mencemari kepribadian bangsa kita. Lalu apa sebenarnya yang selama ini terjadi di negeri ini pada era globalisasi? Kalau kita protes pada ‘arabisasi’, mengapa Gus Dur tidak pernah terdengar memprotes ‘westernisasi’, bahkan cenderung mendukungnya? Apakah orang Barat lebih baik daripada Arab? • Tapi itu semua berasal dari sebuah asumsi bahwa RUU APP memang benar-benar sebuah proyek ‘arabisasi’. Padahal tidak demikian. Memang tidak ada perlunya mencontoh negara-negara Arab, karena mereka sendiri tidak melaksanakan ajaran Islam dengan benar. Negara manakah yang menjalankan ajaran Islam dengan sepenuhnya? Apakah negara kerajaan bisa dianggap telah meneladani kekhalifahan? Jelas tidak! Lagipula RUU APP tidak dibuat berdasarkan standar Islam. Tidak ada kewajiban menggunakan jilbab bagi perempuan di RUU tersebut. Tidak usah sampai begitu. Sesopan Siti Nurhaliza pun sudah cukup, kok! Karena itu, perlu dipertanyakan RUU manakah yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh Gus Dur ini? • Untuk melengkapi keanehan itu, Gus Dur kemudian memberikan sebuah ‘contoh kasus’. Beginilah katanya : “Semua orang tahu bahwa pesantren itu lembaga Islam, tapi kata pesantren itu sendiri bukan dari Arab kan? Ia berasal dari bahasa Pali, bahasa Tripitaka, dari kitab agama Buddha.” • Sepertinya Gus Dur gagal membedakan antara pesantren dengan istilah pesantren itu sendiri. Pesantren memang sebuah lembaga Islam, tapi istilahnya tidak berasal dari ajaran Islam. Pesantren itu sendiri sebenarnya tidak berbeda dengan sebuah sekolah, hanya saja sangat kental diwarnai dengan pengajaran agama Islam. Mengenai istilah yang digunakan untuk melambangkan sekolah yang bernuansa Islami itu sendiri bebas menggunakan bahasa apa pun. Orang Nepal menggunakan bahasa Nepal, orang Meksiko menggunakan bahasanya sendiri, dan orang Brasil tidak mesti menggunakan bahasa Perancis. Kalau orang Indonesia menggunakan bahasa nenek moyangnya dahulu, apa salahnya? Toh penamaan itu tidak mempengaruhi isi ajarannya. • Entah kelepasan atau tidak, Gus Dur kemudian bahkan menegaskan bahwa kita tidak bisa menerapkan syariat Islam jika bertentangan dengan UUD 45. Pertanyaannya, apakah agamanya : Islam atau Indonesia? Siapakah Rasul yang ditaatinya : Muhammad saw. atau para penyusun UUD 45 itu? Mengapa seorang Gus bisa memberi harga yang demikian rendah terhadap agamanya sendiri? Entahlah.

Berikutnya, sang narasumber menegaskan bahwa standar moralitas berubah dari waktu ke waktu dan bisa juga berlainan di masing-masing tempat. Menurutnya, apa yang dianggap tidak senonoh di masa lalu bisa jadi wajar di masa sekarang. Selain itu, apa yang dianggap cabul di suatu tempat bisa jadi hanyalah sebuah tradisi yang wajar bagi yang lainnya. • Pertanyaannya sekarang : jujurkah mereka yang mengatakan bahwa standar moralitas itu telah berubah? Pertama, apa betul mereka tidak merasa terangsang sedikit pun melihat pengumbaran aurat di tempat-tempat umum di masa sekarang ini? Hanya sekedar kata-kata dari lidah tidak bisa menjamin apa-apa. Siapa pun bisa berbohong dengan mengatakan dirinya tidak terangsang agar kaum perempuan tidak ragu lagi untuk menambah rangsangan itu. Seharusnya kita menggunakan lie detector. • Kedua, apa betul standar moralitas berubah? Pornoaksi sudah ada sejak dahulu kala, tidak ada yang berubah. Tari-tari erotis sudah ada sejak dahulu kala. Pelacuran sudah ada sejak jaman para Nabi, dan homoseksualitas juga sudah ada, paling tidak sejak jaman Nabi Luth as. Dan sejak dahulu pula, semua hal tersebut sudah merongrong kehidupan manusia. Jadi, kata siapa standar moralitas telah berubah? • Ketika bicara tentang sastra Islam, lagi-lagi Gus Dur gagal membedakan antara ’sastra Islami’ dengan ’sastra yang dibuat oleh sastrawan yang beragama Islam’. Ia menceritakan sebuah novel karangan Naguib Mahfouz yang bercerita tentang pergulatan batin seorang pelacur. Menurut Gus Dur, sastra itu jelas tidak bisa dianggap sebagai sastra non-Islam karena jelas-jelas penulisnya adalah Muslim. Sudah jelas dimana kekeliruannya, bukan? • ‘Kenakalan’ Gus Dur yang paling parah adalah ketika ia menyebut Al-Qur’an sebagai kitab yang paling porno. Begini cetusnya : “Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini.

Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha…”

• Pertama, masalah menyusui anak bukanlah perkara cabul. Kalau Al-Qur’an tidak memotivasi kaum ibu untuk menyusui anaknya hingga waktu yang optimal, barangkali generasi muda umat Islam akan berkembang dengan tidak cukup baik. Apakah perkara menyusui anak harus diabaikan lantaran berkaitan dengan organ payudara? Kasihan sekali anak-anak, jika memang demikian. Untung Al-Qur’an tidak ditulis oleh Gus Dur.

• Kedua, sebenarnya Gus Dur sendiri yang menyusahkan dirinya dengan definisi cabul yang terlalu jauh. Tidak ada yang mengatakan bahwa seorang ibu yang menyusui anaknya itu telah berbuat cabul. RUU APP pun jelas tidak melarang ibu mana pun untuk menyusui anaknya. Bahkan hanya orang gila yang akan melarang peristiwa alamiah yang amat bermanfaat bagi bayi, baik dari segi medis maupun psikis tersebut.

• Ketiga, apa yang Gus Dur maksud dengan Injil? Apakah ia pernah melihat Injil yang masih asli? Umat Islam pasti beriman pada Injil, hanya saja kita tidak pernah lagi menemukan Injil yang asli. Injil yang benar pasti sejalan dengan Al-Qur’an. Kalau yang dimaksud adalah Bibel (Kitab Suci yang digunakan oleh umat Kristiani sekarang), maka kita tidak boleh menyebutnya sebagai Injil, karena Al-Qur’an dan Al-Hadits telah menegaskan bahwa umat Nasrani telah mengubah-ubah Injil menurut kehendaknya sendiri.

• Keempat, anggaplah kita menerima istilah ‘Injil’ untuk Kitab Suci umat Kristiani jaman sekarang. Apakah di sana tidak ada ayat-ayat yang berbau cabul? Saya rasa Gus Dur harus diperkenalkan pada sebuah masterpiece karya seorang ulama besar yang bernama Ahmad Deedat (semoga Allah SWT ridha kepadanya). Cukuplah buku The Choice sebagai referensi atas ‘keanehan-keanehan’ (termasuk ayat-ayat porno) di dalam ‘Injil’ tersebut. • Berikutnya, Gus Dur mengulang sebuah pernyataan klise tentang ‘dipojokkannya’ kaum perempuan dalam masalah moralitas bangsa. Menurutnya, perempuan tidak perlu ‘dipersalahkan’ dan ‘dituduh’ sebagai oknum yang menyebabkan munculnya rangsangan bagi kaum laki-laki. Laki-lakilah yang salah karena seringkali menganggap perempuan sebagai objek seksual.

Gus Dur lupa bahwa standar aurat untuk lelaki dan perempuan itu berbeda. Kalau kita menggunakan standar itu, maka jelaslah bahwa populasi laki-laki dewasa yang menutup aurat lebih banyak daripada populasi perempuan yang menutup aurat. Kalau Gus Dur tidak merasa terangsang, baguslah! Tapi tidak semua orang seperti itu. Aturan menutup aurat diberlakukan untuk menjaga ketertiban, bukan mendiskreditkan perempuan. • Lalu muncullah sebuah klise yang lain : Tuhan tidak perlu dibela! Benar sekali, Tuhan tidak butuh dibela, bahkan Dia tidak membutuhkan apa-apa dari siapa pun. Seluruh umat manusia kafir atau beriman tidak akan memberikan untung atau rugi pada-Nya. Itulah kenyataanya. Akan tetapi, manusialah yang perlu melakukan ‘pembelaan’ itu. Kalau kita diam saja ketika Tuhan dihina, maka kita harus khawatir di akhirat nanti kita dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang komitmennya terhadap agama lemah. • Gus Dur juga menganggap bahwa inti ajaran kejawen itu sama dengan Islam. Pernyataan ini tidak ilmiah karena tidak mengandung bukti apa pun. Lagi pula, kesamaan inti ajaran saja belum bisa memenuhi syarat di hadapan Allah. Kalau Allah telah menetapkan syariat yang diridhai-Nya, lalu bagaimana? Apakah kita masih merasa bebas menjalankan agama dengan selera kita masing-masing? Apakah ketetapan Allah bisa diubah dengan kesepakatan manusia? Betapa lemahnya Allah di mata Anda, Gus! • Melihat betapa lucunya tokoh yang satu ini, kita bisa meramalkan bahwa JIL masih akan menjadikannya sebagai narasumber di masa depan. Sebagaimana Gus Dur, JIL pun penuh dengan dagelan. Karena itu, tidak usah ditanggapi dengan terlalu serius. Santai dan tertawa sajalah. Tapi jangan lupa di-counter ya… • wassalaamu’alaikum wr. wb. SBY Pikirkan Gelar untuk Gus Dur dan Soeharto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mempertimbangkan keinginan berbagai pihak soal pemberian gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur dan Soeharto.

Pascawafatnya Gus Dur, banyak pihak yang mengusulkan agar Presiden RI ke-4 itu diberi gelar pahlawan nasional. Bersamaan dengan usulan untuk Gus Dur, mencuat pula usulan gelar pahlawan nasional untuk Presidea RI ke-2 Soeharto. “Semua akan presiden pertimbangkan dengan merujuk UU 20/2009 soal gelar tanda jasa dan kehormatan. Ini kesepakatan pemerintah dengan DPR,” kata Jubir Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, Minggu (3/1).Berdasar aturan dalam produk hukum tersebut, pemberian gelar tanda jasa dan kehormatan tidaklah instan. Dalam Pasal 16 UU 20/2009, dengan „ tegas djnyatakaji terlebih dahu-tuperlu dibentuk IH-\v;in Gelar JSanda Jasa daa Kehormatan yang bertugas inemberi rekomendasi kepada Kepala Negara mengenai gelar paling tepat berdasar pada prestasi dan kualifikasi tokoh yang hendak diberi gelar. “Anggotanya ada tujuh orang. Akademisi 2 orang, 2 dari militer atau berlatar belakang militer, dan 3 lagi adalah tokoh yang mempunyai gelar setara, serta relevan dengan gelar yang hendak diberikan,” tutur Julian.Presiden bisa menunjuk siapa saja yang akan duduk dalam dewan itu. Julian mengaku belum mendengar rencana pembentukan dewan itu, baik bagi Gus Dur maupun Soeharto dalam waktu dekat. “Saya tidak tahu kok tiba-tiba kesannya Senin besok (hari ini-red.) Kepala Negara sudah akan memutuskan soal gelar itu,” ujarnya.Sementara itu, keinginan agar Soeharto diberi gelar pahlawan digulirkan Ketua Fraksi Partai Golkar (PG) di DPR Setya Novanto. Menurutnya, PG siap mendukung Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Namun, PG juga ingin agar Soeharto mendapat gelar serupa. “Pak Harto harus jadi pahlawan. Pak Harto sudah berbuat untuk rakyat,” ujarnya. (Otc)*” Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima dan menyerahkan usulan pemberian gelar pahlawan nasional bagi Presiden Ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke mekanisme yang berlaku.

Demikian diungkapkan Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (4/1). “Dalam hal ini, tentu saja ketentuan yang ada dalam UU No. 20/2009 yang mengatur pemberian gelar dan tanda jasa, tinggal nanti dilihat bagaimana proses selanjutnya dari usulan-usulan yang masuk,” ujar Julian.Julian mengatakan,.Presiden Yudhoyono telahmengetahui masukan dari berbagai kalangan, tokoh masyarakat, juga dari parpol yang menginginkan pemberian gelar kehormatan kepada Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Pemerintah harus membentuk dahulu Dewan Tanda-tanda Kehormatan yang bertugas memberikan pertimbangan atau masukan bagi Presiden tentang usulan dari nama-nama tersebut. Menurut dia, komponen yang bisa memberikan pertimbangan terdiri atas tiga unsur, yaitu akademisi dua orang, unsur militer atau yang mewakili dua orang, dan sisanya dari tokoh masyarakat. Julian memaparkan bahwa tokoh masyarakat yang dimaksud adalah yang pernah mendapatkan gelar kehormatan.”Jadi, berdasarkan pertimbangan dari Dewan Tanda-tanda Kehormatan Gelar, Presiden bisa memberikan keputusan apakah yang bersangkutan diberikan gelar pahlawan atau tidak. Tim atau dewan tersebut belum dibentuk pada saat ini,” katanya. Julian menyebutkan, usulan untuk menjadikan Presiden ke-2 RI Soeharto sebagai pahlawan juga akan dipertimbangkan oleh tim tersebut. Saat ditanya tentang kemungkinan Gus Dur akan memperoleh gelar pahlawan nasional pada Hari Pahlawan 2010, Julian menjawab hal itu bisa saja terjadi. Tidak tertutup kemungkinan kalau berbicara kemungkinan. Akan tetapi, yang pasti lazimnya pemberian gelar pada saat momen hari-hari besar. Jadi, tidak serta-merta Presiden memberikan gelar kepada seseorang tidak dalam konteks hari-hari besar,” katanya. PKB resmi ajukan Gus Dur Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Senin (4/1), seeara resmi mengajukan surat kepada pimpinan DPR mengenai usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Usulan itu pun disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mensesneg Sudi Silalahi, dan Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri.

Demikian diungkapkan Ketua Fraksi PKB DPR Marwan Jafar dan Sekretaris Fraksi PKB Muh. Hanif Dhakiri seusai menyampaikan usulan tersebut kepada pimpinan dewan, di Gedung DPR/MPR, kemarin. Menurut Marwan Jafar, sejak Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009, pihaknya banyak menerima usul dan aspirasi dari berbagai lapisan masyarakat yang menginginkan agar Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional.Masyarakat meminta FPKB menjadi lembaga yang mengusulkan secara resmi kepada pemerintah agar memberi gelar tersebut. Berdasarkan banyaknya aspirasi masyarakat dan data-data yang terkait dengan kiprah Gus Dur, FPKB menilai Gus Dur telah memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sc bagai pahlawan nasional. Gus Dur telah memenuhi persyaratan sesuai dengan Pasal 25 dan Pasal 26 UU No. 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan. “Kami menyampaikan usulan tersebut sebagai bentuk tanggungjawab dan penghormatan kepada K.H. Abdurrahman Wahid sekaligus memenuhi tugas untuk mengemban aspirasi rakyat,” kata Marwan.Selain PKB. sejumlah anggota dewan secara borgant ian mengusulkan Gus Dur diberi gelar pahlawan. DPR meminta kepada pimpinan DPR untuk segera menjadwalkan prioritas rapat pimpinan DPR yang mengagendakan pengusulan kepada Presiden menyangkut pemberian gelar pahlawan kepada Gus Dur. “Kami meminta agar dijadwalkan rapat konsultasi tertutup antara pimpinan DPR dan Presiden SBY. Apalagi, Presiden hari ini pun sudah mengeluarkan pernyataan bahwa dia akan segera mengakomodasi hal itu,” kata Ketua FPDIP Tjahjo Kumolo dalam sidang paripurna pembukaan masa sidang II DPR/MPR di Gedung DPR/MPR, Jakarta, kemarin.Selain Tjahjo. Nurul Arifin dari FPG menegaskan, Presiden tidak cukup mengatakan bahwa Gus Dur adalah Presiden ke-4 RI, guru bangsa, dan putra terbaik bangsa. “Itu tidak cukup. Gus Dur adalah tokoh pluralisme. Saya ingin ada ketegasan duri pimpinan dewan untuk menyatakan bahwa Gus Dur adalah tokoh pluralisme,” kata Nurul Arifin. Gandung Pardiman dari FPG juga menyatakan hal yang sama. Hanya, selain Gus Dur, Golkar meminta agar Soeharto juga diberi gelar pahlawan. “Kamijuga mengingatkan supaya Soeharto juga diagendakan dengan Gus Dur untuk prioritas pemberian gelar pahlawan,” kata Gandung. (A-109/A-130)

Sedikit Dari Yang Saya Kenal Tentang Gus Dur (KH.Abdurrahman Wahid) Kamis, 31 Desember 2009 13:14

Saya mengenal nama Gus Dur sudah lama, yaitu sejak pertengahan tahun 1970 an. Ketika itu, Gus Dur pulang dari Baghdad, dan karena belum dinyatakan lulus dari belajarnya di Irak, ia mau mengambil kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Oleh karena, Gus Dur tidak memiliki dokumen yang cukup, maka niatnya itu gagal, sesuai dengan peraturan, tidak bisa diterima. Mendengar bahwa Gus Dur tidak bisa diterima, kuliah tingkat doctoral di IAIN Sunan Ampel Surabaya, maka Pak A.Malik Fadjar, yang waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang menemuinya. Pak Malik menawarkan agar Gus Dur, meneruskan saja di IAIN Malang. Ketika itu, IAIN Sunan Ampel Malang sudah membuka program doctoral. Namun Pak Malik Fadjar tidak mempersilahkan Gus Dur menjadi mahasiswa doctoral melainkan justru diangkat sebagai pengajar di tingkat doctoral itu. Atas tawaran Prof. Malik Fadjar, M.Sc, Gus Dur menerima, hanya dia mengakiu tidak punya pangkat sebagai persyaratan sebagai pengajar di tingkat doctoral. Pak Malik kemudian menyanggupi, memberi pangkat Gus Dur, golongan IV/a. Mulai dari sini, KH.Abdurrahman Wahid mengajar di IAIN Malang tingkat doctoral, berstatus sebagai dosen luar biasa selama beberapa tahun. Gus Dur berhenti member kuliah, karena pindah ke Jakarta. Namun secara resmi, Gus Gur belum pernah menyatakan berhenti atau diberhentikan sebagai dosen di IAIN Malang. Pernyataan ini pernah saya sampaikan, tatkala menyambut Gus Dur sebagai Presiden, ketika berkunjung di UIN Maliki Malang. Sejak itu, Gus Dur memiliki banyak kegiatan di Malang, terutama terkait dengan kegiatan kerukunan umat beragama. Selain ke IAIN Malang, Gus Dur biasanya juga menemui kawannya, di antaranya Romo Yansen, pengajar di STFT Malang. Gus Dur bersama Pak Malik Fadjar sering menyelenggarakan penelitian bersama dengan umat agama lain, seminar, kerjasama social kemasyarakatan sebagai bagian dari kegiatan bersama umat berbagai agama di Malang. Beberapa kegiatannya dilakukan di Paniwen, Sumber Pucung dan beberapa tempat lainnya. Lewat Pak Malik Fadjar, saya banyak ditugasi untuk mengetik tulisan-tulisan Gus Dur berupa laporan kegiatannya. Selain itu, saya juga ditugasi untuk menyusun beberapa laporan, misalnya membuat monografi kerukunan umat beragama, termasuk juga menyusun abstraks dari beberapa laporan kegiatan sebagai bahan seminar, dan beberapa tulisan lainnya tentang kegiatan kerukunan umat beragama tersebut. Setelah Gus Dur pindah ke Jakarta dan banyak kegiatannya di LP3ES dan juga di tempat lainnya, saya oleh Pak Malik Fadjar seringkali diajak mengikuti acara-acara penting yang diselenggarakannya. Pada waktu-waktu tertentu, Gus Dur bersama koleganya mengadakan diskusi terbatas, yang diikuti antara lain oleh Pak Dawam Rahardjo, Pak Muchtar Buchori, Pak Muslim Abdurrahman, Pak Djohan Efendi, Pak Utomo, Pak Malik Fadjar dan lain-lain. Ketika itu, saya masih sangat yunior, sehingga peran saya hanya sebatas pendengar, dan jika diperlukan, membantu menulis laporan dan mengetiknya. Pernah pada suatu ketika, sekitar akhir tahun 1983, diadakan diskusi terbatas, —–kalau tidak salah, mengambil tempat di rumah Pak Muchtar Buchori di Jakarta. Diskusi yang diikuti antara lain oleh beberapa tokoh yang saya sebutkan di muka, membicarakan dua hal penting, yaitu pertama, mendiskusikan rencana-rencana kegiatan Pak Nurcholis Madjid setelah pulang dari Amerika Serikat. Para tokoh tersebut, tidak ingin sepulang dari Amerika, kegiatan Nurcholis Madjid hanya sebatas berceramah dari satu tempat ke tempat lain. Kedua, adalah berdiskusi tentang bagaimana menyusun scenario agar pada Muktamar NU yang sebentar lagi ketika itu (1984) akan digelar di Asem Bagus, Situbondo, Gus Dur terpilih sebagai ketua umum PB NU. Pada saat itu, para tokoh memandang bahwa untuk memajukan dan mendinamisasikan NU, maka Gus Dur harus didorong sebagai pucuk pimpinannya. Ternyata, muktamar NU di Situbondo, benar–benar berhasil mengangkat cucu pendiri NU yang pernah belajar di Mesir dan juga di Baghdad ini, sebagai Ketua Umum PBNU. Karena ketika itu, saya masih tergolong sangat yunior dibanding para tokoh tersebut, maka sekalipun memiliki idea atau pandangan, saya tidak berani menyampaikannya. Namun, ketika itu saya merasa agak gelisah, apabila Gus Dur benar-benar berhasil menduduki posisi sebagai Ketua Umum PBNU. Kegelisahan saya itu muncul tatkala membayangkan antara Gus Dur sendiri dengan umat yang akan dipimpinnya. Sekalipun saya tahu, bahwa Gus Dur adalah cucu pendiri NU, akan tetapi saya melihat ada jarak yang sedemikian jauh dengan umat yang akan dipimpinnya. Dalam pandangan saya, jika Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU, maka saya membayangkan NU akan menjadi bagaikan angsa. Seekor angsa memiliki badan besar, kepala kecil, tetapi lehernya sedemikian panjang. NU akan seperti angsa itu. Maksud saya, jika Gus Dur menjadi ketua PBNU, maka antara Gus Dur yang pikiran-pikirannya sedemikian cemerlang, dinamis, inovatif, sangat luas, dan sedemikian modernnya akan menjadi pimpinan warga NU yang kebanyakan ada di pedesaan. Antara Gus Dur dan warna NU yang tinggal di kabupaten/kota, kecamatan, desa, dan bahkan di pinggiran-pinggiran laut, pulau kecil, dan di pedalaman, akan berjarak yang sedemikian jauh. Saya umpamakan, antara Gus Dur dengan kebanyakan umatnya, bagaikan kepala dengan badan angsa, dipisahkan oleh leher yang sedemikian panjang. Jika benar-benar dipimpin Gus Dur, NU akan menjadi bagaikan angsa, tidak bisa bergerak cepat, karena badannya terlalu besar, tetapi suara kerasnya terdengar kemana-mana. Apa yang saya gambarkan tersebut, saya lihat kemudian ada benarnya. Pikiran-pikiran Gus Dur tentang agama, politik, ekonomi, social, budaya, pendidikan dan lain-lain selalu berjarak dengan umatnya yang sedemikian besar jumlahnya dan bervariatif itu. Oleh karena itu maka seringkali terjadi, pikiran-pikiran Gus Dur tidak sambung dengan masyarakat bawah yang dipimpinnya. Saya ketika itu berpikir dan berdoa, bagaimana agar antara kepala angsa dan badannya, sebagai gambaran NU, semakin mendekat. Artinya, umat berhasil semakin bisa memahami dan mengikuti pikiran-pikiran cerdas Gus Dur. Selain itu, saya juga berdoa agar kepala angsa juga semakin besar. Artinya, tokoh-tokoh sekaliber Gus Dur di NU semakin banyak.

Tatkala menjabat sebagai Presiden, Gus Dur pernah saya undang ke UIN Maliki Malang. Ketika itu UIN Maliki Malang masih berstatus sebagai sekolah tinggi, yaitu STAIN Malang. Presiden yang sekaligus juga Kyai besar ini, hadir untuk memberikan ceramah, mengenai pandangannya tentang pendidikan Islam di masa depan, dan juga sekaligus meresmikan penggunaan Ma’had al Aly, Sunan Ampel, STAIN Malang. Prasasti peresmian itu, sampai sekarang masih ada di depan Ma’had, dan saya kira, selamanya tidak akan pernah hilang dari tempat itu. Gus Dur akan tetap dikenang oleh warga kampus UIN Maliki Malang, baik sebagai dosen yang belum pernah berhenti, tokoh umat, cendekiawan, dan sebagai Presiden RI yang pertama hadir di kampus UIN Maliki Malang. Satu hal yang tidak pernah akan saya lupakan dari Gus Dur`, ialah pesan beliau terkait STAIN Malang yang kini telah berubah menjadi UIN Maliki Malang. Pesan itu menyangkut konsep memadukan bentuk lembaga pendidikan Islam, antara ma’had dengan kampus. Konsep itu, oleh Gus Dur dianggap sangat tepat.

Sebelum pulang dari meresmikian Ma’had STAIN Malang, Gus Dur singgah di pendopo Kabupaten Malang untuk santap siang. Pada kesempatan santap siang itu, beliau berpesan kepada saya, dengan mengatakan : “ bentuk lembaga pendidikan ingkang panjenengan kembangaken sampun leres. Memadukan antawis tradisi perguruan tinggi lan pesantren, utawi ma’had. Sampun ngantos diubah-ubah, puniko sampun leres, ateges sampun kepanggih bentuk lembaga pendidikan ingkang tepat. Menawi wonten persoalan, kulo saget dikabar, Lan menawi tindak Jakarta, monggo mampir dateng istana. Ketika itu, segera saya jawab, “inggih, insya Allah”, matur nuwun, dalem isthoáken.

Pesan Presiden KH Abdurrahman Wahid yang disampaikan dengan menggunakan Bahasa Jawa kromo——bahasa halus, terkait dengan konsep pendidikan yang menggabungkan antara tradisi pesantren dan kampus itu, tidak pernah saya lupakan. Pesan Gus Dur tersebut juga dikuatkan oleh Ibu Sinta Nuriyah yang ketika itu duduk di sebelah suaminya. Bersama Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah, Pak Djohan Efendi, Pak Muslim Abdurrahman, dan beberapa pejabat lain, termasuk saya sebagai pimpinan STAIN Malang. Sekalipun Gus Dur sudah wafat, hari Rabu, tanggal 30 Desember 2009 jam 18.45 di Jakarta, saya bertekat mewujudkan pesan-pesan itu, hingga kampus ini ke depan semakin maju dan sempurna. Atas wafatnya Gus Dur kita semua berduka, dan berdoa, semoga Gus Dur ditempatkan oleh Allah swt., pada tempat yang mulia, di sisi-Nya. amien.

Membaca Jalan Pikiran Gus Dur

Ditulis oleh K.H.M. Fuad Riyadi Wednesday, 23 April 2008

Sungguh disayangkan Muhaimin Iskandar, politisi muda berbakat luar biasa itu, akhirnya memilih langkah menuju ketidakjelasan karier politiknya. Pekan-pekan terakhir ini, dia mengulangi kekeliruan yang telah “dicontohkan” Mathori Abdul Jalil dan Alwi Shihab; melawan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) di jagad PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Seperti biasanya, Gus Dur “dengan seenaknya” dan over PD (percaya diri) bilang, perlawanan Muhaimin hanya sia-sia. “Seperti yang sudah-sudah, nanti saya yang menang (lagi)”, demikian pernyataan Gus Dur kurang lebihnya. Muhaimin tak bisa disamakan dengan Saifulloh Yusuf atau Choirul Anam. Meski sama-sama melawan Gus Dur, Saiful “tidak habis” karier politiknya. Choirul malah jadi ketua PKNU (Partai Kebangkitan Nasional Ulama, sebuah nama partai yang kurang sedap bunyinya didengar telinga, gara-gara mengejar singkatan “NU”) yang siap-siap “mempecundangi” PKB pada pemilu mendatang. Memang, seperti Saifulloh dan Choirul Anam, Muhaimin juga dibela sejumlah kiai. Bedanya, Saifulloh dan Choirul Anam dibela banyak kiai kharismatik seperti dari poros Langitan yang di luar jangkauan bayang-bayang Gus Dur (Gus Dur saja dulu menyebut mereka kiai khos untuk menunjukkan penghormatan luar biasa), sementara Muhaimin hanya didukung sejumlah kiai yang (masih) tergabung dalam jajaran dewan pimpinan PKB: barisan kiai yang masih di bawah bayang-bayang Gus Dur alias kalah awu. Tuduhan klasik Gus Dur bahwa Muhaimin diperalat SBY, boleh saja dianggap angin sepi dan ngawur oleh Andi Malarangeng (jubir SBY). Paling tidak, kepastian PKB sebagai salah satu partai peserta Pemilu 2009 dengan adanya konflik internal tersebut menjadi terhambat. Tuduhan Fachri Ali bahwa Gus Dur menerapkan politik patron di PKB –siapa pun kalau tidak mau menempatkan Gus Dur sebagai bos pasti dibuang-, boleh saja membesarkan hati Muhaimin dan kawan-kawannya. Namun, beberapa catatan berikut ini tak ada salahnya untuk dipertimbangkan Dulu, Mathori ditendang Gus Dur sebelum diangkat menjadi Menteri Pertahanan oleh Megawati. Tuduhan serupa juga pernah dilayangkan Gus Dur kepada Alwi Shihab. Ujung-ujungnya, Alwi kini diangkat menjadi duta besar setelah keok berebut PKB. Ketika Gus Dur menuduh KPU sarang maling dan diperalat oleh salah satu kandidat calon presiden, orang mengira tuduhan itu asbun alias asal bunyi dan semata-mata karena Gus Dur kagol tidak diloloskan KPU sebagai salah satu calon presiden periode 2005-2009. Belakangan, Hamid Awaludin (salah satu anggota KPU) jadi menteri hukum dan perundang-undangan(?). Dan lebih gilanya lagi, seorang profesor doktor seperti Nazarudin Syamsudin (ketua KPU), Mulyana W Kusuma –dua tokoh yang rasa-rasanya impossible melakukan korupsi- dan beberapa anggota KPU pusat lainnya benar-benar terbukti di pengadilan sebagai “tuan rumahnya” sarang maling. Hamid Awaludin pun, terlibat atau tidak, akhirnya lengser dari kedudukan sebagai menteri hukum dan perundang-undangan.Lebih ke belakang lagi, beberapa pekan sebelum SU MPR tahun 1999 yang menetapkan Gus Dur sebagai presiden, dia sudah bilang kepada banyak orang, salah satunya Syafii Maarif yang waktu itu ketua Muhammadiyah, bahwa dia akan jadi presiden. Politik Patron Memang, dalam Piala Dunia tahun 2002 di Korea Selatan, Gus Dur memprediksikan final akan terjadi antara kesebelasan Korea Selatan lawan Turki. Ternyata, justru Jerman dan Brasil yang maju ke final. Tapi, harap dicatat, (1) Gus Dur tidak menyaksikan pertandingan sepakbola dengan matanya sendiri, hanya lewat telinga, karena waktu itu Gus Dur sudah mengalami kebutaan, (2) banyak pakar bola juga sependapat dengan prediksi Gus Dur.Kini, soal politik patron seperti sinyalemen Fahri Ali. Perlu dipertimbangkan beberapa kalimat pertanyaan dan kemungkinan jawaban berikut ini: lebih populer mana antara PKB (bahkan NU sekalipun) dibandingkan Gus Dur? Kemungkinan jawabannya; Gus Dur. Untuk saat ini, bisakah PKB tanpa Gus Dur? Kemungkinan jawabannya; sulit. Bisakah Gus Dur meneruskan sepakterjang di dunia politik tanpa PKB? Jawabnya; bisa. Di antara politisi PKB lainnya, sudah adakah sosok yang bisa mengimbangi atau melebihi Gus Dur dari segi popularitas, intuisi, kharisma, kecerdasan, pengaruh dan pengalaman di dunia politik? Jawabnya; belum. Muhaimin, seperti Mathori, Alwi, Saifulloh, dan Choirul Anam, belum kelasnya melawan Gus Dur. Ibarat kesebelasan anggota divisi II PSSI bertanding melawan tim inti Manchester United! Seumpama Cris Jon melawan Mike Tyson! Politik patron yang terjadi secara alamiah di PKB hanya menunjukkan bahwa politisi PKB masih harus banyak belajar dan bersabar menunggu waktu hingga mereka setidak-tidaknya bisa sekelas dengan Gus Dur. Benar nasehat Effendi Choiri, salah seorang politisi PKB seangkatan Muhaimin, kalau Muhaimin mau manut Gus Dur yang memang sejak awal adalah guru sekaligus bapak ideologisnya, dia selamat. Bisa jadi Muhaiminlah yang paling layak sebagai calon pewaris tahta Gus Dur di PKB. Tapi, kalau membangkang seperti sekarang? “Saya yang menang (lagi), Kang!”, begitu kira-kira Gus Dur bilang. Namun itulah yang namanya politik. Pagi kedelai sore sudah bisa menjadi tempe atau tahu atau apalagi bentuknya, terserah sang aktor yang kuat posisinya. Yang jelas dunia politik tak ada yang pasti! Terakhir Diperbaharui ( Saturday, 16 May 2009 ) Gus Dur, Antara Cendekiawan dan Politisi Oleh Eman Hermawan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah tokoh fenomenal dalam dunia politik dan pemikiran Indonesia di seperempat terakhir abad ke-20. Ia hadir sebagai cendekiawan dan sekaligus politisi yang menonjol sejak pertengahan tahun 1970-an. Demikian ditulis Mitsuo Nakamura “The Oxford Encyclopedia of the Islamic World, Vol. I, Tahun 1995: 14″. Sebagai cendekiawan, Gus Dur telah membangun suatu proses pencerahan yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama. Pemikirannya yang tertuang dalam berbagai tulisannya adalah rujukan sekaligus inspirasi bagi banyak orang. Sementara sebagai politisi, Gus Dur telah berhasil menjadi orang nomor satu di Indonesia, menjadi presiden selama 21 bulan (Oktober 1999-Juli 2001).

Setelah lengser dari jabatan presiden, Gus Dur kemudian menjadi Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB, sejak 2001 sampai saat ini. Benar kata Michel Foucault bahwa di balik motif pencerahan dan pemberdayaan yang dimiliki oleh seorang cendekiawan, sebenarnya terdapat dorongan untuk berkuasa dan mendominasi (Michel Foucault, Power/Knowledge, 1980). Kemudian, sebagian dari kita akhirnya menyaksikan bahwa Gus Dur tampaknya lebih sukses sebagai cendekiawan daripada politisi. Cendekiawan Gus Dur pertama kali muncul di tengah masyarakat Indonesia sebagai cendekiawan. Sejak awal 1970-an, ia banyak menulis di media massa maupun jurnal ilmiah. Ia juga diundang sebagai penceramah dalam berbagai seminar, baik yang diadakan oleh lembaga-lembaga pendidikan, ormas maupun departemen pemerintah. Setelah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar NU pada tahun 1984, Gus Dur lebih sering tampil sebagai seorang juru dakwah yang mengisi ceramah agama di tengah masyarakat di hampir seluruh pelosok tanah air. Gus Dur adalah representasi pemikir Islam yang secara terus-menerus berusaha menerjemahkan Islam dengan visi humanitarianistik. Dengan modal khazanah pemikiran klasik yang menjadi ciri khas pesantren, ia mampu menghadirkan suatu konstruksi pemikiran dan sikap keberagamaan yang lebih membumi, toleran, dan bersahabat dengan realitas sosial yang ada. Gus Dur mampu menjadi “jendela rumah NU” yang selama bertahun-tahun dicap dengan berbagai label kemunduran, keterbelakangan, dan kejumudan. Ia menjadi lokomotif transformasi pemikiran warga NU, khususnya di kalangan anak muda sehingga NU diakui sebagai pilar masyarakat sipil yang utama. Sebagai cendekiawan, Gus Dur adalah jembatan nilai-nilai dan berbagai kelompok kepentingan yang ada. Gus Dur adalah jembatan antara tradisi dan kemodernan, sipil dan militer, masyarakat dan negara, mayoritas dan minoritas, LSM dan pemerintah. Di bawah kepemimpinan Gus Dur, NU pun bisa menjadi salah satu pelopor demokratisasi politik bangsa, pemberdayaan masyarakat, dan pencerahan pemikiran melalui berbagai bentuk kajian kritis tentang Islam dan tradisi. Tidak heran jika atas kepeloporan dan kesuksesannya melakukan transformasi menyeluruh di tengah masyarakat, NU itu menjadi bagian tak terpisahkan dari transformasi bangsa in toto, kemudian banyak intelektual asing yang tertarik meneliti pemikiran Gus Dur. Sebut saja Adam Schwartz, Douglas E. Ramage, Mitsuo Nakamura, Martin van Bruinessen, Andree Feillard, Greg Fealy, dan Greg Barton, untuk menyebut beberapa nama, yang telah menulis berbagai artikel, makalah, dan buku tentang Gus Dur. Barangkali, tidak ada cendekiawan Indonesia yang lebih populer dari Gus Dur pada akhir abad ke-20 yang lalu. Politisi Sebagai politisi, Gus Dur juga tergolong sukses. Ia sangat piawai dan berhasil mencuri momentum sehingga bisa menjadi presiden ke-4 RI. Kecerdasan, kejelian, dan sekaligus kemampuan humornya yang tinggi membuatnya bisa dterima berbagai kalangan, baik militer, birokrasi, LSM, dan kelompok-kelompok di luar Islam. Kedekatannya dengan berbagai kalangan itu yang membuatnya lebih leluasa berkomunikasi dengan pihak lain, memahami pendapat mereka, dan sekaligus mengomunikasikan pendiriannya sendiri. Oleh karena itu, ia bisa dekat dengan LB Moerdani, tetapi juga tetap kritis dengannya. Ia juga dekat dengan Soeharto, tetapi tidak pernah dicap sebagai antek Cendana. Namun, nasib Gus Dur sebagai politisi tampaknya tidak sebaik posisinya sebagai cendekiawan. Sebagai cendekiawan, ia tetap dikenal dan disegani sebagai tokoh besar yang terus menjadi rujukan dan sumber inspirasi. Ilmu dan pengetahuan memang punya sifat yang abadi. Sementara sebagai politisi, Gus Dur bisa dikatakan kurang berhasil. Ia gagal mempertahankan jabatan presiden yang memungkinkannya membuat perubahan struktural secara fundamental di negeri ini. Ia juga gagal meminimalisasi konflik di tubuh PKB. Bahkan dari waktu ke waktu, konflik di partai ini semakin parah. Gus Dur juga tidak berhasil menjaga hubungan silaturahmi yang baik dengan kiai-kiai, NU, dan juga kader-kader yang dibesarkannya. Sebagian besar kader yang dibesarkan justru kemudian menjadi “musuh” politiknya. Demikian juga kiai-kiai yang dahulu gigih membelanya. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak kiai sepuh, tokoh-tokoh NU, dan keluarga besar K.H A. Wahid Hasyim sendiri yang menginginkan Gus Dur kembali sebagai cendekiawan rakyat, keluar dari politik praktis. Dengan begitu, ia akan kembali bisa lebih diterima oleh berbagai kalangan dan selalu dirindukan pemikirannya yang mencerahkan dan mencerdaskan semua orang.

Seperti K.H. A. Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur) yang di akhir hayatnya–setelah menolak untuk dicalonkan kembali menjadi menteri agama–lebih memilih hidup sebagai cendekiawan dengan mengembangkan minatnya yang bersifat sosial dan kebudayaan.*** Penulis, Direktur Local Empowerment Center, Jakarta dan penulis buku “9 Alasan Mengapa Kiai-kiai tetap Bersama Gus Dur” (2007). Gus Dur yang Saya Kenal… Kamis, 31 Desember 2009 | 03:06 WIB Telepon berkali-kali berdering, SMS berdatangan. Pertanyaannya satu: Benarkah Gus Dur meninggal dunia? Sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini karena saya harus menjawab ”ya”. Dan, mereka semua menangis.Mereka adalah orang-orang biasa dengan latar agama yang berbeda. Mereka tak pernah mengenal Gus Dur secara pribadi, tetapi merasa dekat dengan tokoh ini. Bagi mereka, Gus Dur adalah pembela kaum minoritas, Gus Dur pejuang Islam moderat, Gus Dur pembela demokrasi … dan masih banyak lagi. Bagi saya, Gus Dur adalah tokoh besar yang sangat membumi. Perkenalan kami dimulai tahun 1992 ketika Gus Dur masih menjabat Ketua Tanfidziyah PB Nahdlatul Ulama di bawah rezim Soeharto. Secara intens kami sering berdiskusi di kamar kerjanya yang kecil dan bersahaja di Kantor PBNU di Kramat Raya.Di antara buku-buku, kertas, tumpukan kaset dan CD musik klasik yang memenuhi meja kerjanya, Gus Dur kerap ”menyembunyikan” makanan lorju’ (kacang bercampur ikan kecil). Ia senang mengobrol sambil mengudap. ”Jangan bilang-bilang ya, nanti Mbak Nur (Shinta Nuriyah, sang istri) marah, saya kan disuruh diet. Tapi, ini makanan enak,” katanya sambil terkekeh. Sudah sejak lama Gus Dur mengidap diabetes sehingga sebetulnya ia dilarang untuk makan seenaknya.

Tapi, Gus Dur memang susah dilarang. Lagi pula, siapa di lingkungan PBNU yang berani melarangnya? ”Yang berani cuma Mbak Nur,” katanya. Topik diskusi yang sering kami singgung—kadang bersama tamu-tamu lain—antara lain tentang masa depan Nahdlatul Ulama. Sejak belasan tahun lalu Gus Dur sudah memproyeksikan bahwa akan ada tiga corak di tubuh NU. Yaitu corak kiai fikih yang dirangsang pikiran modern (Gus Dur saat itu mencontohkan Kiai Ishomudin), corak LSM (ia mencontohkan Masdar Mas’udi), dan corak gado-gado, yaitu masyarakat biasa maupun politisi yang memiliki pengabdian di NU. Dialog dari ketiga corak inilah, kata Gus Dur, yang akan menentukan wajah transformatif NU di masa depan. Perkembangan Islam di Indonesia, toleransi terhadap agama lain, perlindungan terhadap kaum minoritas, dan demokrasi juga merupakan topik yang bisa membuatnya semangat berbicara sampai berjam-jam. Mengenai wajah Islam Indonesia, misalnya, Gus Dur kala itu mendukung pandangan almarhum Nurcholish Madjid. ”Tolong Cak Nur dibela ya. Kasihan, saat ini dia sedang mendapat banyak tentangan,” pesannya kala itu. Setiap hari, warga NU dari berbagai daerah setia menunggu di ruang tunggu Kantor PBNU (yang masih belum direnovasi) untuk bertemu dengannya. Mereka datang untuk meminta petunjuk tentang persoalan di daerah dan Gus Dur melayani mereka satu per satu.Gus Dur tak pernah membedakan kelas sosial. Warga NU yang menikah atau meninggal dunia akan dicoba untuk disambanginya. Meskipun ia harus masuk ke gang-gang kecil atau berkendaraan berjam-jam. Saya masih ingat ketika ayahanda meninggal dunia tahun 1999, Gus Dur datang melayat dan ikut menshalati. Ia pun beberapa kali menelepon untuk menghibur dan memberi penguatan. ”Saya mengerti bagaimana kesedihan Anda. Saya juga sangat kehilangan ketika ibu dulu pergi,” kata Gus Dur tentang almarhumah ibunda, Ny Hj Solichah Wahid Hasyim.Bahkan, Gus Dur masih menyempatkan menjenguk ketika saya terbaring di rumah sakit. Sungguh sebuah bentuk perhatian yang mengharukan dari tokoh bersahaja ini. Indra keenam Banyak yang meyakini Gus Dur memiliki indra keenam. Terlepas dari benar atau tidaknya, tetapi suatu siang pada tahun 1998 Gus Dur menelepon. Kali ini cukup lama, sekitar satu jam. Ia menceritakan tentang berbagai hal, termasuk mimpinya. Singkatnya, mimpi itu memberikan isyarat yang nyata bagi Gus Dur. ”Mbak, saya akan menjadi presiden,” katanya tenang. Saya tidak menanggapi dengan serius, tetapi saya mencatat obrolan itu. Sekitar setahun kemudian, Gus Dur benar-benar menjadi presiden.Ketika saya menemuinya di Istana Negara, Gus Dur hanya tertawa terkekeh ketika diingatkan akan mimpinya tersebut.Wajah Istana Negara pada masa kepemimpinan Gus Dur berubah total, tidak lagi angker dan formal. Wartawan maupun masyarakat bisa memiliki akses yang leluasa. Hubungan pun lebih cair dan penuh guyon. Pertemuan saya terakhir adalah pada hari ulang tahunnya bulan Agustus 2009. Tercekat rasanya melihat Gus Dur dibaringkan di ruang tamu. Gus Dur berusaha menyambut setiap tamu dengan mengangkat tangan dan menganggukkan kepala. Meskipun suaranya sudah lirih, Gus Dur tetap semangat bercerita tentang Indonesia. Dari karangan bunga dan banyaknya tamu yang datang hari itu, jelas bahwa tokoh besar ini sangat disayang masyarakat. Seorang sahabat bahkan sampai menitikkan air mata ketika mendoakan kesehatan Gus Dur. ”Saya mendoakan dia berumur panjang. Karena dialah pembela kaum minoritas,” katanya.Tuhan memiliki rencana sendiri. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Tokoh besar ini meninggal dunia, Rabu (30/12), di tengah keluarga yang mencintainya. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Seorang demokrat yang gigih memperjuangkan kebebasan dan demokrasi. Selamat jalan Gus, semoga kami bisa meneladani dan meneruskan semua perjuanganmu…. (Myrna Ratna) Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali: Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang pekan lalu diluncurkan (21/8), merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (21/9) lalu. Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali: Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang pekan lalu diluncurkan (21/8), merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (21/9) lalu. JIL: Mas Rumadi, buku yang memuat kolom-kolom Gus Dur setelah lengser dari kursi kepresidenansudah terbit kemarin. Sebagai salah seorang editornya, apa yang dimaksud Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita, yang dijadikan judulnya itu? Rumadi: Oh, itu diambil dari salah satu judul tulisan Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Judul tulisan itu sebenarnya menggambarkan pusaran utama keseluruhan pemikiran Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Kalau dilihat mendetail, memang banyak sekali hal-hal yang dibicarakan Gus Dur, sejak soal Islam dan ketatanegaraan, sampai responnya terhadap masalah-masalah kontemporer seperti kasus Inul dan problem ekonomi global. Esai dengan judul Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita, yang menjadi judul buku itu sebenarnya tidak panjang. Tapi dari esai itu kita menyadari bahwa Islam memang beragam. Ungkapan pribadi seseorang dalam berislam mungkin berbeda atau juga bertentangan dengan apa yang saya alami. Dari situlah kita dapat melihat adanya Islam yang aku pahami secara pribadi, dan Islam yang Anda pahami menurut Anda sendiri. Namun meski beragam, kita tetap Islam, dan disitulah mulai dikatakan soal Islam kita. Jadi judul buku ini menggambarkan Islam yang warna-warni; meski Islamnya satu tapi masing-masing orang punya pemahaman berbeda-beda tentang Islam. JIL: Mas Moqsith, dari telaah Anda atas tulisan-tulisan Gus Dur, apakah keragaman Islam itu hanya ditunjukkan dari sudut pandang sosiologis-antropologis saja, atau juga dalam soal doktrin-teologisnya? Moqsith: Saya kira, tidak hanya keragaman dari sisi sosiologis-antropologis yang sejak lama didengungkan Gus Dur.

Kita tidak bisa mengelak bahwa di dalam soal doktrin, dalam tafsir keagamaan yang paling asasi pun kita tak mungkin bisa menunggal. Karena itu, ada Islamku, yakni Islam sebagai hasil penafsiran yang bersifat personal-individual dari seseorang; ada Islam Anda yang berdasarkan penafsiran Anda dan juga Islam kita, yang menjadi benang merah dari Islamku dan Islam Anda. Menurut Gus Dur, yang dinamakan Islam kita itu adalah prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang universal. Gus Dur sering mengutip al-Ghazali soal 5 prinsip dasar ajaran Islam. Pertama adalah soal kebebasan beragama. Gus Dur adalah orang kampung yang saya kira sangat konsisten melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok minoritas. Sebab minoritas agama, ras, dan sebagainya itu, merupakan bagian dari perwujudan tafsir atau pemahaman orang terhadap Islam. Menurut Gus Dur, mereka itu tidak bisa dihancurkan. Di samping kebebasan beragama, kebebasan berfikir dan aspek-aspek kebebasan lain juga terus-menerus didengungkan Gus Dur. Bagi saya, Gus Dur telah memberi injeksi moral agama ke dalam isu-isu yang dianggap bersifat profan sekalipun. Dia bicara HAM, demokrasi, pluralisme, dan sebagainya. JIL: Apa soal baru yang buku ini, Mas Rumadi ? Rumadi: Bagi saya, yang perlu dari buku ini bukan soal baru atau tidaknya, tapi justru kesaksian akan konsistensi Gus Dur dalam pikiran-pikiran yang sejak lama ia usung. Saya belum pernah melihat pemikir Indonesia yang begitu konsisten membela prinsip-prinsip yang ia pegang teguh sebagaimana Gus Dur. Buah pikirannya bukan hanya diwacanakan dalam bentuk tulisan lalu diseminarkan dlsb., tapi juga diwujudkannya dengan aksi. Lihatnya bagaimana kukuhnya Gus Dur berpegang pada prinsip anti-diskriminasi. Bukan hanya menulis, dia benar-benar memperjuangkan prinsip itu dalam aksi nyata. Juga konsistensinya dalam pembelaan terhadap pluralitas.

Dia tetap melakukan itu meski dianggap kerja yang tidak populer dan dipandang kontroversial. Tapi dia tetap lakukan pembelaan. Dalam soal pembelaan atas pluralitas, saya tidak pernah melihat orang sekonsisten Gus Dur. Aktivismenya juga merupakan cerminan dari apa yang ia pikirkan. JIL: Mas Moqsith, Anda melihat konsistensi dan kesinambungan dalam gagasan-gagasan keislaman Gus Dur, atau justru melihat titik-titik kisar perubahan paradigma berpikir? Moqsith: Saya pertama-tama melihat Gus Dur sebagai sosok santri, dan santri itu dididik berpikir secara plural oleh tradisi fikih. Sebab, tak mungkin ada pandangan yang tunggal di dalam fikih. Karena itu, orang yang ahli fikih seperti Gus Dur, tak mungkin menganut satu konsep kebenaran absolut. Itulah saya kira yang pertama kali mendidik Gus Dur untuk tidak memutlakkan pandangannya sendiri. Di samping fikih, dia juga banyak belajar ilmu-ilmu lain seperti sosiologi, antropologi, dan filsafat. Dia juga pembaca sastra yang baik. Karena itu, medan perhatian Gus Dur terhadap ilmu pengetahuan amatlah luas. Nah, di sinilah ia berbeda dengan tokoh Indonesia lainnya seperti Prof. Syafi’i Ma’arif atau Buya Syafii. Buya bukanlah pembaca buku dengan dimensi yang sangat luas. Buya terutama adalah seorang sejarawan dan mungkin juga pembaca buku-buku keislaman yang cukup luas. Tapi bacaan Gus Dur memang luar biasa, bukan hanya fikih, tapi juga fasih bicara sastra. Ketika masih SMP dan SMA dulu, saya juga sering melihat Gus Dur sebagai pengamat sepakbola. Ini menunjukkan bahwa perhatian Gus Dur terhadap banyak dimensi kehidupan sangat besar sekali. JIL: Selain soal minat bacaan, apa perbedaan lainnya dengan sosok Buya Syafii yang beberapa bulan lalu juga meluncurkan otobiografinya yang memikat? Moqsith: Mungkin yang juga berbeda adalah titik berangkatnya. Gus Dur bukanlah seorang ploretar, tapi datang dari kalangan aristokrat. Kakek dan bapaknya ibarat raja di dalam tradisi NU. Tapi anehnya, gagasan-gagasan Gus Dur itu potensial menghancurkan dirinya sendiri. Dari politik berwacana, itu sebenarnya merugikan. Tapi Gus Dur tetap melakukan itu. Gagasan-gagasannya seakan-akan ingin menghancurkan kelasnya sendiri. Dia kan seorang yang punya otoritas tinggi, tapi tiap hari ia seakan menghancurkan otoritasnya sendiri. Itu dapat diamati dari pandangan-pandangan keagamaannya yang di kalangan para kyai cukup kontroversial. Kerja seperti itu, kalau tak hati-hati, tentu akan melenyapkan kharisma dan lain sebagainya. Tapi Gus Dur tidak peduli, ia tetap membuat perbedaan. Ia tetap konsisten menghadirkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat banyak persoalan. Pembelaan Gus Dur terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiah, aliran kepercayaan, dan lain-lain, sudah konsisten ia lakukan sejak dulu dan sampai sekarang. JIL: Mas Rumadi bisa menunjukkan konsistensi gagasan keislaman Gus Dur lebih rinci lagi? Rumadi: Dilihat dari sejarah perkembangan pemikiran Gus Dur, masa-masa awalnya memang tak lempang-lempang amat. Dia pernah mendukung gagasan-gagasan Ihkwanul Muslimin yang dianggapnya sebagai salah satu ptototipe Islam yang benar. Tapi setelah belajar tentang nasionalisme Arab dan sosialisme di Irak, dia mulai berubah pikiran. Selanjutnya, perubahan-perubahan itu terus terjadi, terkait dengan pengalaman hidup Gus Dur sendiri. Setelah melihat kenyataan Islam Indonesia, dia menemukan ide-ide baru yang pelan-pelan mulai menggeser cara pandangnya yang lama. Sekarang, yang dia pegang adalah prinsip-prinsip dasar Islam yang disebutkan tadi. Tapi dia terlihat konsisten dalam prinsip dasar pemikirannya. Dalam aksi politik, ia memang sering agak sirkus dan zig-zag. Tapi prinsip-prinsip dasar pemikirannya terlalu jelas untuk dilihat. Tak ada sesuatu yang samara-samar atau kabur. Prinsip-prinsip dasar pemikiran Gus Dur menurut saya terlalu jelas. JIL: Anda bisa merinci gagasan-gagasan keislaman apa yang paling penting dari Gus Dur? Moqsith: Yang sangat popular tentu soal pribumisasi Islam. Ini adalah cara Gus Dur khususnya dan NU umumnya untuk menolak Arabisasi. Tapi ini juga bukan pikiran yang baru datang dari Gus Dur, karena sejak dulu para kyai pesantren sudah punya kecenderungan untuk menghadirkan jenis keislaman yang khas Indonesia, tanpa banyak dicampur unsur Arabisme. Jadi pribumisasi Islam itu hanya stempelnya saja. Gus Dur berjasa menteorikannya. Gus Dur telah memberi nama terhadap jenis perjuangan yang dilakukan oleh para ulama Indonesia sejak Walisongo sampai sekarang. Gagasan Gus Dur yang sampai sekarang masih konsisten juga adalah aspek penolakannya terhadap negara Islam. Dia mungkin terpengaruh oleh buah pikiran Ali Abdul Raziq (ulama Mesir) yang mengatakan tidak adanya konsep negara Islam. Sampai sekarang, dengan pilihan itu, dia dicaci-maki dan berhadapan dengan banyak orang. Salah satu pemikiran Gus Dur yang sudah cukup jelas juga adalah visi kebangsaannya. Visi kebangsaan itu berulang kali dia tuangkan dalam ungkapan bahwa tidak ada ajaran Islam yang mengharuskan untuk menegakkan negara Islam. Itu berulangkali dia katakan. Dia juga sering mengatakan, ”Meski saya Islam dan mayoritas orang Indonesia itu beragama Islam, tidak terbesit sedikit pun di pikiran saya untuk mendominasi Indonesia ini atas nama Islam.” Gus Dur juga seringkali mengatakan bahwa yang ia perjuangkan adalah Islam berwatak kultural, bukan Islam yang selalu ingin tampil di kelembagaan politik. Prinsip itu diwujudkannya dengan cara membentuk partai politik yang bervisi kebangsaan. Saya kira itu pikiran-pikiran dasar Gus Dur. Ia memang punya perhatian besar terhadap isu-isu politik, persoalan pluralisme dan sebagainya. Tapi yang tidak dilakukan Gus Dur adalah menulis secara serius pandangannya tentang perempuan. Saya kira, pada aspek itu ada kemiripan antara Gus Dur dengan almarhum Cak Nur. JIL: Bisa lebih detil tentang sejarah penyikapan NU atas perjuangan politik yang menginginkan negara Islam di Indonesia? Rumadi: Pada masa awalnya, tahun 1945–1955, NU berada dalam blok atau kelompok yang memperjuangkan tegaknya Islam sebagai dasar negara. Tapi di situ ada polemik antara Gus Dur dan adiknya, Gus Solah (Solahuddin Wahid). Gus Dur bilang, NU tidak mendukung Islam sebagai dasar negara, sementara Gus Solah bilang sebaliknya. Saya cenderung mengatakan bahwa NU pada mulanya berada dalam blok yang menginginkan Islam sebagai dasar negara. Tapi sejarah tidak berjalan linier. Di tengah arus, ada masa ketika NU harus mengambil sikap tentang hidup bernegara. Itu secara jelas diproklamasikan di tahun 1984, dipelopoli langsung oleh Gus Dur.

Di situ dikatakan bahwa Indonesia sebagai negara kesatuan dengan Pancasila sebagai dasarnya, merupakan bentuk yang final bagi NU. Apakah pernyataan final itu cerminan keinginan jamaah NU, atau cerminan situasi ketika NU tidak bisa berkata lain, tentu akan diuji sendiri oleh sejarah. Buktinya, dalam perkembangan belakang, ada saja beberapa kompenen NU yang tidak tahan akan godaan negara Islam. Itu bisa dibuktikan lewat kelompok-kelompok di dalam NU yang membuat partai dengan Islam sebagai asasnya. Bahkan dalam Muktamar NU tahun 1999, ada juga yang mengusulkan agar NU kembali ke asas Islam, meski suara itu akhirnya bisa dieliminasi. Saya kira, ini merupakan salah satu bentuk pergumulan pemikiran NU. Arus besarnya memang masih dikusai kalangan yang menginginkan NKRI. Tapi riak-riak yang menghendaki dan memimpikan adanya negara Islam tampaknya tak juga pernah mati di lingkungan NU. JIL: Gus Dur pernah menulis tentang Islam sebagai faktor komplementer atau pelengkap Indonesia. Apakah gagasan seperti itu masih dianut mayoritas di NU atau sudah diganti menjadi Islam sebagai kekuatan hegemonik? Moqsith: Gagasan Islam sebagai faktor komplementer itu saya kira bukan hanya dimiliki Gus Dur, karena kyai-kyai lain juga berpikir tentang hal yang sama. Dan sampai sekarang, saya kira gagasan itu masih cukup kuat. Itu dapat dibuktikan dari pandangan beberapa kyai, termasuk KH Sahal Mahfudz yang menolak formalisasi syariat Islam atau perda bernuansa syariah Islam. Gus Mus atau KH Mustofa Bisri juga seperti itu. Artinya mereka ingin menjadikan fikih sebagai dunia di dalam basis kulturalnya saja dan tidak masuk ke dalam institusi negara.

Itu pandangan yang hampir merata di lingkungan kiay-kiay NU. Kyai Sahal telah menolak fikih dijadikan hukum positif negara, tetapi menerimanya sebagai etika sosial. Karena itu, keterlibatan Islam di dalam negara yang majemuk ini tidak bisa dalam format ingin mendominasi dan menjadi satu-satunya faktor penentu. Ia hanya menjadi unsur komplementer saja… JIL: Sebagai generasi muda NU, seberapa jauh pikiran-pikiran Gus Dur mempengaruhi Anda dan teman-teman? Moqsith: Bagi saya, Gus Dur itu adalah jendela bagi warga NU. Melalui jendela itulah warga NU bisa mengintip, bisa melihat luasnya dunia luar. Keberhasilan Gus Dur terletak dalam cara dia menginspirasi anak-anak muda di pesantren. Lewat Gus Dur, anak-anak muda mulai belajar menulis dan berpikir secara kritis. Di tahun 1991, ada rumusan pentingnya melakukan kontekstualisasi pemahaman kitab kuning. Itu tidak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan generasi-generasi tua NU seperti Gus Dur, Masdar Farid Mas’udi, dan lain-lain. Saya kira di situ terletak peran yang sangat besar dari Gus Dur. Yang kedua, dari segi gagasan, Gus Dur itu memang mumpuni, terlepas dia adalah seorang Gus, anak dari bapaknya dan cucu dari kakeknya yang mendirikan NU. Karena itu, ia memiliki otoritas sangat besar untuk melakukan perubahan-perubahan paradigmatik di lingkungan NU. Apa yang dilakukan Gus Dur akan gampang diamini anak-anak muda. Resistensi atas gagasan dan gerakannya pun tidak akan terlalu kuat ketimbang kalau dikatakan dan dilakukan orang lain. Jadi, keluar Gur Dur menjadi jendela, di dalam ia menjadi garansi bagai anak-anak muda. Kalau anak-anak muda dikritik para kyai, Gus Dur akan memberi penjelasan-penjelasan dengan menggunakan bahasa kyai, dlsb. JIL: Anda optimistis atau pesimistis akan perkembangan intelektual anak-anak muda NU setelah Gus Dur? Moqsith: Saya kira ke depan kita tak bisa lagi bersandar pada individu atau tokoh. Itu harus diakhiri. Apa yang dilakukan anak muda NU sekarang adalah institusionalisasi gagasan-gagasan Gus Dur. Itu sudah berkembang melalui lembaga-lembaga pendidikan alternatif yang dikembangkan sejumlah NGO/LSM di beberapa daerah.

Kalau terus mengandalkan tokoh, sejumlah tokoh memiliki keterbatasan. Ketika Gus Dur menjadi politisi dalam pengertian yang sesungguhnya, susah mengikuti alur permainannya yang bagai sirkus. Untungnya anak-anak muda NU mampu menentukan barometer: yang harus kita ikuti dari Gus Dur adalah Gus Dur yang makro, bukan Gus Dur yang mikro, seperti istilah almarhum Cak Nur. Gus Dur yang kulli bukan Gus Dur yang juz’i. Itu saya kira patokan yang baik bagi kita dalam melakukan gerakan perubahan sosial di tengah-tengah masyarakat. Saya kira, gagasan-gagasan Gus Dur tetap relevan karena ia lebih banyak bukan gagasan yang tentatif. Pemikiran Gus Dur tentang pribumisasi Islam, saat ini makin relevan seiring makin maraknya orang berpikir tentang negara Islam dan mengintensifkan Arabisasi terhadap Islam. JIL: Bagi Anda seperti apa kedudukan Gus Dur bagi generasi muda NU? Gus Dur bukan hanya jendela tapi juga lokomotif. Di belakang Gus Dur terdapat banyak anak muda NU yang disebut progresif atau apapun namanya. Semaunaya tidak ada yang terlepas dari inspirasi Gus Dur. Tapi memang ke depan kita tidak bisa bersandar pada Gus Dur atau figur seorang tokoh. Tapi gagasan-gagasannya memang tetap perlu disosialisasikan, diterjemahkan ke dalam tindakan-tindakan yang lebih riil. [] Gus Dur Luncurkan Situs Pribadi Jakarta, gusdur.net Untuk menyampaikan berbagai gagasannya termasuk mengenai demokrasi dan humanisme kepada masyarakat luas, mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meluncurkan situs pribadi. Situs dengan nama domain http://www.gusdur.net itu, diluncurkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2002 di hotel Acacia, Kramat raya, Sabtu, siang. Menurut Alissa Rahman, putri pertama Gus Dur yang juga penanggung jawab situs tersebut, situs itu sebenarnya telah dibangun sejak Gus Dur masih menjabat Presiden. “Tetapi karena bapak dulu masih sibuk mengikuti perkembangan politik di Tanah Air, situs ini ditunda dulu peluncurannya,” kata Alissa.”Tujuannya untuk menyampaikan berbagai gagasan, pokok pikiran dan ide-ide bapak (Gus Dur) secara utuh, agar masyarakat mendapat akses langsung”, kata Lisa- panggilan akrabnya. Berbagai komentar Gus Dur selama ini, seringkali dianggap kontroversial, dan membuat banyak kejutan serta memancing berbagai komentar dari berbagai kalangan. Hal ini terjadi karena seringkali gagasan itu muncul melalui kutipan pers secara sepotong-sepotong, sehingga kurang dipahami oleh masyarakat. Melalui situs ini, Gus Dur secara rutin akan menyampaikan gagasan-gagasan itu secara utuh, agar masyarakat memahami latar belakang maupun konteksnya. Berbagai pokok pikiran Gus Dur itu akan dihadirkan melalui rubrik “Memahami Gus Dur” Ria Irawan dan Pengamen Jalanan Tamu-tamu yang akan hadir dalam acara itu acara peluncuran website Gus Dur, dari berbagai kalangan, mulai mantan Menteri masa pemerintahannya, relasi, kalangan pers dan aktivis pro demokrasi.Dalam peresmian situs, juga diadakan obrolan santai dengan tema Gus Dur: Antara Sarung dan Internet. Sebagai pembicara adalah, Gus Dur sendiri, sineas, Garin Nugroho, penulis buku “Hari-hari Indonesia Gus Dur”, Budiarto Tanudjaja, penulis “Dibalik Sarung Presiden Gus Dur”, Luqman Hakiem, dan Sucipto Wirosardjono.Selain itu peluncuran website ini akan dimeriahkan oleh iringan lagu-lagu para musikus yang berasal dari pengamen jalanan dan anak-anak jalanan. Artis Ria Irawan dengan beberapa rekannya akan tampil membaca puisi.

Isi http://www.gusdur.net kebanyakan adalah berita seputar aktivitas dan ide-ide Gus Dur. Rubrik lain yang dapat disimak adalah Memahami Gus Dur (berbagai tulisan Gus Dur dari berbagai aspek), Biografi, Anekdot dan Joke (joke-joke yang selama ini sering dilontarkan Gus Dur), Kolom yang berisi artikel-artikel para pakar, Galery foto-foto Gus Dur dan berbagai artikel berbahasa Inggris. Dalam situs itu Gus Dur juga menyisipkan “Tanya Jawab”, sebuah rubrik interaktif yang dapat digunakan masyarakat untuk berdialog langsung dengan dirinya. SBY Dinilai Monopoli Jasad Gus Dur (Bahkan Khofifah Tak Boleh Masuk) SBY dinilai berlebihan memberi penghormatan akhir pada Gus Dur. Protokoler begitu ketat, mengabaikan tradisi kaum Nahdliyin. Bahkan Khofifah Indar Parawansa, sahabat Gus Dur dan mantan menteri dalam kabinet Gus Dur ini ditolak masuk areal pemakaman. Pendeknya, Gus Dur mendadak jadi milik SBY, mulai dari RSCM, Ciganjur, sampai Jombang. Menurut Adhie Massardi, yang selama sepuluh tahun terakhir mendamping Gus Dur, penghormatan yang diberikan pemerintah salah kaprah. Protokoler SBY telah membuat banyak santri dan kiai pendukung Gus Dur baik kehilangan kesempatan memberikan penghormatan terakhir dengan cara mereka. “Pesantren dan kaum Nahdliyin memiliki tata cara sendiri dalam menghormati kiai yang meninggal dunia, termasuk Gus Dur. Protokoler yang berlebihan malah membuat banyak kiai dan santri teralienasi di rumah mereka sendiri. Banyak yang menyesalkan hal ini,” ujar Adhie kepada Rakyat Merdeka Online, (Jumat, 1/1). Adhie ikut menghadiri pemakaman Gus Dur di Jombang. Tetapi menurutnya, dia dan sejumlah teman dekat Gus Dur semasa hidup, seperti Khofifah Indar Parawansa yang juga mantan menteri Kabinet Persatuan Nasional, dilarang memasuki areal pemakaman. Adhie menambahkan, sebagai mantan presiden Gus Dur memang berhak mendapatkan penghormatan dari negara.

Tetapi di sisi lain, seharusnya Presiden SBY juga memahami local wisdom kaum Nahdliyin. “Mereka ini nampak menguasai, mulai dari RSCM, Ciganjur sampai Jombang. Seakan-akan Gus Dur mendadak jadi milik Presiden SBY,” ujarnya lagi. Di sisi lain, Adhie juga mengatakan bahwa yang harus dihormati bukan sekadar jasad Gus Dur, melainkan buah pikiran Gus Dur yang intinya adalah pengakuan prinsip pluralisme yang menjadi pondasi nasionalisme Indonesia, juga demokrasi yang dilandasi pada prinsip kesetaraan sesama warga negara. “Kalau pemerintahan SBY-Boediono ini memang menghormati Gus Dur, mestinya mereka juga mau menciptakan pemerintahan yang bersih,” sambung Adhie. Kepada masyarakat luas dia berpesan agar tidak meniru sikap pemerintah yang hanya menghormati jasad Gus Dur dan mengabaikan pikiran dan cita-cita Gus Dur. Ujung dari cita-cita Gus Dus, kata Adhie sekali lagi, adalah kesejahteraan rakyat. Gus Dur yang Universal dan Partikular Surabaya, wahidinstitute.org Buku terbaru karya Presiden Republik Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Islam Kosmopolitan, ramai didiskusikan. Kamis (8/11/2007) sore lalu misalnya, Komunitas Baca Surabaya (Kombas) bekerjasama dengan the WAHID Institute mendiskusikannya di ruang rektorat Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya Jawa Timur. Buku terbitan the WAHID Institute tahun 2007 ini, didiskusikan oleh tiga intelektual muda NU pengagum sekaligus ‘titisan’ Gus Dur: Direktur Eksekutif the WAHID Institute Ahmad Suaedy, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta DR. Rumadi dan Dosen Universitas Paramadina DR. Abdul Moqsith Ghazali. Dosen IAIN Sunan Ampel DR. Masdar Hilmy didaulat sebagai moderator. Sedang ratusan mahasiswa S1 dan S2 pascasarjana IAIN Sunan Ampel hadir sebagai peserta. Dalam uraiannya, Ahmad Suaedy lebih banyak menyorot proses menjelang penerbitan buku yang dieditnya ini. Buku ini, katanya, berisi kumpulan tulisan Gus Dur antara tahun 1970 hingga 1980-an.

“Pikiran Gus Dur begitu kaya dan tidak hanya bersumber pada Islam formal, tapi dari Jawa dan Barat. Jarang ada orang yang demikian,” ujarnya. Buku ini, jelasnya, bermula dari pidato atau diskusi mantan Presiden itu yang ditranskrip, ketika di Institute Tehnologi Bandung (ITB). Masjid Salman dan ITB, kala itu sedang berada pada puncak ketenaran, karena menjadi kiblat pembaharuan pemikiran Islam. “Pidato Gus Dur tentang kosmopolitanisme Islam berawal dari situ,” terangnya. Secara jujur, Suaedy mengagumi referensi yang digunakan Gus Dur dalam buku ini. “Ini luar biasa. Mulai dari novel abad pertengahan, referensi Barat, sampai referensi terbesar abad keemasan Islam,” jelasnya. Lantas, apa sesungguhnya yang dimaksud kosmopolitanisme Islam oleh Gus Dur? Suaedy yang memang dekat dengan Gus Dur, baik secara pribadi maupun intelektual, mencoba mengurai jawabnya. Dikatakannya, kosmopolitanisme Islam dalam konsepsi Gus Dur adalah situasi ketika pemikiran Islam begitu terbuka, baik untuk mengkritik maupun menerima pemikiran dari Barat dan yang lain. “Bagi Gus Dur, puncak kosmopolitanisme Islam adalah ketika semua orang bebas mengekspresikan pikiran-pikirannya. Se-kontroversial apapun, pikiran harus diberi ruang berekspresi. Dan orang lain hanya boleh menanggapi dengan cara yang sama. Tidak boleh orang berfikir lantas ditangkap,” jelasnya. “Dan pada saat yang sama, juga harus ada penghormatan terhadap kemanusiaan,” tambahnya. Melihat gagasan-gagasan progresif Gus Dur yang belum sepenuhnya terejawantahkan dalam kenyataan, Suaedy berharap, muncul generasi-generasi baru yang akan meneruskan gagasan-gagasan itu. “Makanya perlu diciptakan Gus Dur-Gus Dur lokal,” katanya. Rumadi, dalam uraiannya, menyorot cucu pendiri NU KH. M. Hasyim Asyari ini dari sisi keotentikannya sebagai seorang muslim. “Sejauh apapun melangkah, Gus Dur tetap dipandang sebagai muslim yang otentik. Tidak ada orang yang meragukan keislamannya,” katanya. Karenanya, penulis buku Renungan Santri (Erlangga: 2007) ini setuju pada John L. Esposito yang menggelari Gus Dur sebagai ‘modern thinker but not moslem modernist’ (pemikir modern, tapi bukan muslim modernis). “Itu karena, antara lain, apapun yang dikatakan Gus Dur tidak pernah lepas dari akar tradisinya. Dalam memaknai kehidupan, umpamanya, ia selalu menggunakan basis tradisi yang dimilikinya,” terangnya. Basis tradisi itu, ujar Rumadi, membuat Gus Dur tidak silau pada kemodernan, meskipun ia banyak menyerap berbagai macam pemikiran sebagaimana watak kosmopolitanisme Islam yang ingin ditunjukkannya. “Gus Dur selalu mendialogkan antara yang diserap dari dunia luar dengan tradisi yang dimiliki,” ujarnya. Misalnya, karena banyak menelaah pikiran-pikiran modern, doktrin Aswaja (ahlus sunnah wal jamaah) di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) yang tradisional, itu di tangan Gus Dur menjadi sangat progresif. “Di tangan Gus Dur, Aswaja menjadi sangat dinamis dan menjadi alat untuk berdialog dengan realitas. Itulah cara Gus Dur keluar dari kesuntukan kehidupan,” urainya.

Dikatakan Rumadi, ‘daya cengkeram’ pemikiran Gus Dur yang berbasis tradisi itu begitu kuat bagi warga nahdliyyin. Karenanya, jika ada warga nahdliyyin yang berpikiran progresif, maka ia tidak bisa terlepas dari ‘cengkeraman’ Gus Dur. “Siapapun yang dianggap berani berfikir maju, pada saat yang sama ia mempunyai keterkaitan atau setidaknya memanfaatkan ruang yang dibuka Gus Dur,” ujarnya. Namun demikian, Rumadi mengingatkan, saat ini adalah masa yang berat untuk mengembangkan pemikiran keagamaan progresif. “Kita perlu energi lebih besar ketimbang pada masa Gus Dur tahun 80-an. Apalagi kita nggak punya apa-apa. Orang kampung dan bukan anak kiai. Kalau sudah dicap sesat, kita akan masuk keranjang sampah,” jelas Rumadi yang menilai buku Islam Kosmopolitan sebagai ‘relatif tidak terkontaminasi oleh politik praktis’ dan ‘pemikiran keislamannya jernih’ ini. Dua Wajah Gus Dur Abdul Moqsith Ghazali, yang mengaku ‘terhipnotis sihir’ Gus Dur ketika masih di pesantren menyatakan, Gus Dur harus dikategorikan menjadi dua; Gus Dur yang partikular atau juz’i dan Gus Dur yang universal atau kulli. “Kalau menggunakan bahasa orang pesantren, Gus Dur yanqasimu ila qismain; Gus Dur juz’iyyun wa Gus Dur kulliyyun,” ujarnya disambut tawa. Gus Dur sebagai sesuatu yang partikular atau juz’i, kata Moqsith, betul-betul harus diperhatikan karena sifatnya yang mudah sekali berubah. “Sebagai praktisi politik misalnya, Gus Dur dituntut bergerak zig-zag. Karenanya, seringkali langkah Gus Dur sulit diikuti,” jelasnya.

Langkah partikular Gus Dur yang mudah berubah dan zig-zag itu, tamsil Moqsith, laksana definisi i’rab dalam kitab nahwu Jurumiyyah, yaitu al-i’rab huwa taghyir ahwal awakhir al-kalim li ikhtilaf al-‘awamil al-dakhilah ‘alaiha (i’rab adalah perubahan akhir kalimat, karena perbedaan faktor yang masuk pada kalimat itu). “Gus Dur yang partikular atau juz’i, itu hanya pinggiran-pingiran atau ahwal awakhir al-kalim-nya saja yang berubah. Tapi Gus Dur yang universal atau kulli tidak pernah berubah,” jelasnya. “Gus Dur yang kulli, misalnya, tidak akan pernah menawar menyangkut advokasinya pada isu-isu pluralisme, dukungan atau perhatiannya pada kelompok minoritas. Gus Dur yang kulli juga tidak akan pernah menimbang apakah langkahnya secara politik merugikan atau tidak,” imbuhnya. Karena itu, harap Moqsith, kita jangan mudah terjebak dengan memperhatikan langkah Gus Dur yang partikular belaka.

Yang harus diperhatikan, katanya, adalah yang ada di dalamnya, bukan yang ahwal awakhir al-kalim. “Jangan sampai Gus Dur yang kulli ini dikalahkan oleh Gus Dur yang juz’i. Itu harapan saya sebagai anak muda. Ini fatwa dari saya,” terangnya. Dengan penyikapan demikian, aku Moqsith, dirinya tidak pernah gelisah atau gundah menatap sikap dan tindakan Gus Dur yang zig-zag tak bisa terdeteksi. “Itu nggak usah diperhatikan. Itu semata taghyir ahwal awakhir al-kalim li ikhtilaf al-‘awamil al-dakhilah ‘alaiha, karena perbedaan faktor yang masuk saja,” tandasnya. Moqsith juga menguraikan kelebihan Gus Dur dibanding pembaharu-pembaharu lainnya, yaitu penguasaannya yang kuat pada khazanah Islam klasik. Disamping melakukan kritik terhadap sejumlah tradisi, kata Moqsith, Gus Dur juga tetap mempertahankan tradisi itu sebagai bangunan dasar untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan pemikiran Islam. “Misalnya melalui pendekatan fikih dan ushul fikih-nya, Gus Dur melakukan pembaharuan pemikiran Islam. Ini jarang dipakai oleh Harun Nasution misalnya” ujarnya. Terma hifdh al-din, satu diantara al-dharuriyyat al-khams (lima prinsip dasar) yang lumrah dikenal dalam fikih klasik, di tangan Gus Dur dimaknai sebagai ‘kekebasan beragama’. “Ini luar biasa. Hifdh al-‘aql yang biasanya dimaknai larangan meminum minuman keras, di tangan Gus Dur menjadi bermakna kebebasan berfikir dan berekpresi,” terangnya. Karena alat ucapnya adalah tradisi, simpul Moqsith, maka pikiran-pikiran Gus Dur mudah mengalami penerjemahan pada tingkat praksis di lapangan. “Ini berbeda dengan pikiran Harun Nasution yang tidak menggunakan alat ucap tradisi. Resistensinya menjadi sangat tinggi,” katanya. Kendati mengagumi Gus Dur, Moqsith tak sungkan dan tak canggung melancarkan kritik. Misalnya tentang isu-isu kesetaraan laki-laki perempuan yang sepi dari sorotan Gus Dur. “Padahal isu ini pada tahun 80-an sudah cukup seksi dibicarakan di lingkungan pembaharu Islam. Namun Gus Dur, termasuk Cak Nur, mengambil posisi untuk tidak membicarakannya sebagai bagian dari agenda pembaharuannya. Mungkin mereka sengaja,” katanya. “Dugaan saya, kalau mengambil isu ini mereka akan menghadapi tembok besar para kiai. Tradisi selir dan poligami yang bersemayam di dalam masyarakat Jawa, itu agak sulit dihancurkan oleh orang-orang dalam pesantren sendiri. Tapi pelan-pelan, anak mudanya sekarang mulai melakukan pembaharuan pemikiran Islam dari perspektif perempuan. Ini kelanjutan para mentornya saja,” imbuhnya. Gus Dur, ujar Moqsith, juga jarang sekali berbicara isu-isu yang detail, semisal hukum menonton VCD porno dan sebagainya. “Padahal itu menarik. Fikih klasik itu sangat kaya. Kita bisa menemukan jawaban apa saja. Tidak ada satu pandangan yang tunggal di dalamnya,” pungkasnya.[nuha] Gus Dur, Manusia Diatas Manusia Masih ingat di memory kita, bagaimana seorang Gus Dur menyikapi setiap peristiwa yang dialami anak negeri ini, mulai isu tukang pijit hingga kasus ngebornya Inul Daratista, mulai yang ringan hingga masalah pelik, semua diselesaikan dengan enteng, dengan gaya khasnya “gitu saja ko’ repot !”Gus Dur adalah sosok Gus yang melebihi Gus itu sendiri, analisa masalah yang sering dilontarkan bukannya sengaja dibuat kontroversi agar menjadi sebuah isu tenar dan populis, melainkan benar-benar pemahaman kehidupan yang hakiki, beliau sudah mempunyai pemahaman yang tidak dipahami oleh kebanyakan manusia. Saya tidak bermaksud untuk mengkultuskan sosok individu dari seorang Gus Dur, beliau tetap sama dengan kita, manusia biasa yang suka dengan makanan, humor, politik dan semua pernak-pernik peri kemanusiaan. Yang membedakan adalah ilham beliau tentang kehidupan ini, baik dunia maupun akhirat.

Gus Dur telah menyederhanakan teori kehidupan, mempemudah jalan kehidupan, menjadi sosok panutan ummat. Disaat para Ustadz dan Kyai sibuk melakukan Poligami, beliau cukuplah satu. Disaat semua orang mengutuk Israil, Gus Dur malah berkunjung ke negerinya kala itu, disaat semua negara menghujat Israil karena melakukan penyerangan ke Gaza, lagi-lagi Gus Dur menjelentrehkan duduk permasalahannya, Beliau adalah Kyai Presiden sekaligus Presiden Kyai yang pernah dimiliki oleh negeri ini. Sehingga bagi orang-orang yang telah mengenal Gus Dur dan bisa memahaminya akan lebih mengerti makna kehidupan ini dengan lebih bijak dan santun, mengambil sisi kehidupan sesuai porsinya. Sedang bagi mereka yang masih hitam putih, sangat sulit untuk menerima jalan pikiran Gus Dur, bahkan cenderung bingung. Itulah Kyai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, manusia diatas manusia. Gus Dur-Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an Masuk Kategori: HOT NEWS Masya ALLOH…Gus Dur..istighfar sampeyan… Eling… Nyebut… Selagi ALLOH SWT masih memberikan kesempatan kepada sampeyan untuk hidup…selagi nafas belum di ujung tenggorokan…selagi…selagi…dan masih 1000 selagi masih ada kesempatan dari ALLOH, Gus.. Istighfar Gus…sebelum semuanya terlambat… :’-( Ya ALLOH … Yaa Rabbi… :’-( *menitikkan air mata utk statement Gus Dur ini…* JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno? Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an, ha-ha-ha.. (tertawa terkekeh-kekeh). JIL: Maksudnya? Loh, jelas kelihatan sekali. Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha… Wawancara lengkapnya baca di artikel ini.

BERITA TERBARU: JIL ADALAH SEKUMPULAN ORANG PENGECUT!!! MEREKA MENGGANTI ISI BERITA+LINK TTG KOMENTAR GUS DUR INI…!!! TIDAK PERCAYA? SILAKAN BACA DI SINI. 282 Komentar » URI untuk TrackBack artikel ini: http://tausyiah275.blogsome.com/2006/04/17/gus-dur-kitab-suci-yang-paling-porno-di-dunia-adalah-alquran/trackback/ Gus Dur boleh ngomong gitu, Mas Fahmi juga boleh nyuruh Istighfar. Tapi Gus Dur tidak harus istighfar, dan Mas Fahmi tidak perlu percaya kalau Al Qur’an adalah kitab suci yang paling porno. Adil sekali bukan? lebih adil lagi jika GD tidak perlu mengatakan hal2 ga penting seperti itu, mas Herman silakan baca komentar saya di blognya Toni Komentar oleh Herman Saksono — April 27, 2006 @ 5:05 am Kalau saya baca-baca, sepertinya Gus Dur justru mengikuti definisi ‘porno’ dari RUU APP, sehingga mengatakan bahwa Al Qur’an adalah ‘porno’. Di RUU APP ‘porno’ = merujuk ke organ yang terbuka. bukankah di RUU APP juga sudah dijelaskan detailnya…?? Sehingga, menurut saya yang dibilang Gus Dur memang benar dan tidak ada penghinaan thd Al Qur’an sehingga perlu istighfar. silakan berkomentar seperti itu..saya hargai…dan tolong juga hargai sikap saya Dengan mengacu RUU APP, maka buku seksologi kedokteran juga akan ‘porno’. Patung-patung di laboratorium anatomi juga akan ‘porno’. Demikian pula Al-Kitab dan Al-Qur’an juga (mungkin) akan ‘porno’. ehmm…hati2, jangan main hantam kromo Note : saya menulis ‘porno’ dengan tanda petik untuk menunjukkan definisi ‘porno’ ala RUU APP. hmm…nampaknya saya mesti muat artikel khusus tentang RUU APP ini… Komentar oleh Adi — April 27, 2006 @ 12:24 pm setuju ma yg diatas.. dan heran dengan yg nyuruh gus dur istigfar.. kae yg paling bener dan gusdur salah aja.. situ tuhan ya?! lho..tidak harus menjadi tuhan (ALLOH SWT) untuk meminta orang lain istighfar.. sudah kewajiban sesama muslim untuk saling mengingatkan jika ada kesalahan (menurut satu pihak) dan menjelaskan kenapa tindakan tsb dianggap ‘kesalahan’ masalah benar dan salah, untuk urusan dunia mungkin bisa kompromi…tapi untuk urusan akhirat…sudah jelas siapa yg benar dan siapa yg salah… nyebuttt.. istigfarr.. lho…anda sendiri menyuruh orang lain untuk istighfar? ah…tidak konsisten..

Komentar oleh noneedforyoutoknow — April 29, 2006 @ 5:12 pm haha, saya mah cuman nyoba ngikutin aja..[quote]sudah kewajiban sesama muslim untuk saling mengingatkan jika ada kesalahan (menurut satu pihak) dan menjelaskan kenapa tindakan tsb dianggap ‘kesalahan’[/quote]nah ini, apa ga mikir mungkin GD jg lagi mengingatkan dengan cara mengkritik?! mengkritik boleh2 saja…bahkan seperti quote yg anda sertakan..WAJIB!! tapi apakah tidak ada CARA LAIN mengkritik, selain menggunakan Kitab Suci saya dg nada ‘cemoohan’ dan guyonan…atau apapun itu, yang membuat orang bisa menafsirkan macam2?? Komentar oleh noneedforyoutoknow — May 1, 2006 @ 9:53 am Musti tanya dokter ahli syaraf nih,apa dampak dari serangan stroke yg berulang terhadap kemampuan berpikir seorang manula.Takutnya Gusdur ini mengalami kelemahan mental,dulu bumbu masak yg sudah di perikas di laboratorium dan dinyatakan mengandung babi masih dinyatakan halal sama gusdur. wah…mas Justus tidak boleh berkata kasar seperti itu…sudahlah…ALLOH SWT memang menciptakan bermacam-macam karakter manusia (+makhluk). Semua itu untuk menguji kita…seberapa sabar kita menghadapi karakter-karakter tersebut… Jadi serem juga sama yg namanya Islam Liberal, Al’quran di plesetin, ayat & hadits di debat. Allah SWT & Nabi SAW di pertanyakan, Islam di Gugat, masya allah. apa yg di cari yah ? dosa ? azab dari Allah SWT ? nama biar ngetop ? atau apa yah ? wah…saya tidak tahu persis mas Justus…mungkin yg suka melakukan aksi sebagaimana mas Justus sebut, bisa menjawab..?? Komentar oleh Justus — May 2, 2006 @ 11:46 am [quote]tapi apakah tidak ada CARA LAIN mengkritik, selain menggunakan Kitab Suci saya dg nada ‘cemoohan’ dan guyonan…atau apapun itu, yang membuat orang bisa menafsirkan macam2?? [/quote] itu kan bukan kitab suci sodara doang.. kitab GD juga tuh.. [jangan2 GD ga dianggap muslim sama situ?] hehe wah…bukan saya yg menyatakan GD bukan muslim lho saya hanya hendak menyatakan bahwa seorang muslim hendaklah bercanda yg baik…tidak perlu menggunakan Kitab Suci sebagai bahan lelucon…masih banyak contoh lain yg bisa digunakan yahh, GD mau ngomong gimana, itu urusan dia, tapi kan disini peran berita di media [dalam hal ini BLOG ini] dan penulis berita yg punya andil untuk meluruskan ato menjelaskan maksud dari omongan ini.. berarti, kalo banyak yg salah kaprah, salah anda! hehe halah…anda ngeles lagi…jika anda perhatikan, saya mengutip dari website-nya JIL… jika saya menggunakan logika anda, berarti memang JIL membuat banyak orang salah kaprah ya?? Komentar oleh noneedforyoutoknow — May 2, 2006 @ 12:28 pm ah, anda tipikal orang cerdas indonesia; mendalami satu dan lain hal tapi begitu mudah utk melihat hanya permukaan saja. tolong belajar lebih dalam lagi, kali ini lebih ke esensinya (terlebih ttg Islam itu sendiri) ya ya ya…terima kasih atas komentarnya.. anda sendiri mungkin saya golongkan tipikal orang pengecut indonesia…berkomentar tapi tidak berani menunjukkan jati diri anda Komentar oleh yeah — May 4, 2006 @ 9:25 am Menanggapi Pemilik Blog : Orang memang berhak dan wajib mengingatkan sesama muslim atau manusia pd umumnya. Tapi sifatnya tidak menuduh (meminta istighfar). Kenapa tidak ? karena toh kita sesama manusia, kita tidak bisa menggantikan Tuhan (Allah SWT). ehm…apa ada yg salah dg meminta istighfar? So, biarlah soal agama itu menjadi tanggung jawab setiap pribadi. Kita boleh saja mengingatkan, tapi sifatnya tidak menuduh spt itu, kecuali kalau kita merasa sebagai asistennya Alloh. lho…saya memang hanya mengingatkan kok.. Seharusnya ya, yang perlu kita kritik justru terorisme yang membunuh banyak orang, kekerasan atas nama agama, pengusiran dan pengancaman terhadap penganut Ahmadiyah, dst. Nah, kalau ini jelas-jelas perlu dikritik dan dituduh, karena jelas-jelas melanggar hukum. hukum mana dulu? hukum positif atau hukum agama? jika hukum agama yg dilanggar, kita memang HARUS bertindak Gus Dur dan JIL toh tidak pernah melakukan kekerasan, pembunuhan, pengusiran semacam itu kan. Kalaupun pikirannya tidak sesuai dengan Anda (beda interpretasi soal agama) ya biar saja nanti Allah yang akan menentukan mana yang benar dan salah. tapi mereka tidak perlu meracuni pikiran orang lain dg statement2 mereka ALLOH SWT sudah MENENTUKAN BENAR DAN SALAH MELALUI RASULULLOH SAW. Juklak dan juknisnya (petunjuk teknis) sudah tersedia di Al Qur’an dan As Sunnah kok Atau, anda masih ngotot pingin jadi asisten Alloh SWT ? Kalau saya tidak. ah…saya tidak merasa jadi asisten ALLOH SWT kok Komentar oleh Adi — May 5, 2006 @ 6:34 am

Tambahan lagi : Kenapa Gus Dur seolah “menghina” Al Quran ? Menurut saya beliau justru mengikut pendapat yang beredar di kalangan pendukung RUU APP, yang menganggap penolak itu bukan Islam dan kitab sucinya porno. Saya kutip wawancara tsb :JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno? terima kasih atas komentarnya, mas Adi Komentar oleh Adi — May 5, 2006 @ 6:38 am Subhannallah saya rasa dia berfikir seperti itu karena dia terlalu pintar,karena kepintaran itulah dia mendahulukan akal dari pada keimanannya,saya sebagai umta Islam merasa kesal dengan apa yang sudah dia bicarakkan,dia sudah tidak pantas lagi dikatakan sebagai kiyai,mana ada kiyai yang menghina Al-Kitabnya sendiri itu dia, masa kiyai menghina Kitab Sucinya sendiri?? *geleng2 kepala…* Komentar oleh Libasa — May 6, 2006 @ 3:39 am lalu kiyai yg menebarkan kebencian terhadap agama lain adalah pantas menyandang gelar tersebut?! mungkin tidak menebarkan…tapi MEMBELA DIRI dari agama lain yg menyerang.barangkali mas NNFTK bisa menyebutkan nama kiyai2 yg anda anggap menebarkan kebencian tsb?

Komentar oleh noneedforyoutoknow — May 10, 2006 @ 4:19 am assalamualaiku sodaraku… wa’alaykumsalam wr wb kalau boleh saya kasih gambaran sedikit tentang konflik diatas.. maaf ya.. sebelumnya.. 1. seorang arsitek kemungkinan besar pekerjaanya akan lebih dimengerti oleh arsitek juga. 2. seorang designer juga demikianjadi saya fikir jangan lah berlebihan berkomentar kalau kita belum merasa sebanding, maaf sodaraku..maksud saya dengan tingkatan yang dimiliki seorang KH Abdul Rahman Wahid, kemungkinan besar akan hanya selevelnya, saya yakin juga GD tidak semata-mata mengeluarkan perkataan itu kalau dia tidak mengerti betul dalamnya Al-Quran, jadi patut kita sadari bersama jika kita masih hanya tau kulitnya aja, lebih baik kita diam, dan coba cari tau apa dibalik itu, .. ingat hujatan itu berkecenderungan berlebihan dan mendekati fitnah. .. KECUALI .. kita sangat2 faham Al-Quran.. nah itu lain lagi..Benar memang kekhawatiran anda berdasar, tapi apakah yang anda khawatirkan sama seperti khawatirnya anda .. belum tentu.. yah.. saya menutip komentar diatas “masalah benar dan salah, untuk urusan dunia mungkin bisa kompromi…tapi untuk urusan akhirat…sudah jelas siapa yg benar dan siapa yg salah…”,saya mau mengomentari siapabilang urusan akherat sudah jelas siapa yang salah dan siapa yang benar.. konteks yang anda bicarakan terlalu jauh… ini masalah duniawi mas.. dan masalah akherat urusan Allah, dan itu sangat sulit hitunganya, dimata manusia salah belum tentu dimata Allah INGAT ITU…!! .. maaf anda fikir mencemoohkan orang lain tanpa klarifikasi yang clear, apa itu bukan perbuatan salah.. waduh.. subhanallah .. maaf.. maaf.. sekali lagi maaf.. INTINYA LEBIH BAIK KITA BERHATI-HATI.. berhati2 bicara dan hati hati kalau KOMENTAR.. takutnya masalah ini jadi besar karena KOMENTAR-komentar sepihak.. wah.. gawat ini.. maaf jangan tersinggung saya cuma turut bersedih kesemuanya.. hmmm…untuk topik GD, saya sudah tutup…jadi saya tidak akan komentari lebih jauh..

Komentar oleh muhammad faozy — May 22, 2006 @ 2:12 pm menurut aku,orang yg menyuruh gusdur agar beristighfar,justru dia orang yg bukan sekedar sok suci,tapi juga sok pintar.ungkapan itu jgn hanya dilihat redaksinya dong om,tapi lihat dulu orangnya!gusdur seorang ahli filsafat dan tasawwuf yg ucapannya hanya bisa di mengerti oleh mereka yg menguasai kedua ilmu tersebut.bukan orang2 seperti kalian, cengos tapi polos tak mengerti teori berdialektika,padahal jka orang2 berhenti sejenak tuk berfikir tentang maksud gusdur,saya yakin mereka dapat mengerti dan sampai pd pemahaman yg fositif.yg plg penting itu jgnlah kita merasa sebagai org yg pintar dlm segala hal sehingga tak terbiasa untuk berlogika secara jernih sebelum menilai ungkapan seseorang.toh betapa banyak kebenaran2 di alam ini yg telah kita persalahkan,hal itu disebabkan femahaman kita yg dangkal dan males untuk menggunakan nalar kita sendiri secara maksimal. terima kasih atas komentarnya mas Deden.. saya tidak butuh penilaian dari mas Deden kok anda sendiri komentarnya kok mbulet…mau bilang apa sebenarnya?? Komentar oleh deden sajidin — May 24, 2006 @ 8:59 pm saya setuju dan sangat sangat setuju mas sajidin, persis sesuai dengan yang aku bilang,, semua itu akan terungkap sebenarnya oleh orang orang yang selevelnya ( GD), ya bukan berarti kita yang selevelnya lalu berkoar bicara kebenaran.. harusnya kita mawas diri.. untuk menyjelek2 orang… kalau saya perhatikan koentar2 miring mengenai GD diatas, ini bukan mengomentari sifat dan sikapnya .. tapi malah ke individunya.. dan itu tidak dibenarkan.. hati2 terhadap profokasi berkedok kebenaran.. bahaya.. yu kita sama2 menahan diri dan belajar memahami.. mana yg lebih baik:- orang level tinggi bicara dengan levelnya terus menerus tanpa memikirkan orang lain salah tanggap dg ucapannya?atau – orang level tinggi bicara sesuai dengan level orang yg dia ajak bicara? Komentar oleh muhammad faozy — May 25, 2006 @ 6:11 am wah hati-hati dong….jangan menyuruh orang seenaknya untuk istighfar… lho..seenaknya saja bagaimana mas Muhammad? soal keyakinan tanggungjawabnya ya antara manusia dengan Alloh saja… ah…(maaf) jawaban standar … belon tentu situ yang menyuruh Istighfar lebih baik dari Gus Dur…belon tentu juga situ kalo ke akhirat ke surga…karna komentarnya itu lho yang kayaknya mewakili Tuhan aja…. wah…mewakili Tuhan? apa yg salah dg komentar? komentar GD sendiri bagaimana? apa bukannya komentar GD seperti yg ‘menurunkan’ Al Qur’an??

Komentar oleh muhammad — May 26, 2006 @ 4:14 pm mana ujungnya nih mas, maksudnya apa ya mas Zhall? aku tidak begitu jelas… kalo gitu jalanin aja apa yang baek buat masing2, masalahnya gini salah- gitu salah, itulah manusia; tapi ALLOH SWT sudah memberi petunjuk kan?? yang punya masa kadaluarsa/ habis masa berlakunya, tapi ngomong2 udah pada tau blom neh yang gak abis masa berlakunya…. hahaha…bisa saja mas Zhall ini.. Komentar oleh zhall — May 26, 2006 @ 5:08 pm Udahlah……………. gitu aja ko repot2 kaya anak TK aja, dewasa dikit kenapa, jangan diterjemahkan tekstual kaya gitu lah……lagian. Senangnya ko bikin profokasi nda usah merasa benar sendiri, harusnya kita bisa introsfeksi, refleksi kenyataan hari ini kitaituh kaya apa. loh…justru saya juga mengajak introspeksi dan refleksi, mas Agus Tuhan itu maha tahu mana yang haq dan mana yang bathil.Tapi aku bangga gus dur mengatakan demikian, biar umat Islam pada mikir, paling tidak ikut komentar lah……….. mengatakan sesuatu yg membuat heboh, kesannya cari sensasi…tidak ada bedanya dg artis.. ayo kita istihgfar bareng2 Astaghfirullah al adziiimmm… Komentar oleh Agus — May 26, 2006 @ 7:45 pm Saya bangga dengan Gus Dur yang bisa menelaah akar permasalahan sebelum mengungkapkannya (mengajukannya).

Jangan kita bicara atau memaksakan kehendak atas nama agama karena pada dasarnya Tuhanlah yang menentukan baik buruknya kelakuan kita. Kalau kita melakukan tindakan kekerasan, pencemohan, pemaksaan kehendak walaupun atas nama Allah/Tuhan agama/kesopanan/moral/dll) itu tetaplah salah di mata Allah, bahkan itu lebih buruk dari pendosa lainnya. Hidup Gus Dur !!! marilah kita berkaca dan menilai diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum menilai orang lain, jangan merasa paling benar dan paling suci. Sekali lagi Hidup Gus Dur !!! Maju terus bersama bangsa ini. Pertahankan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Hapuskan kemunafikan dari muka bumi ini… hihihhi….*tertawa saja…* makasih komentarnya mas Agus…:) oya…jika selalu meminta berkaca ke diri sendiri sebelum menilai orang lain, tidak akan ada kemajuan loh mas..:)

Komentar oleh Agus — May 27, 2006 @ 3:28 am anda menyuruh istighfar kepada GD , tapi anda membiarkan para habib dari FPI yang melakukan kekerasan kepada umat islam sendiri, jadi bingung aku dengan pola pikir pemilik blog ini, apa pernah nabi Muhamad SAW mengajarkan kekerasan, justru para Habib atau kiai yang mengobarkan kekerasan dan anarkis lah yang harus istighfar loh..mas Habib, aku sudah tulis juga di beberapa artikel, bahwa aku juga TIDAK SETUJU dg SWEEPING dan KEKERASAN… sekarang anda lihat konteksnya…menghina Al Qur’an dg anarkis, kira2 mana yg lebih dekat dg urusan ‘keimanan’? lagipula, para Habib dan Kiai tersebut barangkali sudah jengkel, karena banyak pelanggaran yg dibiarkan aparat…sementara konteks GD?

Komentar oleh habib — May 27, 2006 @ 4:05 am Menurut pengamatan Saya,GD melontarkan komentar seenaknya, tanpa meninjau lebih dahulu pernyataan itu. Kita faham , bahwa Banyak sekali kitab-kitab lain selain AlQur’an yang sifatnya lebih cabul dan porno. Sebutlah diantaranya kitab Kamasutra yang justru oleh GD tidak dianggap cabul dan Porno. bahasa AlQur’an adalah bahasa yang angat santun,sopan dan halus. Kalau ada yang mengatakan GD adalah ahli filsafat, memiliki kedalaman ilmu yang tiada bandingannya……Sedalam apa sih ilmunya GD bila dibandingkan dengan ilmu yang terkandung dalam AlQur’an. Mana yang lebih filosofis, bahasanya GD atau kah AlQur’an. betul mas Khairil…siapa yg sebenarnya mesti diikuti? GD atau Al Qur’an? lalu, mengapa mengajak orang utk istighfar malah dikecam orang yg mengajak? *geleng2 kepala…* Komentar oleh Khairil Anas — May 27, 2006 @ 5:49 am kita harus memandang gusdus sebagai Kiai yang banyak ilmunya, apa yang dikatakan kita tidak mengerti, untuk itu kita tidak boleh menghina sembarangan justru karena banyak dari kita yg tidak mengerti, GD sbg Kiyai, tidak boleh bicara sembarangan Komentar oleh nendyas — May 28, 2006 @ 6:13 am Dulu KH As’ad Syamsul Arifin bilang dia ga bisa nerusin berimam ke Gus Dur karena sewajiban untuk berimam sudah batal karena Gus Dur kentut. Dan ternyata Gus Dur memang punya penyakit suka kentut-kentut, jadi berhenti aja berimam ke beliau.Dan buat Gus Dur, mbok ya kalo suka kentut jangan maksain diri memposisikan diri jadi imam getoooo tenang mas Edward…jangan terlalu emosi Komentar oleh edward saeed — May 28, 2006 @ 10:58 am ….udah sejak zaman dulu tokoh seorang Gus Dur paling saya benci, omongannya ceplas ceplos kyak orang gak beres, ngelantur, sok tau masalah pokoknya saya super hiper anti sekali. Saya anti bukan kemudian gak mempelajari seorang Gus Dur tapi selalu saya cermati semampu saya …. dan setelah sekian tahun ….Maha Besar Allah …… ternyata Gus Dur itu klo boleh saya ktakan ternyata orang super jauh … amat jauh di atas saya ……. hingga segala kta yg diucapkannya (yg selama ini saya anggap ceplas ceplos dll) ternyata bila dipahami (kdang saya bisa memahami setelah berhari2, berminggu2, ato sangat lama) dlm katanya terkandung makna yg sangat dlm dan sama sekali gak ngawur …. yg hingga saat ini memberikan saya pelajaran bahwa perlu pemikiran yg amat sangat dlm terhadap sesuatu yg ada … bahwa bungkus tak mencerminkan isi sama sekali …dan saat ini Gus Dur adalah orang yg teramat saya kagumi ….gak masalah sihh nyuruh Gus Dur istighfar … tapi yg saya tau dan saya yakinin dalam denyut nadinya dan nafasnya ada dzikir….. anda tahu darimana? (mengutip komentar dari komentator lain) apakah anda ALLOH atau wakil ALLOH? … Gus Dur itu mudah dipahami dg teknik dzikir … coba aja baru komentar terima kasih untuk sarannya jika memang bisa dipahami dg dzikir, kenapa kemarin saat di Purwakarta banyak yg demo ttg komentar GD ini? apa mereka masih kurang dzikir?

Komentar oleh orang biasa — May 28, 2006 @ 2:45 pm Hahahaha… Gus Dur banyak-banyak istigfarlah, sudah disuruh bercermin koq ndak ngerti2 tenang mas Jesie…kita sedang melawan main stream-nya GD loh.. Komentar oleh jesie — May 29, 2006 @ 1:46 pm Gus dur blh intelek, tapi kan ngga semuanya yang mendengar/merespon ucapannya GD,bisa mengerti,krn manusia itu berbeda satu sama lain,jadi jangan hanya menempatkan k’intelektualnya aja(jadi orang jangan takabur,pintar boleh tapi harus menghargai perasaan orang yang pemikirannya d bawahnya,jadi jangan ngomong asal ceplak aja),kan banyak orang awam yang tdk mengerti dgn makna yg tersirat dari ucapan GD, yang ada malah menimbulkan fitnah dan sara. tepat sekali mas DSM…:) Komentar oleh dsm — May 29, 2006 @ 10:37 pm seorang kyai adalah figur dan panutan… sehingga apa yang diucapkan dan di lakukan akan selalu dianggab serius bagi umat. dari itulah kenapa kiayai dimulyakan di dunia dan di akhirat, sebab dia mampu menjaga tindak tanduknya yang mampu memberi pengayoman bagi umat. GD sebagai seorang kiayi tak salah jika juga pandai dalam berpolitik karena dalam islam juga ada ilmu mantik ilmu balaghoh. tapi masalahnya tak seluruh umat tahu akan hal itu. sungguh tragis jika statement seorang yang difigurkan dan memiliki pengikut yang besar walau “guyonan” malah menimbulkan interpretasi yang salah apalagi menimbulakn keresahkan bagi pengikutnya. kiayi bagi saya harus punya jiwa pengayom pelindung, apapun yang di perjuangkan apapun yang di bawakan harus membawa nama baik ALLAH SWT dengan cara yang membawa ketenangan dalam masyarakat.menurut saya GD adalah GD biarkan dia bersama caranya, yang terpenting kita harus lebih giat menjaga keimanan kita serta juga lebih waspada terhadap musuh kita kaum misionaris manapun yang mencoba memecah belah umat, ingat untuk menumbangkan pohon janganlah pakai kapak besi tapi pakailah juga pegangan kayu agar ayunan bisa lebih bertenaga. waspadalah …!waspadalah ..! tepat sekali mas Arief…seorang Kiai (ulama) idealnya memang mesti LEBIH menjaga tindakan dan ucapan…jangan sampai timbul salah tafsir dan salah persepsi, yg ujung2nya mengarah ke tindakan anarkis Komentar oleh arief rahman — May 30, 2006 @ 12:16 pm ahhhhhhhhhh… tolong kaji lagi Al-Quran.. tentang akibat dari perdebatan.. jelas kok di Al-Quran.. brang siapa yang memperdebatkan sesuatu yang akhirnya makin besar efeknya.. ya .. itulah yang bertanggungjawab atas isu yang sesungguhnya.. INGGGAATTTTTTT.. jaga lisan sabar…sabar… Komentar oleh muhammad faozy — May 30, 2006 @ 11:11 pm Terus terang saya heran, kok masih banyak juga orang ngga mikir untuk jadi pengikut setia atau pembisik2 gusdur, padahal kita sudah sering mendengar kelakuan gusdur yang nyeleh, yang sembarangan ngomong, yang katanya intelektualnya tinggi, tapi sikapnya kayak orang yang ngga punya pikiran. Seharusnya gusdur itu sydah harus insyaf, sadar, dan bertaubat. Jangan lagi berbuat hal-hal yang bisa buat orang bertengkar, saling menuduh,menjelek-jelekan satu sama lain yang ujungnya perpecahan antar umat islam.Kita harus belajar dari sejarah, dari dulunya umat islam itu hancur karena gara2 hal seperti ini,akhirnya masuk pihak ke3 dan mengadu domba ( kalo dulu ada istilah de vide at impera, apa betul tulisan saya juga sudah lupa, abis pelajaran sd, smp seeh…hehehe).Saya pernah melihat waktu gusdur dibaptis digereja.saya punya VCDnya.emang ngga ori lagi, tapi saya copy dari VCD orinya.Disitu gusdur dijanjikan akan disembuhkan penyakit matanya,saya akhirnya jadi bertanya-tanya dan bingung sendiri, gusdur itu agama islam atau udah pindah ya????entahlah kawan, hanya tuhan yang tau…….( “sambil ngurut kening…*&$#???) entahlah mas Zufar…saya sendiri tidak mengerti kok…

Komentar oleh zufar sahara — May 31, 2006 @ 10:26 pm Sekali lagi saya himbau kepada pengikut setia gusdur, yang loyal dan terus setia kepada gusdur, apakah saudara tidak memikirkan segala tindak-tanduk gusdur itu justru memecah-belah kita selaku umat seagama?terus terang saya heran, saaaaaangaaaat heran sekali, kenapa segala kebodohan yang dibikin gusdur kok malah di ikutin???sadar hai kawan….saya kenal banyak kyai( walaupun mungkin kyai lokal…ataupun yang sering nongol di tipi, kebanyakan mereka itu berusaha membawa umat kejalan yang benar, jalan kedamaian, penyejuk hati, pemersatu umat).tapi, sama kyai yang satu ini, yang mungkin selalu jadi panutan sama segelintir orang(maaf sebelumnya,sebab, setahu saya islam di indonesia luas, dari sabang sampai merouke, dari pulau sumatra, jawa, bali, kalimantan, sulawesi, papua, setahu saya yg fanatik gusdur hanya dijawa, dan itu hanya sebagian kecil)selama ini gd selalu berusaha memecah belah umat dengan ucapan yang kontroversial, tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran qur’an(seperti yg saya uraikan diatas, saya punya VCD pembaptisan gusdur!!)dan mungkin masih banyak lagi….(mungkin kawan2 lain ada yg lebih banyak referensinya dari saya).sekali lagi saya ingatkan, coba fikir lagi bagi kawan2 yg sekarang masih terus memuja gusdur, menjadikan gd panutan, dan mungkin ingin menjadikan presiden lagi( saya berdoa semoga jangan sampai gd jadi presiden lagi, saya pribadi malu…kayak ngga ada orang yg lebih baik dari gusdur, biar dari segi pemikiran maupun fisik.FISIK…????ya…fisik, sangat berperan dalam kinerja seseorang.tidak ada alasan untuk bantah hal tersebut…tul ngga!saran saya, mending gusdur lebih istirahat total, lebih mendekatkan diri kepada allah swt (kalo masih agama islam, tapi lako ngga…:) )atau pulang kedesa, hirup udara segar, dan selalu berdoa semoga saat ajal menjemput nanti, dikau udah siap, ok gus…salam hangat dari saya singa gurun….!!!!!! hwaduh…sabar mas Zufar…jangan emosi.. Komentar oleh zufar sahara — May 31, 2006 @ 10:46 pm siapa yang merasa terpecah belah… siapa ??? aku yakin orang orang yang merasa terpecah belah itulah orang2 yang berselisih.. ingat orang yang berselisih itu di benci alloh.. kaloau kita gak merasa berselisih lenapa harus merasa terpecah belah.. saya malah lebih heran kepada Mr. jufar .. waduh hati2 tentang paparan anda .. bisa menjadi fitnah.. pernah anda berdialog dengan gusdur langsung dan menanyakan hal2 yang anda sebut diatas.. kaloau belum hati2 mas malah bisa jadi fitnah.. mendingan kita jaga hati.. filter informasi.. dan jada diri dari mendekati hal2 yang membawa ke dosa.. saya fikir itu lebih baik.. maaf bukan berarti saya pengikut gusdur tapi.. kita sama sama muslim.. .. dan pastidong tau batasa2 seorang muslim.. maaf dan terimakasih wah…sabar…sabar.. Komentar oleh muhammad faozy — June 1, 2006 @ 10:26 pm ….duhhh Gusti ………web site ini mengapa jadi tempat tuk ngomongin orang saya orang yg sedikit ilmu ini jadi malu baca web ini.kebenarankah ….. fitnahkah…..…ya Allah apa maaf itu ada…. dihati kami……kebencian itu tertaut pada diri atau hati… hmmm….terima kasih komentarnya mbak Daku Komentar oleh daku — June 3, 2006 @ 5:09 pm Menurut saya,Dalam dialog tersebut ada kata kata yang terpotong sehingga menimbulkan kontra yang tajam.Yang memotong dialog tersebut adalah pihak yang mengeluarkan pertama yaitu JIL,tujuannya tak lain memang menciptakan kontra,dan ini berhasil.Coba kita lihat di block resminya gus dur yang berjudul gus dur kritik otak porno.semuanya insyaallah akan jelas memang JIL adalah pengecut kok Komentar oleh assyaukany — June 4, 2006 @ 1:19 pm KH. Gus Dur dah bukan sekali ini saja bikin ulah. Menyakiti kaum muslimin baik sengaja atau guyon waton sa’ udele dhewe. Benarlah hadist Rasulullah yang menyuruh hati-hati dalam guyonan yang kelewatan karena bisa meMATIkan HATI. Orang yang sudah tahu ketidakwarasan Gus Dur dan masih juga membelanya adalah lebih tidak waras. KH. Gus Dur yang dipuja2 banyak orang dan bahkan sampe dianggap wali… (wali setan mustinya, wa naudzubillah) tentu bukan anak kemaren sore yang nggak tahu menahu kalau mengolok-olok Al-Quran itu dengan keyakinan ataupun kebodohan bisa membuat si pengolok dihukumi kafir/ murtad dari Islam. Al-Quran adalah kalamullah, berarti dia sudah membuka konfrontasi langsung dengan Allah. TIDAK TEPAT KALAU beliau DIMINTA UNTUK ISTIGHFAR…!!! Tetapi lebih berat lagi yaitu disuruh mengulang SYAHADAT. Bersyukurlah beliau ini hidup di negeri sekuler macam Indonesia ini. Kalau tidak, tentulah sudah lama beliau ini jadi kompos. Orang yang sombong(tidak mau menerima kebenaran), ahlul bid’ah macam beliau ini baru mungkin akan sadar kalau sudah nyawa di ujung leher. Antek2nya, fans beratnya, dan orang2 yang (ikut2 buta) mengikutinya, menyebarkan pemahamannya akan semakin menambah berat gudang dosa yang beliau pikul. Tidakkah sebagian kalian yang ada di sini membaca bahwa Allah juga melaknat ABU LAHAB(dengan MENYEBUTKAN NAMANYA) di dalam Alquran padahal beliau dulu juga dikenal suka memberi makan para peziarah Kabah? Membicarakan keburukan ahlul Bidah dan wali setan macam beliau ini adalah kewajiban untuk mengingatkan ummat akan bahayanya dan jangan sampai mengekor. Fanatik hanya untuk Rosulullah. Semoga Gus Dur masih diberi Hidayah Taufik oleh Allah azza wa jal untuk rujuk, kembali ke Islam yang lurus.Amiin wah…komentarnya mas Bujang lebih pedas dari isi artikel ini malah….hihihi.. sabar mas Bujang… Komentar oleh Bujang — June 7, 2006 @ 9:41 am Mas Bujang, Bener Banget tuh….. terima kasih komentarnya, mas Sugeng Komentar oleh NoName — June 8, 2006 @ 3:39 pm Saya rasa Gus Dur memiliki kecerdasan intelektual yg memang sedikit rumit untuk diikuti oleh khalayak umum seperti saya . namun bila ditelaah lebih dalam akan maksud maksud yg diutarakan Gus Dur dalam setiap kesempatan….Saya menjadi yakin bahwa beliau memang memiliki tingkat pemahaman yg luar biasa…. tapi mas Ardians, mestinya beliau menyampaikan dg bijak, dengan kata2 yg bisa dimengerti orang banyak… Rasululloh SAW sendiri yg ilmu agamanya langsung dari ALLOH SWT, senantiasa berdakwah dg bahasa yg dimengerti khalayak Komentar oleh ardians — June 9, 2006 @ 10:14 am GD sudah tidak didukung lagi oleh sebagian besar kaum NU, dia lebih banyak didukung oleh golongan liberal yang menolak RUU APP. Kalau dia mengaku seorang penganut paham demokrasi (baca: demo crazy), alangkah baiknya dia memberikan statement yang cerdas tanpa menimbulkan polemik. Permasalahannya dia menyebut Al-Qur`an yang notabene adalah kitab suci umat Islam, tentu ini sangat disesalkan. Saya mohon, kepada saudara-saudara fans GD untuk tetap kritis, jangan karena kultus individu kebenaran dikesampingkan. GD bukan malaikat yang selalu benar, dia adalah manusia biasa seperti kita yang butuh nasihat. Wassalam sabar mas Hasan… terima kasih komentarnya Komentar oleh Hasan — June 9, 2006 @ 2:29 pm Ass. Wr. Wb. wa’alaykumsalam wr wb Musibah yang sebenar-benar musibah adalah ketika manusia sudah kehilangan akhlaq yang baik, jalan terbaik untuk mencapai akhlaq yang baik adalah setiap pikiran, ucapan, dan tindakan kita harus selalu berbanding lurus dengan ketentuan Al’Quran. Sebagaimana disampaikan oleh Aisyah RA, bahwa Al Qur’an berjalan adalah Rasullullah SAW, maka dengan melaksanakan sunnah Rasul, insyaAllah kita terjaga dg akhlaq Al Qur’an dan selamat dunia-akhirat. Jika konteks wawancara GD di JIL yang pada akhirnya menimbulkan Pro-Kontra, maka yang terbaik bagi kita adalah: 1. Menelaah apakah Rasul pernah mencontohkan, atau paling tidak pernah melakukan sesuatu yang mempunyai equalisasi/padanan dengan konteks wawancara di JIL itu?, jika dari berbagai sudut tidak bisa di equalisasi dengan sunnah Rasul, maka itu jelas tidak dibenarkan. 2. Dalam berkomentar haruslah merefer kepada sunnah Rasul yang berbunyi: “siapa yang membuka aib sudaranya, maka akan terbukakan aibnya oleh Allah SWT di dunia dan akhirat, siapa yang menutup aib saudaranya, maka akan tertutupkan aibnya oleh Allah SWT di dunia dan akhirat”. Jadi menjauhkan diri dari membuka aib GD adalah akan menjaga kita dari ke-obyektifan pendapat kita. 3. Segala Pikiran, ucapan dan tindakan kita haruslah me-refer kepada sunnah Rasul SAW, sebagaimana sabda beliau SAW;”Barang siapa menghidup-hidupkan sunnahku, maka dia cinta kepadaku, barang siapa cinta kepadaku, maka dia akan bersama aku di Surga (sambil merekatkan jari telunjuk dan tengah beliau SAW, sebagai tanda dekatnya)” Yakinlah bahwa kesemua yang terjadi ini (pro-Kontra) tidak akan mengurangi Kebesaran dan Kebenaran Allah SWT. Dalam kondisi apapun, istighfar haruslah terus terkumandang dari mulut dan hati kita agar kita terjaga dan sadar bahwa manusia adalah tempatnya salah, sebagaimana dibiasakan oleh Rasul SAW, meskipun beliau SAW adalah manusia Machsun.Semoga bermanfaat. wah…terima kasih sekali komentarnya, mas Luthfie Wass. Wr. Wb. wa’alaykumsalam wr wb Komentar oleh luthfie — June 13, 2006 @ 2:06 pm saya ambil dari komentar pendukung GD ( maaf anda fikir mencemoohkan orang lain tanpa klarifikasi yang clear, apa itu bukan perbuatan salah.. waduh.. subhanallah .. maaf.. maaf.. sekali lagi maaf.. INTINYA LEBIH BAIK KITA BERHATI-HATI.. berhati2 bicara dan hati hati kalau KOMENTAR.. takutnya masalah ini jadi besar karena KOMENTAR-komentar sepihak.. wah.. gawat ini..) MENYARANKAN ORANG BERHATI2 BERBICARA KENAPA TIDAK MENYARANKAN GD AGAR BERHATI2 BER BICARA (tapi lihat dulu orangnya!gusdur seorang ahli filsafat dan tasawwuf yg ucapannya hanya bisa di mengerti oleh mereka yg menguasai kedua ilmu tersebut.bukan orang2 seperti kalian, cengos tapi polos tak mengerti teori berdialektika,padahal jka orang2 berhenti sejenak tuk berfikir tentang maksud gusdur) BERARTI YANG MENGADUKAN GD ATAS PENGHINAAN TERSEBUT ( ULAMA) TIDAK MENERTI ILMU TASAWUF DAN FILSAFAT,.. CKCKCK Indonesia mayoritas islam ( ada undang2 porno ko malah di tolak ) yang nolak islam lagi alah2,.. geleng2… IKUTILAH AJARAN ALLAH S.W.T DAN NABI MUHAMMAD S.A,W YANG SEBENAR2NYA YANG TERCERMIN DALAM AL-QURAN DAN AL-HADIST. sabar mas Makhful…jangan ikut2 emosi.. terima kasih komentarnya Komentar oleh Ikhtiar & tawakal — June 14, 2006 @ 2:11 pm kayaknya,,,mereka yg terus2an nyalahin gusdur gak nyambung2 deh ama komentar pertamanya gw. padahal maksud gw …ya jangankan ucapan gusdur ,,ungkapan tuhan dlm al quran skalipun,,,, kalau di fahami spotong2 dan di baca spenggal2 artinya justru malah bertentangan,maka bagaimana mereka menafsirkan ayat fawailul lil mushalliin (neraka wail lah tempat bg org2 yg suka shalat) dan wa makarallaah wallaahu khairul maakiriin(dan Allah tlh berbuat makar dan Allah lah yg paling makar dr sekian banyak org2 yg berbuat kemakaran).nah dari 2 penggalan ayat di atas tadi..jls al quran pun bisa di plintirkan oleh org2 yg mempunyai kepentingan politik dan bisa di salah fahami oleh org2 yg berotak tapi tak berakal sehat.,,apalagi ucapan gusdur….. tapi org yg brakal sehat pasti akan bertabayyun (berkonfirmasi) terlebih dahulu kpd gusdur bkn lantas memelintir ucapannya demi kepentingan politik atau ingin menarik simpati publik seperti yg di gembor2kan oleh preman preman berjubah dan bersorban putih,mirip kayak telur kacingcalang….. wah…mas Deden benar2 pendukung GD sejati… Komentar oleh deden sajidin — June 21, 2006 @ 7:03 am Ass. wr wb Mengapa harus bangga Kalo si Abdurahman Wahid adalah ahli tasawuf? (mengutip dari http://smd.atibidah.net)Katakan, Tasawuf bukan Islam! Berikut ini kami jabarkan dengan ringkas tentang pertanyaan : “apakah tasawuf bagian (kelompok) Islam ?” Maka katakan: Tasawuf ber-aqidah Sufi, karena tasawuf berbeda dengan aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang merujuk pada al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih. Jika ditanya: ‘ Bukankah dia juga menggunakan al-Qur’an dan Hadits’ ? Maka katakan: Tasawuf melencengkan makna al-Qur’an dan tokoh tasawuf tidak ada yang menjadi ahli hadist, bahkan sebaliknya mereka ahlul kalam semua. Para tasawuf menetapkan ‘ilham’ merupakan wahyu yang dimiliki para wali mereka hingga sekarang. Sehingga mereka mendapat petunjuk dari Tuhannya kapan saja baik saat terjaga atau mimpi.Tafsir mereka adalah isyarat, dimana setiap huruf pada al-Qur’an mengandung makna yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali wali mereka termasuk Nabi Muhammad Shalllallahu ‘alayhi wa sallam, sehingga penafsiran ayat pada al-Qur’an yang dianut oleh agama Islam tidak sama dengan mereka. Allah ta’ala menurut tasawuf dan tarekat lainnya dapat berada (wihdatul wujud) pada makhluk yang diciptakan, bahkan pada kambing sekalipun.Rosulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menurut tasawuf tidak mengetahui apa-apa tentang ilmu agama Islam, sebaliknya tarekat lainnya meyakini bahwa Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah Allah ta’ala yan bersemayang di ‘Arasy.Wali yang sudah mencapai tingkatan alim, keramat juga sempurna menurut tasawuf adalah lebih mulia dari pada seoarang Nabi.Mereka memiliki dewan wali yang berkumpul di Goa hira, untuk menunggu takdir-takdir manusia.Surga tidak pantas dicari menurut tasawuf, karena akan mengurangi kesempurnaan, sebaliknya neraka adalah tempat yang paling nyaman dan nikmat bagi tasawuf.Fir’aun dan Iblis adalah mahkluk yang paling bagus aqidahnya, karena tidak mau sujud kepada Nabi Adam ‘alayhis salam, dan tidak patuh kepada Allah ta’ala dengan mengatakan “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi, dan fir’aun termasuk orang yang beriman dan masuks surga.Tidak jelas siapa Nabinya, apa Kitabnya, Siapa Tuhannya.Katakan 10 alasan itu untuk menolak ajaran tasawuf di tempat anda, jika mereka mengelak dengan alasan yang ada, maka katakan padanya ” Sesungguhnya hanya ada 2 kelompok yang dapat selamat dari mereka ” Orang awam, yang baru mau mengenal tasawuf. Maka ajaklah dia untuk menghindari pengajian-pengajian tasawuf ditempat anda.Orang yang sudah sampai tingkat atas dan mendapatkan hidayahNya, maka dengan sendirinya akan mengakui kerusakan tasawuf seperti Imam Ghazali.Adapun orang yang kamu dapati sampai sekarang masih sibuk dengan tasawuf, mencari tahu hakikat Allah ta’ala, meneliti perkara ghaib yang hanya Allah ta’ala yang mengetahui, maka menghindarlah, tutup telinga anda mendengar ocehannya, jangan membaca buku-buku mereka, jangan duduk-duduk dimajelis mereka, jika bertemu tokoh mereka…larilah!! Jadi kesimpulan gampangnye kalo kita ketemu abdurahman wahid si ahli tasawuf (katenye sih) maka hidarilah segera. Orang2 yang bangga disebut nadliyin (ormas pendukung berat Si GD) ini pun harus di sentil lagi tingkat keimanan (ISLAM)nya. mereka panutannya adalah GD atau Nabi Muhammad SAW sih???? kalo panutannya / idolanya adalah GUSDUR…. astagfirullah…. istighfar mas…. tugas kita sebagai sesama muslim adalah sekali lagi mengingatkan… wassalam terima kasih atas sumbangan artikel + komentarnya, mas Singodimedjo Komentar oleh Singodimedjo — June 21, 2006 @ 3:39 pm aq setuju ama komentar nya sdr Bujang..bahwa fanatik hanya untuk rosululloh saw.sedangkan gusdur adalah salah seorang ulama,dan Bujang harus tau bahwa ulama adalah pewaris para Nabi,,,,heh Bujang…ente pernah ketemu langsung gak ama gusdur???? pantesan lo blum kenal jgn sok ngomentar deh!!!!ama org yg lom lho kenal….bahaya ente…. lho..pewaris Nabi belum tentu levelnya sama dengan Nabi, lho… hati2 dalam beranalogi… Komentar oleh gatal getol — June 22, 2006 @ 10:38 am dan aq bangga jg ama komentarnya Al ustadz SINGODIMEDJO yg katanya kita harus mengikuti Nabi saw.tapi dia sendiri malah manggil GD dgn sapaan “si”,,,,,oh egitukah cara nabi ketika mengingatkan seseorang?????dan ustadz SINGODIMEDJO knapa antum bicara2 tasawwuf secara panjang lebar???? gak ilmiah banget deh ustadz….sebelum antum bercerita soal tasawwuf secara panjang lebar, ya definisikan dulu tasawwuf itu apa ustadz????? biar gak ngelantur persoalannya githu lho.jangan2 yg tasawuf yg ustadz bilang sesat adalah tasawwuf yg ada dalam tashawwur ustadz sendiri……ya jgn salahkan tasawwuf nya lah !!!!tapi persepsi sampean yg harus dibenahi terlebih dahulu!!!!!klo pengen tau tasawwuf …gak cukup buka satu situs/website donk coy,,,apalagi klo cuma copy paste anak SD pun bisa,,,,dan ngandelin gituan bkn faham namanya…..coba ya jgn menampakkan bgt deh ketinggalannya,berusaha ilmiah donk!!!!meskipun ustadz SINGODIMEDJO bukan sosok seorang akademis,klo ilmiah pemaparannya ya… sip.. khan…… pamit dulu ya ustadz,wassalam hwalah…kok jadi merembet ke masalah pribadi?? sabar…sabar… Komentar oleh gatal getol — June 22, 2006 @ 11:08 am “Abdurrahman Wahid dan tokoh JIL lainnya sebaiknya jangan disebut ulama. Salah besar kalau kita mengatakan demikian. Yang benar, mereka adalah tokoh yang sering bicara tentang Islam, lepas dari benar atau salah. Adapun kriteria ulama, sungguh sangat-sangat jauh dari sosok mereka. Abdurrahman Wahid tidak pernah duduk di bangku kuliah syariah, dia hanya duduk di bangku kuliah sastra di Iraq, setelah sebelumnya gagal studi di Mesir. Iraq saat itu sedang dilanda demam sosialis, di mana para mahasiswanya pun tidak sedikit yang terkena dampaknya. Pernyataan ini bukan pernyataan provokatif, melainkan pengakuan Abdurrahman Wahid sendiri. Dia pernah bercerita tentang bagaimana kehidupan masa lalunya belajar di negeri orang serta kecenderungannya dalam masalah ilmu yang dipelajari. Oleh sebab itu, sebagai orang yang tidak berada dalam kapasitas sebagai ulama syariah, pernyataannya tidak perlu dijadikan rujukan masalah syariah. Kita tidak perlu pusing-pusing bila ada orang yang seperti itu. Yang perlu kita pahamkan kepada masyarakat adalah menjelaskan perbedaan antara ulama dengan bukan ulama. Pendapat para ulama yang hakiki tentunya perlu disimak dan didengarkan. Misalnya saja ulama kaliber international seperti almarhum Syeikh Bin Baz, Syeikh Al-Utsaimin, Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Dr. Yusuf Al-Qaradawi, Dr. Muhammad Al-Ghazali, Dr. Musthafa Al-A’dhzami, Dr. Said Ramadhan Al-Buhti, Dr. Musthafa As-Siba’i dan lainnya.” (Dikutip dari eramoslem.com, ustadz menjawab, by Ust. Ahmad Sarwat, Lc.06 Juni 2006). Kita rasa sudah jelas dan transparan bukan?? Mana yang layak menjadi panutan kita. Jangan salah memilih teman!! terima kasih untuk sumbangan informasinya, mas Hasan Komentar oleh Hasan — June 26, 2006 @ 11:21 am Kembali ke thread awal, yang punya blog ini sepertinya suka menyebarkan fitnah dan kebohongan. wawancara dg Gus Dur yg katanya dipetik dari situsnya JIL, kalo anda telusuri link/url-nya, nyata2 tidak ada tuh ungkapan/kutipan seperti itu. Kalo main kayu gini ya repot. Ngapain juga ditanggepin. ah…mbak Ira tidak teliti… silakan dicek lagi mbak… Komentar oleh ira — June 27, 2006 @ 11:34 am betul banget,,,,,,,yg diungkapkan temen aq Ira…soalnya, klo di telusuri dr sumber aslinya… justru merekalah (grup tolol FPI)yg memojokkan gusdur ,DAN UCAPAN GUSDUR YG MAKSUDNYA BENER MEREKA PLINTIRKAN DGN MAKSUD MENFITNAH,… mbak Nadya coba cari lagi yg teliti ya?? Komentar oleh nadya ambarwati — June 27, 2006 @ 2:52 pm DAN temen aq yg satu ,,,,HASAN,,,TUH namanya,,,,tolol bgt , ngapain jauh2 ngebahas perbedaan yg ulama dan yg bkn ulama,,,,,,???? yg penting siapapun orangnya yg ngomong wajib kita teliti ,,jgn difahami sepintas lalu donk!!!!apalagi ucapan GUSDUR yg berwawasan international dan berilmu agama tinggi dibanding kita ,Coba mas HASSAN pernah megang apa coba???? jd pengasuh pesantren pernah gak? jadi ketua perdamaian dunia pernah? ketua ormas islam terbanyak pernah??? jadi presiden mas hassan pernah????? jgn macem2 HASSAN,,kamu bukan levelnya buat ngukur dia ,,,wong,,,,ulama setimur tengahpun pd tau ungkapan gusdur tersebut……tapi mereka diam dan ngerti maksud gusdur,,,,FPI aja yg kbakaran jenggot,,,sok alim nafsuan dan provokatif gt,,,,, halah, mbak Nadya…kok jadi mengarah ke pribadi mas Hasan? Komentar oleh nadya ambarwati — June 27, 2006 @ 3:05 pm Anda (mba nadya yang pinter..???)telah mementahkan statement Anda sendiri. Anda mengatakan “yg penting siapapun orangnya yg ngomong wajib kita teliti ,,jgn difahami sepintas lalu donk!!!!” Kalau Anda konsekuen, tentu kita tidak usah menunggu menjabat suatu ormas tertentu atau menjadi pengasuh pesantren, untuk mengkritik seseorang. Bukan jaminan bahwa orang-orang yang pernah menjabat pada posisi tersebut bebas dari kesalahan atau ma’shum. Ulama timur tengah diam saja…??? Anda punya data?? Please deh, ente jangan taklid buta gitu dong, kritis dikitlah!! wah…komentar balik yg elegan, mas Hasan..jangan terbawa emosi ya?? Komentar oleh Hasan — June 28, 2006 @ 10:25 am tuh khan….masih aja lom nyambung,,,maksud gw klo gusdur aja yg udah berwawasan international pernah minpin ulama,pernah minpin bangsa , gak lepas dr kesalahan, ya,,,apalagi ente hasan….ato temen2 ente yg otak nya nyalahin trus bisanya,,,ente lbh gak maksum . logika nya gak rumit kok.tp klo ente pengen nyalahin trus gusdur,berarti entenya yg maksum.titisan nabi.trus klo emang ada komentar dari ulama tinteng yg validitas keulamaannya diakui ya mana coba,,,,????ada gak datanya????lho ,,,,,ke timteng aja lom pernah sik tau,plg2 klo udah cuma hajian dong,.ya pantes,,lah. mbak Nadya…silakan berkomentar dg bahasa yg baik… jangan menghina pribadi mas Hasan… Komentar oleh nadya ambarwati — June 29, 2006 @ 12:31 pm POKOKNYA JGN SOK TAU TTG ULAMA TIMTENG BG YG LOM PERNAH KESANA,DAN JGN NGOMONG2 SOAL GUSDUR BG YG LOM KENAL AMA DIA.HASSAN,,,,,,,,KETEMU AJA AMA GD LOM PERNAH KHAN? ck ck ck…mbak Nadya kok ‘kasar’ sekali komentarnya… Komentar oleh nadya ambarwati — June 29, 2006 @ 12:37 pm huh HASSAN HASSAN,,,,,,APES LHO YA,,,,,,, EMMMMANG,,,, ENAK DIMARAHIN AMA CEWEK…..EH,,,,,Mbak Nadya…..orang sakit kaya SI HASSAN,,,,jangan dimarahin dong….sayangi dia,,,peluk dia ,,,kecup dia….suruh minum obat paramex,,,,jgn minum [sensor] terus gt,,,,,mo [sensor]??????? ngerrres ck ck ck…ada lagi pengecut yg malah mengadu domba… Komentar oleh dunia lain02 — June 30, 2006 @ 10:38 am Afwan, ga perlu emosi dan bicara kasar seperti itu,…ane malah geli dengan kalian. Jangan marah lah! Be patient man! Ane pernah ketemu GD di sebuah forum di Jawa Timur, bahkan ane nuntun tangan beliau….tepatnya sehabis beliau ngisi acara di Jawa Timur. Jujur aja, ane males nanggepin ente yg bisanya cuma maki dan ngomong kasar, mendingan ane kasih buku aja ya, judulnya “Al-Qur’an dihina Gus Dur” terbitan hujjah press. Serius ni, ente kasih alamat aje, ntar ane paketin. Trus, ente baca dengan seksama ok! balasan yg elegan mas Hasan…tetap cool ya?? Komentar oleh Hasan — July 1, 2006 @ 9:04 am tuh khan,,,,,skarang ktauan klo Hassan adalah “SALES MAN”….pake promosi sgala……trus ngaku2 prnh nuntun GD lg,,,,,keterlaluan bgt lho,,,,,,mmmang nya lho iapanya GD? yg megang dia gak sembarang org deh…..dan jls ktauan skrg,,,buku yg kau tawarin buat aq itulah yg memberikan ispirasi atas pandangan miringmu thdp GD,seandainya hassan melakukan klarifikasi langsung pd GD,gw yakin klo pandanganmu akan lurus gak bakalan terpengaruh buku2 yg dikarang oleh org2 yg sentiment pd GD. duh…mbak Nadya..mbok jangan provokatif dalam berkomentar.. Komentar oleh Nadya ambarwati — July 1, 2006 @ 10:21 am Mba Nadya yang budiman, silakan ente ga percaya. Tapi ane bicara sesuai fakta, waktu itu GD abis ngisi acara dialog Nasional di sebuah perguruan tinggi di Jawa Timur. Ente hati-hati dalam bicara, apalagi jika belum kenal orangnya.Apakah ente gak ingat, mendiang kyai As’ad dari Asembagus, Situbondo, telah mengganggap GD adalah imam yang sudah kentut, artinya sudah batal. terima kasih mas Hasan, anda tidak terpancing mereply dg kata2 yg kasar Komentar oleh Hasan — July 1, 2006 @ 10:55 am HASSAN,,,,,,HASSAN,,emang kmauanmu utk ikut campur dlm mslhnya GD,,sgt besar,,,,tp sayang,,,u terlalu cpt ngambil kesimpulan dgn tanpa melirik aspek sosial dan politik dlm sebuah konflik. dulu jika kiai marah bukan artikulasi nafsu, sebaliknya untuk meluruskan, ngemong dan bahkan untuk melindungi karena ngeman kadernya. Kasus ini bisa kita lihat dalam konflik KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan KH R As’ad Syamsul Arifin, pengasuh Pesantren Asembagus Sukorejo Situbondo. Saat itu Kiai As’ad menyatakan mufaraqah (memisahkan diri) dari kepemimpinan Gus Dur sebagai ketua umum PBNU. Di koran-koran ditulis bahwa Kiai As’ad marah besar terhadap Gus Dur. Karuan saja para kiai kalang kabut. Para kiai pun banyak yang sowan Kiai As’ad baik untuk meredam, klarifikasi maupun minta penjelasan. Salah satu kiai yang mendatangi Kiai As’ad saat itu adalah KH Chotib Umar Jember. Lalu apa kata Kiai As’ad? ”Siapa yang mufaraqah? Itu hanya strategi karena Soeharto (Orde Baru) mau membunuh Gus Dur,” kata Kiai Chotib Umar menirukan jawaban Kiai As’ad. Kiai Chotib Umar pun mafhum. Karena itu ia tak risau meski di koran-koran masih ramai tentang berita konflik Gus Dur dan Kiai As’ad saat itu. Jadi ”kemarahan” Kiai As’ad kepada Gus Dur yang disiarkan lewat publik justeru untuk melindungi Gus Dur. Ini tentu starategi politik tingkat tinggi yang bisa jadi tak pernah diketahui publik, termasuk kader NU. Selain Kiai Chotib Umar yang sempat datang ke Kiai As’ad adalah KH Muchit Muzadi. Kiai khittah ini mengaku sempat masuk ke kamar Kiai As’ad ketika konflik dengan Gus Dur itu meluas. Kiai Muchit menyarankan agar Kiai As’ad memarahi Gus Dur langsung ketika berhadapan dengan cucu pendiri NU Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari itu. Lalu apa respon Kiai As’ad? ”Saya kalau berhadapan dengan Gus Dur yang tampak malah wajah Kiai Hasyim Asy’ari,” kata Kiai As’ad seperti ditirukan Kiai Muchit. hmmm….ada referensinya, mbak Nadya?atau hanya komentar sepihak saja?? Komentar oleh nadya ambarwati — July 2, 2006 @ 11:15 am makanya gw blg klarifikasi itu perlu,,,,,jgn asal tangkap2 aja ,,,, karena yg sering km dengar lom tentu benar,,,,sayang,, terima kasih untuk mengurangi komentar yg kasar, mbak Nadya Komentar oleh nadya ambarwati — July 2, 2006 @ 11:19 am Jujur aja ane salut dg kegigihan neng nadya dalam membela GD, salut…salut… Mungkin untuk masalah yg satu ini kita berbeda pendapat, moga tidak merusak ukhuwah islamiyah kita. Amin. Ane rasa udah nyampe tahap final pada kesimpulan, ente sangat tersinggung dan marah ketika GD dikritik dan disalahkan. Tapi ane lebih tersinggung ketika ada orang yg berani melecehkan Al-Qur`an. terima kasih telah ‘meluruskan’ tujuan kita berdiskusi di sini, mas Hasan Komentar oleh Hasan — July 4, 2006 @ 11:09 am setelah anda mengungkapkan salut,,,,,aku menganggap tak ada gunanya ucapan tersebut,,,,,,,krn yg kupinta drmu wahai kasih… km bs mencari kebenaran dgn cara lemah lembut,,,,,,,,,,,,,,,,klo anda mase merasa tersinggung dgn ucapan GD,,,dan menganggapnya melecehkan al quran…maka salahkan lah persepsi anda sendiri,,,akan ucapan siapapun…..klo anda merasa tersakiti olh ucapan seseorang,,,, cepat tanyakanlah pdnya,,,akan maksud sesungguhnya,,,niscaya anda akan tenang….. keresahan ,kegelisahan,,,,semuanya ada dan timbul dari hatimu sendiri yg kerap tak mau menerima penjelasan org lain,,,dan enggan berklarifikasi,,,,org yg beriman dan bertaqwa selalu memelihara prasangka baik ,,,krn prasangka buruk hanya dpt menyiksa para pemiliknya…. jd bila kau tersinggung ,,,,tersakiti,,,gelisah,,,dan resah,,,salahkan lah diri sendiri,,,krn justru menyalahkan orlain itulah yg membuat diri jd cape dan payah. “alaa inna auliyaa Alloohi laa khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun” bgmn tdk???,,,krn mereka(pr kekasih Allah) sgt fokus & sibuk membenahi aib dan dosa diri mrk sendiri……wallohu a’lam bi man huwa ahdaa sabiilaa. hihihi…tumben mbak Nadya berpantun nah, begini dong…tidak banyak kata2 yg kasar… Komentar oleh nadya ambarwati — July 4, 2006 @ 2:24 pm Ok deh, sudah lama ane gak ketemu GD, insya Allah kapan-kapan ane ajak dia ngobrol2 en ngopi bareng. Tentu di tempat yg tenang dan damai, tidak di tempat seperti 68H. Wait 4 me GD, i’ll be there…… saya tunggu kabarnya, mas Hasan.. Komentar oleh Hasan — July 4, 2006 @ 3:49 pm gt donk,,,,,sayyyang,,,,eh,,,,mas hassan ngomong2 gak pengen ketemu nih ama ane?maen donk sini,,,,mang km dmn sih?km mase single khan,,,,,, mau donk………………. ehm…ehm…ini bukan blog tempat cari jodoh lho… Komentar oleh nadya ambarwati — July 5, 2006 @ 2:45 pm Mau nih jadi istri keempat ane, hehehe…….Eh maap ama yg punya blog ini, ini sedikit menyimpang dari tema, afwan…. haha…aduh, saya jadi tertawa nih, mas Hasan Komentar oleh Hassan — July 7, 2006 @ 9:48 am Gus Dur, Al-Quran, dan Pornografi Syahdan, Khalifah Harun al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa: tidak mau ruku’ dan sujud dalam salat. Lebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu Nawas berkata bahwa ia khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-pembantunya, Abu Nawas telah layak dipancung karena melanggar syariat Islam dan menyebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi untung, ada seorang pembatunya yang memberi saran, hendaknya Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi) dulu pada Abu Nawas. Abu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan. “Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak ruku’ dan sujud dalam salat?” tanya Khalifah dengan keras.Abu Nawas menjawab dengan tenang, “Benar Saudaraku.” Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, “Benar kamu berkata kepada masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid adalah seorang khalifah yang suka fitnah?” Abu Nawas menjawab, “Benar Saudaraku.”Khalifah berteriak dengan suara yang menggelegar, “Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syariat Islam dan menerbarkan fitnah tentang khalifah!”Abu Nawas tersenyum seraya berkata, “Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya, kabar yang sampai padamu tidak lengkap, kata-kataku diplintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.” Khalifah berkata dengan ketus, “Apa maksudmu, jangan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya!”Abu Nawas beranjak dari duduknya, dan menjelaskan dengan tenang, “Saudaraku, aku memang berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam salat, tapi dalam salat apa? Waktu itu, aku menjelaskan tata-cara salat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.” “Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.Abu Nawas menjawab dengan senyuman, “Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surat al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian) bagimu. Sebagai khalifah dan seorang ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu, berarti kamu suka “fitnah” (ujian) itu.” Mendengar penjelasan Abu Nawas yang juga kritikan, Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar. Rupanya kedekatan Abu Nawas terhadap Harun al-Rasyid menyulut iri dan dengki di antara pembatu-pembatunya. Kedekatan ini dibuktikan Abu Nawas memanggil Khalifah Harun al-Rasyid dengan kata “ya akhi” (saudaraku). Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutarbalikkan berita. *** Saat ini, kisah yang menimpa Gus Dur mirip cerita Abu Nawas. Tersiar desas-desus, Gus Dur mengatakan Al Quran adalah kitab suci porno. Menurut kabar angin itu pula, pernyataan Gus Dur tersebut diucapkan sewaktu acara “Kongkow Bareng Gus Dur” di Kantor Berita Radio (KBR) 68H Jakarta, yang mengudara saban Sabtu pukul 10.00 sampai 12.00 WIB. Kebetulan saya salah seorang pembawa dari acara tersebut. Karena tuduhan itu, Gus Dur diteror oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam di Purwakarta (23/5).Seperti nasib Abu Nawas, pernyataan Gus Dur tersebut sengaja diplintir, dan dilepaskan dari konteksnya karena ada motif dan untuk tujuan tertentu. Padahal dalam acara kongkow tersebut, berkali-kali Gus Dur menegaskan bahwa konsepi porno ada dalam otak seseorang. Kita sering bilang, orang yang otaknya lagi ngeres, atau lagi “piktor” (pikiran kotor). Penyataan Gus Dur yang lengkap begini, “Porno itu letaknya ada dalam persepsi seseorang. Kalau orang kepalanya ngeres, dia akan curiga bahwa Al-Quran itu kitab suci porno, karena ada ayat tentang menyusui (al-Baqarah: 233) dan ada roman-romanan antara Zulaikha dengan Yusuf (Yusuf: 24).” Liciknya, mereka yang pernah juga menyebarkan fitnah bahwa Gus Dur telah dibaptis, menyebarkan bahwa Gus Dur telah berkata bahwa Al-Quran itu kitab suci porno. Pemenggalan kata-kata tersebut sangatlah berbahaya. Kita bisa mengatakan Al-Quran mengecam orang yang salat ketika hanya mengutip ayat 4 dalam surat al-Ma’ûn, “maka celakalah orang-orang yang salat!” (fawaylul lil mushallîn). Padahal maksudnya orang yang melaksanakan salat tapi masih celaka adalah orang yang salat tapi lalai: ingin dilihat orang, dan enggan bersedekah-dijelaskan dalam tiga ayat sesudahnya. Gus Dur memang tidak pernah sepi dari tuduhan tersebut. Dulu ia pernah dituduh ingin mengubah assalamualaikum menjadi selamat pagi, siang, sore, dan malam. Seperti Abu Nawas, Gus Dur dituduh ingin mengubah rukun salat, ketika menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengakhiri salat bukan lagi assalamualaikum yang diucapkan, tapi, selamat pagi untuk salat subuh, selamat siang untuk salat dzuhur, selamat sore untuk ashar, selamat petang untuk salat magrib, dan selamat malam untuk salat isya’. Padahal Gus Dur mengatakan boleh mengganti assalamualaikum dalam konteks sapaan (greeting) bukan dalam salat. Untuk itulah, bagi yang masih berakal sehat, akan langsung bertabayun kepada Gus Dur, bukan langsung menuduh, menyebarkan fitnah, apalagi melakukan tindak kekerasan. Bukankah menurut Al-Quran hanya orang fasiklah yang tidak mau bertabayun? Penulis adalah presenter “Kongkow Bareng Gus Dur” ehmm….saya tidak mau komentar banyak … Komentar oleh agus — August 4, 2006 @ 9:57 pm hebat dari pada nonton&beradegan porno hahaha…mas Joko bisa2 saja… Komentar oleh joko — August 19, 2006 @ 8:53 am dari bagian atas dari blog ini selalu isinya saling mengancam, menjatuhkan, memperdebatkan. saya sadar memang yg namanya demokrasi dan kebebasan bicara itu dihargai namun sebuah diskusi yang baik itu mempunyai ujung pangkal dan bernilai mendidik serta memberi wawasan dan wacana baru, bukannya saling mendiskriditkan untuk mencari pembenaran masing-masing bukannya mencari kebenaran. saya setuju kepada yg menyarankan gus dur untuk istigfar karena sudah selayaknya manusia itu beristigfar kepada ALLAH, bukan suatu alasan kalau orang itu beristigfar klo hanya pada saat merasa bersalah saja. namun juga saya menghargai kepada teman-teman yg pro terhadap wacana gus dur tersebut, karena mereka juga memandang dari sudut pandang lain juga. marilah kita berbalik pada diri sendiri, dan menkaji diri sendiri apakah diri kita ini sudah menjadi hamba yang baik. tanpa mengatakan anda baik atau benar, jika anda itu baik dan bertindak benar saya yakin orang lain pun akan menilai anda benar-thx agus Komentar oleh agus — September 5, 2006 @ 1:15 pm Mas Agus bijaksana sekali,…memposisikan pada posisi yg netral, dan sejuk dalam beragumentasi. Barangkali ini PR buat kita umat Islam untuk mencari figur pemimpin yg mampu menyatukan seluruh aspirasi umat Islam di seluruh penjuru dunia. (Karena umat katholik saja memiliki paus, yg pengaruhnya sangat luara biasa, di dunia ini. Kenapa kita tidak?), kita sedang mengalami krisis kepemimpinan.Yang kita cari adalah pemimpin yg dapat diterima oleh seluruh kaum muslimin, bukan hanya golongan tertentu saja. Wahai saudara-saudaraku di seluruh penjuru dunia….bersatulah!!!Jangan terpecah belah, moncong meriam musuh sudah di depan mata, kobarkan semangat Jihad! Allahu Akbar! Komentar oleh Hasan — September 7, 2006 @ 4:14 pm kalau memang yang dibilang gus dur memang seperti itu lantas kenapa anda sekalian membelanya walaupun buat mengumpamakan(seperti cerita abu nawas tadi) kalau gitu kenapa di AL QURAN ditulis bahwa yang mengolok AL QURAN(MENGANGGAPNYA BERCANDA SEKALIPUN HANYA PERUMPAMAAN)dianggap KAFIR Komentar oleh rangga — September 9, 2006 @ 8:39 pm waduhh..saya jadi bingung nih dengan komentar mas rangga, sudahlah mas sebaiknya kita bertayabun kepada gusdur, apakah gusdur bicara dalam konteks bercanda yang sebenarnya atau nasehat yang dikemas dengan canda, sebelum saya sangat mohon maaf sama mas rangga dan yang lainnya Komentar oleh syamsudin — September 15, 2006 @ 4:29 pm Kalau ane cermati yg ngebela GD itu2 aja, tapi pake nama yg berbeda-beda. Soalnya intinya cuma satu, dia ga mau GD disalahkan atau dikritik. Kemudian dibungkus dengan ajakan bertabayun. Itu aja diulang-ulang. Sekedar catatan Abu Nawas dengan segala anekdotnya dalam kitab “Al-Aghani” karangan Al-Ashfahani, sarat dengan kebohongan. Pendamping khalifah Harun ar-Rasyid adalah ulama-ulama besar seperti Abu Yusuf Al-Qadhi, Abdullah bin Al-Mubarak dan Imam Malik bin Anas, bukan pendongeng semacam Abu Nawas. Komentar oleh Hasan — September 20, 2006 @ 9:12 am “Kl ada sesuatu yg tidak berkenan buatmu mk hujatlah GD sepuas puasmu”,tp setelah itu cobalah kamu pahami dan mengerti tentang apa yg tlh disampaikan oleh GD (walaupun untuk itu dibutuhkan waktu yg lama),maka insyaALLah kamu akan menjadi lebih pintar,cerdas dan arif dalam menyikapi hidup ini.(Anda jgn membiasakan hanya berpikir dgn otak saja tetapi mulailah berpikir dengan perasaanmu) Komentar oleh riefants — September 20, 2006 @ 2:56 pm ass.mengenai masalah gusdur menghina qur’an apakah anda bener2x tahu dan ndengerin dg mata kepala anda sendiri? atau apa anda hanya ikut-ikutan islam garis keras yg merasa benar sendiri.saya berharap and tidak seenaknya ngomong yg isinya melecehkan orang lain,ingat dg kaum khowarij yg sangat radikal mereka apa anda pengen termasuk dalam katagori man tasyabbaha biqoumin fahuwa minhum. anda harus tau gusdur hanya bilang kalo otak kita dlm keadaan ngeres jika kita baca qur’an yg mbahas masalah menyusui. anda harus paham sebelum nuduh orang sembarangan apalagi gusdur seorang kyai hati-hati klo kwalat.wssalm Komentar oleh gus yahya — September 21, 2006 @ 7:44 pm ass.ingat siapa yang mengkafirkan saudaranya sesma muslim maka dia yg kafir.kalo anda gak ngerti apa yg disampein gd maka ngaji to-ngaji lan ojo ngrasani to’.wass Komentar oleh gus yahya — September 21, 2006 @ 7:58 pm he bung ingat utekmu durung nyampek makanya ngaji-ngaji lan ojo ngrasani,mungkin gd kaya’ gitu agar orang-orang yang kaya’ u seng seneng ngrasani ben gelem ngaji dan bisa memahami kata-kata gd.makanya fas alu ahladz dzikri inkuntum lata’lamun(teko’o karo wong seng ngerti kalo u gak ngerti;okrek wass Komentar oleh gus yahya — September 21, 2006 @ 8:10 pm Gus yahya ga usah nganggo ancem2an lah,trus gak perlu ngremehno wong liyo. Terus ojo terjebak stigma islam moderat, islam garis keras, fundamentalis dsb. Iku istilah teko musuh2e Islam, saiki jamane mempererat ukhuwah, masalah gak bakalan rampung. Saiki sing ndukung GD, yo kudu sadar nek GD yo menungso, ugo iso salah. Sementara sing kontra lan protes, lewih becik nglurusno karo cara sing bijak. Wis gak usah diperpanjang. Wong Islam kuwi kabeh sedulur, opo gak isin ditonton musuh2e Islam, nek wong Islam pada doyan cekcok! Wss. Komentar oleh Hasan — September 22, 2006 @ 2:51 pm Al Insaanu Makhalul Khotto Wa Nisyan…tapi ko yo keseringan nylenehe…? btw, GusDur tu sholat ga yah…? ada yang pernah ngliat beliau sujud khusyu’ ga ? trus, ana juga pengin ‘protes’ sama Indosiar yang kemarin (ga tau besok2nya) menayangkan renungan sebelum berbukanya oleh GusDur… repot… Komentar oleh zhyd_elhamidy — September 27, 2006 @ 3:43 pm Saya kira itu syah syah saja karena itu adalah hak DAN PERLU DIINGAT BAHWA PERKATAAN ITU MENGANDUNG MAKNA YANG SANGAT DALAM DAN SAYA KIRA HANYA ORANG-ORANG TERTENTU SAJA YANG BISA MENGERTI MAKSUD UCAPAN GUS DUR KITA TIDAK BOLEH MENGADOPSI SECARA MENTAH -MENTAH KARENA GUS DUR ADALAH ORANG YANG TIDAK PENUH DENGAN TEKA-TEKI DAN PENUH DENGAN KEJUTAN HANYA ORANG GOBLOK SAJA YANG MENGATAKAN PENDAPAT GUS DUR ITU SALAH PIKIR DOOOOOOOOOOOOONK!!!!!!!!!! Komentar oleh ERVAN — September 28, 2006 @ 1:49 pm Assalamu’alaikum wr wb. Afwan, boleh taruh link gak ya di sini. Mungkin link2 berikut sedikit banyak bisa dibaca. Ada beberapa fakta di sana. Afwan kalo tidak berkenan, baik utk pendukung GD juga yg tidak setuju dengan GD. 500 Ulama Pulau Jawa Laporkan Gusdur ke Mabes PolriPenelitian Untuk Gus Dur ttg “Pornoisme”Gus Dur Menghina Al-Qur’anTantangan Debat Publik Kepada Gus Dur Sekali lagi afwan jika tidak berkenan. Wassalamu’alaikum wr wb. NB: Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan 1427 H bagi yg menjalankan… Komentar oleh Hamba Allah — September 29, 2006 @ 12:23 am duh gusti…Gusdur aja dah nyuruh kita jauh-jauh hari. yang gitu-gitu NDAK usah direpotin. bagusnya yang belum pinter kaya Gusdur gak usah ngisi koment deh. mas yang suka njawab, mbok yo kalo orang kasih koment baik terhadap Gusdur gak usah panas tho!!! dia juga orang islam kok, kaya anda juga yang masih sholat berjamaah di masjid, pake sarung dan kopiah di kepalanya. abis sholat bersalaman dan mencium tangan imam. mas koment gitu juga kan? Komentar oleh bayoe — September 30, 2006 @ 1:18 am Kata Gus Dur bahwa Al Quran itu alkita yang porno didunia, itu ada kebenarannya, dan ada hubungan dengan nabi kita Muhammad dalam Hadist banyak tertulis tentang Aisya dan Muhammad. Mengapa kita harus ribut soal pornografi ? itu kan sebahagian manusia-manusia munafik yang berlindung dibalik sorban agama. Komentar oleh Mr.Nunusaku — October 1, 2006 @ 6:19 pm Assalamu’alaikum semuanya… Udah donk…!!! Gak usah diperpanjang komen-komen tentang ucapan GD itu. Jujur, awalnya ana tertarik banget ama blog ini, tapi begitu liat2 komennya yang tambah lama tambah PANAS dan beremosi, kok jadi gak asyik ya, mendingan kita saling introspeksi diri aja tiap hari, itu lebih enak dan hangat lho, kayak dipeluk Allah, coba deh Insya Allah bener deh uenak tenan. Allah sayang kita lho…Dia sayaaaaaang banget ama kita, (aduh jadi kangen), kapan ya ke surga…?? Ketemu Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim as, Ismail, Musa, Yusuf (gantengnya apa sih, masa’ Hizbullah kaya’ aku kalah ganteng…yeee, ya jelas kalah, hehe), ketemu Nabi Sulaiman, wah bisa minta ajarin bicara ama kucingku dong, hehe. Tulisanku diatas kalo gak nyambung maap yang mas, tapi benernya aku cuma pengen sharing ke semua muslim (kalo memang merasa sebagai seorang MUSLIM…!!!): Kita semua kan saudara, kan gak semestinya musuh2an, kalo’ dipikir-pikir do’a yang bunyinya, “…wa li jami’il muslimiina wal muslimat, wal mu’miniina wal mu’minat, alahyai minhum wal amwaat” (sori kalo salah), biasanya kan dibaca setelah mendo’akan Ortu, minta maghfirah buat kedua orang spesial kita, trus baru do’a yang tadi itu buat semua muslim & muslimat yang masih hidup atopun yang dah “duluan pergi”(bener gak?!). Nah, do’a itu kan di baca semua muslim di dunia, berarti setiap saat kita selalu dimintakan ampunan kepada Allah oleh saudara2 kita sesama muslim di seluruh penjuru dunia, bener gak…Ya Allah…indah ya Islam, hehehe. Makanya, gak usah aneh2 ta, mendingan ngomongne sing huenak ngunu ae po’o bos…hehehe, pun matur nuwun. Wassalamu’alaikum wr. wb. Komentar oleh Hizbullah berhati lembut — October 3, 2006 @ 10:05 am Perdebatan gini nih yah disukai ama syetandilanjut terus aja bozz… ane salut ama mas hizbullah!ini nih ciri muslim yang pantas kita teladani,berprasangka baik ma ALLAH.ALLAH itukan bukan DIKTAKTOR ALLAH itu Maha Pengasih dan Penyayang,Pemberi nikmat, Pemberi maaf, dll (pokoknya yang bagus2 dah)Moga kita masuk surga…Amin Komentar oleh petani miskin — October 17, 2006 @ 3:25 am Poso rek, jo pada tukaran ae…..La wong sing diomongin lagi enak-enak turu, La sampeyan kabeh pada otot2an,Gak maen! Komentar oleh Hasan — October 17, 2006 @ 10:59 am Asslamu’alaikum, Wr, Wb.Amat banyak yang harus di kaji dalam hal ini. Di atas saya udah baca banyak komen2 yang rada gimana gitu, tapi pada intinya ada dua kubu yang sedang terlibat di sini, yang satu begitu membenci GD yang dalam beberapa hal suka nyeleneh, di lain pihak ada yang begitu mendukung dan menganggap GD sebagai seseorang yang sebegitu mulia. Tapi kalau boleh saya menanggapi, kita sesama umat Islam jangan mudah terpancing dan terprovokasi oleh setan. Setan sangat menginginkan perpecahan dalam ummat. Allah berfirman : “berpeganglah kamu pada tali(agama) Allah.”Ayo, Kini adalah saatnya Kita untuk bersatu…..Yang dibutuhkan umat Islam itu adalah suatu persatuan seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Terus terang saya sangat mendukung redaksi JIL. Karena sejujurnya Saya pribadi sempat dibuat “panas” dengan statemen GD tersebut. Bagaimana tidak, Masa kitab suci yang selama saya hidup di dunia dan di akhirat (Insya Allah) dikatain sebagai kitab yang porno. Tapi ketika saya membaca berbagai komen yang justru memecah belah umat, saya jadi semakin sedih…..Sodaraku…..Masih banyak musuh Allah yang harus kita hadapi,,,,Masih banyak orang-orang sesat yang menginginkan perpecahan kita… Jangan kita membuat Rasulullah bersedih…dan terlebihJangan kita buat setan tertawa dengan perpecahan kita…GD hanya manusia yang bukan apa-apa,,, kita tidak layak mati-matian membelanya atau juga menghinakannya…. Sekarang yang paling kita butuhkan adalah kesamaan visi untuk membuat Islam berjaya di muka bumi…Mari kita sama-sama beristighfar….memohon ampunan dari Allah…. karena itulah yang kita butuhkan sekarang…Mari…. sama-sama Kita Istighfar…. Bersatulah Sodaraku Komentar oleh Dodi — October 17, 2006 @ 1:28 pm bagus GD mengatakan seperti itu supaya kita semua mempelajarinya, agar kita belajar dan membaca isi Al-qur an ok salam buat semua umat islam jaya terus dan. tidak hnya komentar saja tapi juga belajar dan memahaminya isi Al-Quran . Komentar oleh budi prakoso — October 20, 2006 @ 3:52 pm Gus Dur kok dilawanTiada tanding tiada banding. Pak harto aja yang punya ABRI,Shimon perez yang punya Amerika samapai Poros tengah aja gak mampu. Hanya Allah saja yang mampu menghentikannya. Kalau benci ma Gus Dur minta aja pada Allah. Long live Gus Dur. Islam butuh seribu orang jenius seperti sampeyan untuk melawan Yahudi dan Amerika. Komentar oleh f4tih — October 30, 2006 @ 3:20 pm Hus, terlepas dari apakah Gus Dur benar atau salah, JANGAN MENDEWAKAN GUS DUR! Semulia apapun beliau pada kenyataannya, ingatlah bahwa dia juga bisa berbuat salah -_- Apakah statemen ini salah satu kesalahannya, itu sebaiknya tidak usah diperdebatkan lagi. Pribadi, menurut saya umat jangan diajak berteka-teki yang fatal begini… Bisa menimbulkan salah paham. Jadi kalaupun Gus Dur hanya berniat menyisipkan makna tersirat sekalipun, statemen ini patut disesali. Komentar oleh Sosuke Sagara — November 3, 2006 @ 4:40 pm Gus Dur bukan dewa !!!! tapi Waliullah. MAna ada wali yang ngaku dirinya wali. Gus Dur pun demikian. Banyak cerita tentang keajaiban beliau. Bukan mengkultuskan tapi agar yang saudara seiman yang lain tidak asal menghujat dan memfitnah beliau. Tabayyun …tabayyun…menghujat ulama itu haram. Komentar oleh f4tih — November 5, 2006 @ 3:27 pm KENAPA KITA SUSAH2 MEMBELA GD ATAUPUN MENGHUJATNYADIA HANYA MANUSIA BIASA TIDAK LEBIHKITA HANYA BISA BERCERMIN DAN BERFIKIR LAGI DARI KOMENTAR GD SEPERTI APA SIH ARTI “PORNO” ITU SEBENARNYA DAN BIARLAH TUHAN YANG “MEMBALAS” APA YANG DILAKUKAN GD TERLEPAS DARI ITU BENAR ATAU SALAH Komentar oleh NOFIK_TOP — November 7, 2006 @ 10:38 pm Emang betul koq, yang di kate ame GUS DUR. Knapa emang? Komentar oleh Adil — November 8, 2006 @ 10:48 am Hai saya rasa Gusdur Benar.Saya rasa Gusdur adalah seorang manusia yang selalu memberikan pembelajaran kepada umat2nya.Belajar menghargai,beljar sopan,belajar untuk membahas permaslahn yang timbul disekitar kita. Gusdur juga benar bahwa Al-qur’an merupakan kitab suci yang paling komplit.disitu ada berisi tentang kedokteran,sejarah,fiqh,astronomi,bahkan ada sedikit penjelasan tentang kePORNOan.Saya rasa Porno itu kan hanya maslah istilah yang telah tertanam dari kita.Jadi Jangan bandingkan kita dengan Gusdur.Pengetahuan kita tentang agama,fiqh,ushul fiqh,tasawauf itu belum ada apa2ya.kita harus mempelajari dulu jangan sampai memberikan tanggapan yang ga ada artinya seperti TONG KOSONG>HANYA NYARING BUNYINYA tetapi DALAMNYA KOSONG!!! disitu ada hikmah yang terkandung.bahwa kita sebagai umat islam harus lebih dan lebih lagi didalam mempelajari Al-quran.Gusdur adalah seorang alim ulama yang selalu memancing kita untuk terus belajar…belajar…dan belajar sampai maut menjelang.saya berdoa semoga Gusdur panjang umur dan selalu memberikan kita wejangan maupun pengetahuan2 yang bermanfaat bagi umat islam. Amin ya Robbal Alamin Komentar oleh Moh. Ari gusyanto — November 20, 2006 @ 9:59 pm saya rasa semua komentar diatas tidak lepas dari sejarah islam di indonesia,,,,,sehinga terjadi pro dan kontra,,sebagai sesama muslim saya menyarankan marilah kita jangan egois pada jalan pikiran kita…khusus untuk masalah porno tidak penting didebatkan karena kita udah pada dewasa.(mungkin) tapi..yg lebih penting adalah generasi kita…..sekali lagi lihatlah……..bagaimana generasi kita gak rusak……….klo kita yang dewasa (mungkin ) secara egois mengajarkan mereka porno…………ngotot dan kontra terhadap uu anti porno…menurut saya mengajarkan dan melegalkan generasi kita,,,berbuat porno……….kasian dong anak-anak kita,,,,!?,,mau jadi apa bangsa ini…. ( bagi yang berpikir seh…. ) Komentar oleh wiranto — November 25, 2006 @ 12:41 am Orang tua yang satu ini memang banyak yang mendukung, walaupun ucapan nyeleneh tetep aja dianggap hebat! aneh,… Stroke dan penyakit matanya membuat si GD ini tambah ngawur di tambah pengikut dan fansnya yang taqlid buta juga, didukung pula oleh Jaringan Iblis Liberal! Komentar oleh Maulana — December 1, 2006 @ 11:56 pm kalau dilihat dari segi fisik dengan mata yang cacat, si GD ini kayak gambaran dajjal !. apa memang dia dajjal yach!. moga aja nggak demikian yach, tapi kok tingkah dia lebih banyak nyeleneh dan melenceng dari kebanyakan ulama islam yach !. gusdur……………gusdur…., lu lebih baik jadi penentang terang-terang dech dari pada lu berkedok silam ! Komentar oleh desi — December 14, 2006 @ 1:22 pm Gus Dur aja kok ditanggapi biarin ajamulut-mulut dia sendiri kok capek juga dirasain sendiri sama GD gitu aja kok repot ntar setelah wafat baru urusan kita Komentar oleh Inoel — December 19, 2006 @ 9:07 am gak usah ribut ribut, toh yg dilihat oleh Allah swt sang pencipta alam jagat raya ini bukanlah kepintaran, kegantengan, ketenaran, dan hal2 lainnya, tapi yg dilihat oleh Allah swt adalah jiwa kita, so yg tidak mampu mengendalikan diri, nmeski dia seorang ahli filsafat, tasawuf sekalipun, tetap aja dia rendah dihadapanNYa. dan kita selaku manusia yg masih memiliki toleran apa salahnya memperingati dan menyampaikan kebenaran. kepada gusdur dan semunya yg memiliki ilmu yg dalam, ingatlah kebenaran tidak dapat diukur oleh lamanya ibadah, tingginya titel seseorang, gelar atw kedudukan, tapi sebagaimana kebenaran itu mampu melahirkan kekuatan pengendalian diri. bertobatlah sebelom pintu taubat ditutup. Komentar oleh irfandy ali — December 28, 2006 @ 8:19 pm Disarankan agar jangan berselisih persepsi agama yang mubazir membuang-buang waktu, tenaga, pikiran dan emosi PANAS, toch tidak akan selesai sebelum Allah datang dengan 1. Hari takwil kebenaran Kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53. 2. Allah menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab sesuai Fushshilat (41) ayat 44. 3. Allah menyempurnakan wahyu Al Quran berkat do’a manusia sesuai Thaha (20) ayat 114,115. Dan hari-hari Allah sebanyak 444 ayat lainnya sesuai Ibrahim (14) ayat 5, Al jaatsiyah (45) ayat 14. Semuannya ini wajib ditunggu-tunggu akan tetapi sampai hari ini dilupakan oleh umat manusia. Padahal hal ini sudah datang di Indonesia, tinggal menunggu saat publikasinya. Wasalam, -Soegana Gandakoesoema- pembaharu persepsi tuggal agama awal millennium ke-3 masehi. Komentar oleh Soegana Gandakoesoema, pembaharu persepsi tunggal agama awal millennium ke-3 masehi — January 14, 2007 @ 9:00 am Memang koh apa yang dinyatakan Gus Dur itu ada kebenarannya, ada sangkut pautnya dengan nabi Muhammad SAWyang memang doyan kawi anak yang berumur 7 th dinikahi setelah 9 th baru disetubuhi sedangkan kakek ini telah berumur 53 th. Jika anak sampean yg berumur 9th maukah diberikan pada kakek yg berumur 53 th ? nah tolong jawabannya. Komentar oleh Mr. Nunusaku — January 24, 2007 @ 10:44 pm Ehm… buat nunusaku yang ngomentari Rasulullah, klo biasanya yang nyerang sama model gini ni non muslim, klo muslim berarti dah copot syahadatnya, soalnya ngejelekin Rasul Allah itu namanya ingkar sunah, islam mengajarkan segalanya dengan lugas, jangan memandang kebenaran dengan perasaan begitu, yang kita rasa bagus belum tentu bagus di mata Allah, sedang yang kita anggap jelek bisa saja bagus di mata Allah, soal jawabannya tentu saja ada, di jaman sekarang di indonesia aja, anak smp sudah jualan sedangkan di luar negri anak2 setingkat sd saja sudah sering sekali terjadi inces antara kakak beradik, dan banyak lagi contohnya. Komentar oleh seebayu — January 31, 2007 @ 11:09 pm assalamualaikum.. diri ini cuman bisa bilang…mari kita lebih arif dlm memandang suatu permasalahan…jgn sampai kita terjebak akan tulisan itu sendiri…sama seperti kita mengukur kadar keimanan dlm diri kita masing2,….toh nantinya juga di pdg makshar kita ga ngurusi orang lain….trima kasih dan wassalam…. Komentar oleh udin — February 18, 2007 @ 4:33 am Pro Gus Dur Komentar oleh ddfd — February 19, 2007 @ 8:58 am BARU LIHAT KULIT SUDAH BERANI BILANG ISINYA,SEBAIKNYA KALIAN BERISTIGHFAR,SIAPA YANG KALIAN TELADANI AKHLAKNYA?KALO MEMANG BENAR GUS DUR BERSALAH,KENAPA KITA TIDAK MENEGUR BELIAU SECARA SANTUN SEPERTI YANG DIAJARKAN RASULULLAH?KENAPA MALAH MENGOLOK2 SEPERTI CARA KAFIR QURAISY YANG SENANG MENGHASUT?DIAKUI ATAU TIDAK TELAH BANYAK JASA GUS DUR KEPADA BANGSA INDONESIA DAN DUNIA ISLAM TIDAK SEPERTI ANDA YANG HANYA MENGHASUT DAN MENEBARKAN KEBENCIAN KEPADA SESAMA Komentar oleh TRI SETIADI — February 22, 2007 @ 8:45 pm tetep aje,gusdur ga boleh ngomong begitu Komentar oleh adjid — March 13, 2007 @ 11:44 am kita akhiri perdebatan ini sampai disini aja,,OK..toh kyknya mslhny makin mengembang aje… Komentar oleh simon — March 27, 2007 @ 1:53 pm gto aja kok repot…. Komentar oleh simon — March 27, 2007 @ 2:05 pm AsWrWb jangan lupa kunjungi situs yang penuh maklumat baru berikut ini: http://www.aziznawadi.co.nr insyaallah tidak rugi, bagi tau ikhwan dan akhawat yang lain juga yah..! Komentar oleh nazrah — March 30, 2007 @ 4:21 am kalo mau mengenal tashawuf yang haq, kunjungi http://www.aziznawadi.co.nr Komentar oleh rahmayanti — March 30, 2007 @ 4:23 am gus dur orang unik dan kayaknya sekarang gusdur lagi belajar telanjang serta kencing sambil berlari supaya tahu bahwa gusdur tidak bisa di tiru oleh pengikutnya yang puritan terhadap diri gusdur Komentar oleh mustofa — April 4, 2007 @ 3:03 pm Gusdur sebenarnya membawa bencana, kenapa demikian? Dia bilang Al Qur’an itu paling porno ada kata menyusui dan menetek, hal ini dianggap porno oleh pikirannya yg Geblek itu.Akibatnya ALLAH menunjukan tentang air susu itu tepatnya di Jawa Timur tempat Dia berada, maka keluarlah air LUMPUR sampai sekarang (bukan air susu) malah lebih kotor.Kenapa mesti karena omongan Dia itu bisa menjadi begitu. Karena Dia dianggap sebagai Panutan dalam Agama, tetapi hati dan pikirannya seperti orang tak berilmu.kalau Dia bukan dianggap sebagai panutan dalam agama nggak jadi masalah, biarpun yang kotor dan bau yang keluar dari mulutnya, contohnya seperti orang kafir, menghina Islam ya nggak masalah malah akan menambah kebaikan terhadap orang islam yang sabar dan berilmu.Ini dianggap sebagia Panutan agama sampai sampai mendapat gelar Kiyai Haji lagi, tapi tak berilmu, Islam sebenarnya memiliki ajaran akhlak dan ilmu yang tinggi. Komentar oleh Ahmad Syafrie Parinduri — April 7, 2007 @ 7:11 pm teros2no wae wonk2….. Komentar oleh simon — April 9, 2007 @ 1:34 pm gusdur, keseringan gilanya dari pada benernya Komentar oleh ekadystiant — April 11, 2007 @ 7:41 pm Hidup Gusdur, biar bisa tobat. Komentar oleh Abdurahman Wahid Anjing — April 15, 2007 @ 11:27 pm gusdur koq diladeni, biarin aja ngoceh kan bisa kita biarin pepatah bilang GD menggonggong kafilah berlalu…. gitu aja koq repot.. Komentar oleh mailman — April 27, 2007 @ 10:26 am gus,mengapa dunia ini semakin sempit aje,pa mungkin kiamat udah deket ya… Komentar oleh saiful amri — May 22, 2007 @ 10:17 pm yang nanggepin berlebihan ttg Gus Dur….aku yakin dia tidak lulus SD. TK…TK Komentar oleh Muhammad Riza — June 9, 2007 @ 2:02 pm Menurut pendapat pribadi saya, GusDur itu diciptakan untuk membuat orang beribadah. Buar orang yang sependapat sama GusDur, Gusdur membuat mereka terus menerus berfikir tentang “betulkah kata2 Gusdur itu betul ? sesuaikah kata2 Gusdur dengan kandungan AlQur’an ?”. Lha buat Yang tidak setuju, Gusdur membuat mereka beristighfar. Gitu aja ko repot ? Komentar oleh GusDoer — June 13, 2007 @ 10:19 pm gusdur itu belum bangun dari tidurnya, jadi ijtihadnya ijtihad tidur waqktu bilang al-qur’an kitab paling porno. lihat aja di majalah hidayatullah. Komentar oleh widianto — June 21, 2007 @ 4:39 pm gus menurut saya anda asl jeplak saja tanpa dipikir, jadi kalau mau koment lagi mending dipikir 100000000x Komentar oleh gus HARRY — June 22, 2007 @ 3:55 pm Menurur saya kalau menanggapi gusdur tidak lulus SD atau TK,masalah menanggapi bukan masalah sekolah lulus atau tidak, sekolah seperti itu hanya soal dunia yang penting hati/qolbu apabila baik maka baik lah seluruhnya, Banyak yg sekolah tinggi jg Geblek dan kurang berakhlak, kita harus bisa membaca karena Allah pertama kali menurunkan Alquran adalah Iqra’/bacalah, semua bisa dibaca bukan hanya tersurat tapi tersirat juga ,dan masalah beristigfar tanpa omongan gusdur juga kita harus selalu istigfar dan zikir setiap saat Komentar oleh Ahmad Syafrie Parinduri — June 24, 2007 @ 9:10 pm Gusdur itu hanya seorang yang mempunyai kelemahan pada otaknya disebabkan karena penyakitnya yang lama diderita,dan tidak pernah lulus sekolah,pikirannya suka ngaco dan nyeleneh.amit-amit Gus Blok. Komentar oleh Muhammad Imam Muslim — July 8, 2007 @ 8:03 pm yang Punya Blog ini GOBLOK, apa anda tau definisi dari porno? pemikiran sempit otak keladai anda mungkin hanya tau arti definisi porno hanya sekadar pada pembahasan tubuh, padahal bukan hanya itu, makanya saran saya sekolah dulu yang pinter, minim smp lah biar sedikit tau..biar tidak asal kritik, eh iya pelajaran sd udah ada tentang peribahasa TONG KOSONG NYARIN BUNYINYA? kalo belum tau peribahasa itu ga usah cape2 tanya teman, aku beritau, jawabanyya adalah “ANDA=KAMU=SAMPEAN and in english is YOU!! heheheeh…. Komentar oleh abdy — July 9, 2007 @ 11:33 am dasar wong gendeng Komentar oleh adi — July 13, 2007 @ 12:50 pm masukin aja gus dur ke rumah sakit jiwa, biar komentarnya bisa direspon keluarganya yang sudah sekian lama ia tinggalkan. gus dur itu memang-memang gila, tapi yang lebih gila lagi orang yang mempercayai pada fatwanya Komentar oleh arief — July 14, 2007 @ 6:34 pm biasanya orang yang sudah kalah ulahnya akan bermacam-macam, contohnnya yang sedang diperdebatkan sekarang ini, ya Allah berilah diapetunjuk biar nggak ngawur ngeluarin fatwa, yang membuat umat muslim bisa terpecah belah.salah satu cara untuk menghentikannya adalah dengan membungkam mulutnya………..gitu aja kok repot…..!!!!! Komentar oleh matho — July 14, 2007 @ 6:42 pm waduh waduh… jangan esmosi dunk..! saya sih sependapat bahwa sebaiknya para “pemimpin” yang ucapannya didengarkan banyak orang.. bisa lebih mawas diri dalam berkata-kata.. lha iya kalau sempet setiap orang itu tabayyun langsung ke dia.. lha kalau enggak kan bisa berabe.. kaya berita gossip.. yang makin lama makin gak bener beritanya.. dari satu orang ke orang lain.. Ini terlepas dari GD or anyone.. bahkan diri kita masing-masing.. berhati-hati dalam lisan akan menjaga hubungan baik kita dengan sesama.. termasuk sesama pengguna web / forum ini.. apalagi sesama umat yang berkeyakinan sama.. bahwa Tiada “Ilah” sesembahan / yang diabdi selain ALLAH SWT dan Muhammad SAW adalah utusanNya.. saya cuma berharap dari “obrolan” di atas, kita semua bisa lebih memahami cara pandang orang lain.. dengan begitu bisa lebih menahan emosi atas ketidaksamaan penilaian atas suatu hal.. Wassalaamu’alaikum wr wb.. Komentar oleh mmbanget — July 25, 2007 @ 5:16 pm manusia boleh berbicara bebas di dunia,sesngghnya akan diminta pertanggung jawabannya oleh alloh di akhirat.ALLOHUAKBAR!!!seyogyanya kita jernih sebelum berpikir,berpikir sebelum berbicara.wass. Komentar oleh pangat@prience. — July 27, 2007 @ 11:49 pm semoga Allah menyadarkan Manusia yang tak Jelas Pemikirinnya ini,..tapi satu yang jelas klo dia itu “PERUSAK ISLAM MASA KINI” Komentar oleh Ridwan — August 30, 2007 @ 10:05 am gus dur sering kumpul2 diundang orang yg enggak tauhidnyaas jadi rizki yg didapati gusdur uang2 haram pesangon yg diperolehnya namanya saja gusdur[gadur]/semaunya dari nama saja dah kliatan enggak bener kyai yg satu ini ,,, lbh baik cari kyai yg jelas yg lain bannyakk,,, konon orang2 yg jemput gusdur kebetulan teman gue langganannya nampak seharian dlm forum dg enggak sholat enggak apa lalu kyai macam apa iniii Komentar oleh ali — September 2, 2007 @ 9:49 am capee’ deh (yang komen buanyak bgt).. wong Gus Dur tuh manusia biasa (punya kantong kotoran kaya’ kita kan?) bisa salah juga, kalo salah ya dibilang salah to’ ga usah malu-malu, kalo bener juga bilang aja bener. Al-Qur’an kan dibaca tiap hari, masa’ pedoman hidup kite, yang dipastikan keindahan bahasanya, yang dijaga keasliannya sepanjang jama ama Allah SAWT masa’ dijadiin bahan becandaan diomongin begituan pula (sampai enggan diriku menyebutkan kata itu), reaksi pertama sakit hati? pastilah… muslim mana yang ngga’ sakit hati? mending diem aja Gus daripada bikin kita2 orang pada beradu tulisan. panas.. panas nih.. (kaya’ dimana ya panasnya?) Komentar oleh arian — September 3, 2007 @ 2:10 pm sebagai manusia biasa yang mencoba mengetik dengan benar ternyata bisa juga salah tekan, huruf A-nya ikutan, dengan ini meminta maaf kepada seluruh pembaca. ini diluar kesengajaan. semoga Allah SWT memaafkan hamba yang hina ini. Astaghfirullah al adziimmm… Komentar oleh arian — September 3, 2007 @ 2:16 pm – komentar dihapus, terkait tidak beretika dalam diskusi – di sini bukan forum untuk menghina suatu ajaran agama! Nabi kami Muhammad SAW, membawa ajaran “untukku agamaku, untukmu agamamu…”, tolong anda belajar beretika dan menghargai orang lain, jika anda merasa ajaran agama yang anda anut itu baik,jangan tunjukkan kejelekan anda sendiri!!! admin tausyiah275 Komentar oleh WONG_GOBLOG — September 5, 2007 @ 9:54 am sesama warga indonesia kita memang harus saling damai tapi memang bener kalo gus dur ngomong “jangan bikin aturan hanya berdasarkan islam karena di indo banyak juga yang nonmuslim”tapi kalo bilang al-qur`an itu porno ya gmna ya soalnya porno kalo menurut saya itu kalo ada gambar yang fulgar ama cerita yang hot…..(dalam buku/tulisan) tapi selama saya baca al-qur`an ga da tu gambar yang fulgar` tau ga kenapa karena qur`an yang bikin bukan jendral he he he he he he Komentar oleh MBAH_BEJO — September 13, 2007 @ 2:18 am Kita harus maklum bahwa GD mungkin punya pemahaman sendiri tentang arti kata “porno” itu, yang tentu saja berbeda dengan pemahaman orang banyak. Itulah mungkin celakanya jika ada orang yang memahaminya dgn pengertian sempit.Walaupun begitu mudah2an ini tidak akan menjadi polemik berkepanjangan sehingga mengancam keutuhan ukhuwah islamiyah. Amin Komentar oleh Atho — September 13, 2007 @ 11:34 am didalam hukum islam semua adalah benar kecuali ada hukum yang menyalahkannya, semua adalah halal kecuali ada hukum yang mengharamkannya, dan semua jawaban adalah benar jika mempunyai alasan yang benar juga. jadi jangan kita memandang suatu hal dari satu sisi, jangan melihat kubus adalah hanya suatu bujur sangkar.artinya gusdur boleh berkata hal seperti itu jika dia mempunyai alasan hukum (agama) yang benar, kita pun boleh menyalahkannya kalau kita mempunyai landasan hukum (agama) yang benar. Intinya jangan menghakimi pendapat seseorang jika kita tidak mengetahui ilmu tentangnya/ tidak mempunyai alsan yang kuat dan benar. Komentar oleh bedjo — September 22, 2007 @ 1:48 pm Dari pada kita ‘Gibah’ tanya aja langsung ke GusDur Kayaknya beliau punya rumah/telepon/web/kantor apa lagi ya ??. mungkin ini jalan yang terbaik dari pada kita menerka2. Komentar oleh Acep Rahmat Kosim — September 24, 2007 @ 11:59 am Acep, kok dibilang ghibah ? Anda sudah baca belum semua detailnya ? Semuanya tertulis jelas, hitam diatas putih, bukan ghibah. Dan yang jelas gus dur & JIL adalah gerombolan penipu & pemfitnah Komentar oleh harry — October 6, 2007 @ 5:41 am Seringkali terjadi suatu perbedaan pendapat yang sudah tidak semestinya lagi terjadi, berlebihan, hingga seolah-olah menjadi berseteru dan saling memusuhi. Semoga tujuan dibuatnya blog ini adalah baik, untuk mengetahui mana yang benar dan salahnya (atau setidaknya mana yang lebih benar, atau setidaknya menambah wawasan mengenai dalil dari suatu topik yang ada)Di lain sisi terlihat bahwa sepertinya pembuat blog dapat mengedit bahkan menghapus tulisan yang tidak berkenan.Sekedar ide: bagaimana bila setiap comment yang tidak disertai dalil mohon dihapus saja, perbedaan harus ada dalilnya dan semoga suatu perbedaan tidak menjadi kian meruncing.Setiap tulisan yang “sensitif” cenderung akan menimbulkan pro dan kontra dan tidak akan menimbulkan suatu solusi melainkan menimbulkan suatu masalah baru jika tidak diarahkan. Harus ada aturan-aturan baku yang dibenarkan agar semuanya menjadi terarah.Jazakallah khairan. Komentar oleh Hamba Allah — October 19, 2007 @ 7:33 pm nabi Muhammad SAW. pernah bersabda bahwa orang yang paling berbahaya adalah para ulama yang sesat, kayak GUS DUR gitu menurut saya jangan ditanggepin omongan orang ngaco kayak gitu kalo gus dur menurut saya cuma orang yang pengen dapet perhatian aja Komentar oleh fuad — November 2, 2007 @ 10:25 am Qta harus kembali pada nurani. Ga perlu jauh-jauh untuk membela atas nama ‘ketinggian’ seorang ulama, ‘bahasa menakjubkan’, atau ‘ilmu tasawuf’ yg hanya bisa dipahami oleh segelintir orang. Yang jelas, Islam ini agama untuk banyak manusia. Sehingga penyampaiannya pun harus bisa diterima oleh khalayak manusia, bukan segmen orang2 tertentu. Tentunya kita, kalau menggunakan nurani (yg muncul atas pemahaman agama yg kurus, benar, dan jujur), akan askit sekali jika Quran sebagai dustur Ilahi malah dituduh yg merendahkan itu. Sudah, jangan pake argumen “Quran sudah tinggi, maka tidak perlu dibela jika ia direndahkan”. jangan. Sebab, argumen ini justru mengurangi ketinggian Quran itu sendiri. Mengurangi makna Quran itu sendiri, yg kudu dibela, dihargai, di”tolong”. Sebab Allah akan menolong siapapun yg menolong agamaNya (Q.S Muhammad 7, mhn dibenarkan bila salah). Tapi,…KH.Abdurahman Wahid tetaplah saudara kita. Kita kudu mendoakan beliau. Jangan sibuk pada debat ini, jika toh menyebabkan perpecahan diantara kita. Yg mau menganggap wali, monggo. Yg tidak ya monggo. Tapi, kualifikasi waliullah itu sangat ‘tidak bisa sembarangan diberikan’ begitu saja. Apalagi didasari oleh taklid semata, buka pemahaman Islam yg hanif, sesuai syariat, dan kaidah fiqh yg benar. Sebab menurut asya, tidak ada waliullah yg membiarkan Qurannya dihina, ataupun membiarkan dihina, apapun konteks muatannya. Guyon atopun serius. Berat atopun ringan. kalangan tertentu atopun khalayak ramai. Mari bertaubat, mari beristighfar. Sebab menjaga persatuan umat itu lebih didahulukan daripada bersikukuh pada argumen yg diambilnya. Peace! Komentar oleh redza — November 8, 2007 @ 4:48 pm Assalamu ‘alaikum wr. wbAna ingin sedikit urun rembug…keliatannya forum ini semakin menjadi-jadi.Pengen sedikit mengingatkan.Bagi yang mengkritisi Gus Dur (termasuk jg Ana) sebagai seorang muslim kita WAJIB mengingatkan saudara muslim kita yang lain bila memang salah,kita hanya manusia tempatnya salah dan lupa. Akan tetapi jika kita salah kita pun juga legowo mengakui kesalahan dan memperbaiki diri, bukan malah mencari pembenaran diri dan mencari massa sebanya2knya untuk mendukung. Kalo’ GusDur salah ya yg pengikutnya GusDur mohon diingatkan.Kalo’ tadi dikatakan GusDur Ulama, masa’ ulama kok senengane buat kontroversi. Ana sangat yakin jika Rasul dan para sahabat masih hidup mereka akan mengkritisi hal ini. Harusnya jika dikatan ulama mestinya ya ittiba’ pada Rasul… Apa rasululullah bertindak seperti itu…?????Dan lagi dalam QS. At Taubah Ayat 65-66 sangat jelas disebutkan 65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”66. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. Udah jelaskan…????Bagi pengikut GusDur…mbok yo jangan taqlid buta, Imam syafi’i yang dijadikan madzhab saja sangat menentang taqlid buta. Sebenarny gak apa2 jika yang dikatakan GusDur itu pada saat dia sedang sendiri dan untuk dirinya sendiri. Yang jadi masalah adalah dia berkata dihadapan orang banyak dan ada yang menjadikan dia sbg panutan sehingga dikawatirkan dia malah menyesatkan umat yang aqidahnya belum kuat. Apakah seperti ini ciri seorang ulama / waliyullah??? Cobalah kita berpikir dengan jernih…Janganlah kita memperturutkan emosi dengan mati2an membela GusDur yang perkataannya belum tentu benar, jangan2 nanti kalo’ mati beneran bukannya mati syahid malah mati sangit.Harusnya yg kita perjuangkan adalah perkataan dan perjuangan rasulullah.Harusnya kita jg melihat siapa yang kita tokohkan, bagaimana kiprahnya dalam keluarganya…apakah bisa membimbing keluarganya sesuai dengan syariat islam ato tidak. Kalo menasehati keluarga+pengikutnya untuk berjilbab yang syar’i saja belum bisa bagaimana bisa menasehati orang lain.Akan tetapi bagi kita yg mengkritisi kita pun harus selalu introspeksi diri dan menjaga diri agar tidak jatuh dalam emosi gila. Kita juga wajib mengingatkan kepada kaum muslimin yang masih belum kuat aqidahnya tentang permasalahan ini, jangan samapi berlarut2 dan menimbulkan keresahan. Dan jika kita mengingatkan para pengikut GusDur haruslah yang sabar karna bisa jadi diingatkan sampe 1000 kali pun mereka tidak akan mau menerima. Saya adalah pengikut Rasulullah Muhammad saw, umatnya. BUKAN UMAT ATO PENGIKUT GUSDUR…..!!!!!!!! mari banyak2 istighfar agar trhindar dari fitnah seperti ini lagi. Subhanallohumma wabihamdika asyhadu alla ilaa ha ilaa anta astaghfiruka wa atubu ilaik Wassalamu ‘alaikum wr. wb Komentar oleh Nanang — November 13, 2007 @ 5:35 pm Gus Anda itu memang master of genius, jalan pikiran Anda itu ga bisa diindera, sampe-sampe pastor-pastor keparat itu bisa membuka aib tentang injil sampai sebegitu detailnya. kesimpulannya kitab suci kok porno, injil-injil… aneh!!!!! Komentar oleh imas — November 19, 2007 @ 9:03 am bravoo bwt GUS DUR…aku dukung sgala perkataanmu emg patut digituin koq… hahahah biar pada kocar kacir Komentar oleh muhammad aliyan — November 21, 2007 @ 1:52 pm imas yg aneeh!!!!! km yg seharusnya dipriksa oleh orang GILA!!! hahaha bravo GUS DUR… ttp JAYA sepanjang MASA hiiduuppp Komentar oleh muhammad aliyan — November 21, 2007 @ 1:55 pm Masya Allah klo Gusdur bilang Al Qur’an adalah kitab yang paling porno, itu sama saja dengan menyamakan Al Qur’an dengan Kitab Porno. Logika sederhana aja ya sebagai orang awam, klo Al Qur’an itu adalah kitab yang porno, maka dapat diibaratkan seperti ini,Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk menyampaikan Alqur’an kepada umat manusia, maka redaksinya dapat diganti “Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk menyampaikan kitab porno kepada umat manusia atau, Allah berfiman dalam Al Qur’an, bisa di anggap “Allah berfirman dalam Kitab Porno” atau, ketika ada lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), maka akan menjadi Musabaqah Tilawatil Kitab Pornoatau saat kita mengatakan, ajarkanlah kepada anakmu Al Qur’an, maka tentu akan berubah menjadi “ajarkanlah kepada anakmu Kitab Porno”atau, saat ibu-ibu melihat anaknya pandai baca Alqur’an dan dia mengatakan,”duh anakku udah pandai baca Al Qur’an lho jeng..” maka tentu akan berubah menjadi “duh anakku undah pandai baca Kitab Porno lho jeng..” Masya Allah… Mengatakan Al Qur’an sebagai kitab yang paling Porno maka sama saja dengan menganggap Al Qur’an sebagai kitab Porno, sama ketika kalau kita bilang Majalah Playboy itu majalah yang paling porno, tentu kita sepakat bilang kalau Majalah Playboy itu adalah majalah porno..ya kan ??trus kalau kita lihat di Mesjid ada tulisan TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an), maka dapat diganti dengan “Taman Pendidikan Kitab Porno”Masya Allah…..apa Gus Dur ndak mikir ya sebelum ngomong itu ? Rasulullah dan sahabat aja berjuang mati-matian menegakkan kalimat allah, eee dia (GD) enak-enak aja bilang kitab Porno…. Semoga Gus Dur bertobat….amin.. Komentar oleh yayoex — November 26, 2007 @ 2:54 pm harry, fuad, dan gengnya adalah tukang fitnah terbesar di Indonesia Komentar oleh didin — November 29, 2007 @ 11:42 am komentar gusdur masuk dalam gaya n lahjahNya. kalu gak komentar gitu bukan Dia.. menefsirinyapun berbeda2.. toh semua itu lebih memberikan pada kita banyak wacana sbgai proses kedewasaan berfikir yang objektif.dan saya menunggu kata – kata dan ungkapan yang lebih menarik dari yang sebelumnya. teruskan gus…. Komentar oleh ahmed — December 7, 2007 @ 2:16 am Kalo Kita Bicara Hukum Di Indonesia dan Lawan Bicaranya Bahas Tentang Aqidah Islam Sampai Kapan Pun Gak Nyambung…by http://www.aab32.com Komentar oleh http://www.aab32.com — December 12, 2007 @ 8:55 am mungkin maksudnya gu dur, Al-Quran itu menerangkan apa adanya dan sejelas2nya, jadi karena berkaitan dengan ruu app maka disebut kalimat porno. tapi itu cuman asumsi saya, kalau salah mohon maaf Komentar oleh cahyo achsanto — December 16, 2007 @ 11:29 pm Gusdur itu tau apa???Orang gak bisa liat aja, Mbok biarin aja nti juga di panggil jga ma allah.Ana yang baca situs ini juga ikut gregetan ma gusdur. Gitu kok ya ada pendukungnya ya??Dah jelas-jelas di udah “mendustakan Allah” Istighfar Gus!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!Orang Islam tapi KTP-nya doang..ISTIGHFAR Komentar oleh hamba allah — December 19, 2007 @ 9:06 am Apa gusdur itu da’jal??????????????? Komentar oleh hamba allah — December 19, 2007 @ 9:13 am Memang gus dur begitu, khan dia bukan sarjana berbasis islam toh, cuman berbasis satra aja, jadi nggak usah di dengar omongannya, dia memang sudah jauh tersesat, mudah2an Allah memberikan ganjarannya… Komentar oleh arman efendi — January 4, 2008 @ 9:58 am mas-mas.. mba-mba..yuk kita semuanya tersenyum..tarik nafas dalam dalam.. kita ngga tau lho kapan kita dipanggil sama yang diatas..kenapa kita ngga pilih untuk bahagia??yang lagi pada emosi coba bayangin senyum anaknya atau senyum anak siapa aja yang polos lugu penuh kasih sayang..aku ngga tau banyak soal agama,,so komentar akulove.. peace… respect…. Komentar oleh Putra — January 8, 2008 @ 10:09 am gusdur itu bukan kiai tapi dukun.wong matanya saja gak bisa ngliat mana bisa baca alquran.liat aja temennya saja inul.itulah kalau zaman sudah mendekati akhir banyak ulama yang fasik dan bodoh.Allohuakbar semoga Alloh menghukum dan melaknat orang yang menghina kitab suci yg tdk ada tandingannya Komentar oleh adin — January 11, 2008 @ 8:21 pm Assalamu’alaikum wr wb, saya selaku warga Indonesia merasa malu, mengingat seorang GusDur pernah menjabat sebagai presiden RI, pemimpin dari lebih 200 juta penduduk indonesia. Ya Allah, kumohon pada-Mu, jangan sampai terulang kembali tragedi ini. wassalamu’alaikum wr wb Komentar oleh Irfan — February 8, 2008 @ 7:24 am alhamdulillah tentu pro dan kontra kita d sini,sama2 mencintai dan mengagungkan islam terlebih lagi pada kitabnya alqur’anulkarim. Komentar oleh junaedi — February 21, 2008 @ 11:59 am nanang lagak km kyak ustat. . . .hati2 kl ngomong gusdur gk cuma punya pengikut yang setia,tapi jg punya lebih dari 12.000 laskar yang siap membungkam mulut2 sok pintar,salam panas (laskar 1 ) Komentar oleh PBM.(pasukan berani mati) — February 22, 2008 @ 3:30 pm buat yang mengaku singa gurun. .?kenalkan nm q junaedi dlm bhasa arab berarti(tentara). . .dan gusdur gak cma punya 1.junaedi tapi masih banyak bahkan ribuan.tolong jaga komen anda,tentang ulama kami(Gd)atau tantara ini akan membantai habis singa ompong di gurun(zufar sahara).salam panas PBM (1). .(pasukan berani mati/laskar 1 kiai graning) Komentar oleh PBM — February 22, 2008 @ 8:31 pm orang gila didengerin GUSDUR PANTESNYA ADANYA DI GROGOL Komentar oleh subhan — March 6, 2008 @ 10:06 pm LOE NGAPAIN bela-belain orang yang udah ga waras lagi eh Junaedi lu udah gila apa miring orang gila di belain dia udah bukan orang islam lagi coz udah berani ngatain kitab sucinya sendiri sadar lo ni gua siap ganyang GUSDUR KALO DIA NGOMONGNYA NGAWUR LAGI LEBIH BAIK DIAM KALO KAGA BISA NGOMONG YANG BAIK Komentar oleh subhan — March 6, 2008 @ 10:12 pm Memang begitulah keadaan keagamaan di Indonesia, tidak bisa disangkal lagi, fakta telah saya coba apa yang telah tertulis di buku tersebut, hanya karena menanyakan kenapa anda begitu percaya Sunan Bonang waktu wafat menjadi dua? Tidak adakah satupun orang yang mengetahui dirinya menjadi dua? Bukankah dia seorang ulama/”wali”, Sedang orang awam pun kalau akan meninggal sanak saudara berkumpul? Mungkinkah waktu sakhratul maut tak ada seorangpun menungguinya? Terus malaikan datang pada kuburan yang mana? Nahdliyin itu pun mencak-mencak, dengan muka merah, main tuding, dan langsung memutuskan silaturahim. padahal yang saya tanyakan (saya tidak dalam keadaan marah) hanya ingin tahu hal tersebut yang tak masuk akal. Dan hemat saya, apalah artinya memuji-muji, menyanjung-nyanjung seorang “wali” dengan berlebih-lebihan?, toh bukankah sudah jelas apa yang tersurat dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya manusia yang ma’sum hanya para Nabi dan Rasulullah SAW? Jika memang mau ber-Islam yang sebenarnya ya hindari Ashobiyah, penilaian Ashobiyah, Kultus Individu (kenyataan di lapangan memang begitu). Memang tulisan buku Hartono AJ terasa pahit dan menusuk kalbu bagi yang membela golongan dan kyai2 mati-matian. Jika akidah anda banyak merujuk pada Qur’an dan Hadits2 shahih, Insya Allah tak ada yang perlu dihina dan dihujat. Islam sebenarnya ya Ahlussunah Waljamaah dengan pemahaman Salafus sholih tanpa ditambahi dengan bid’ah dan khurafat dan takhayul. Saya tadinya seperti anda merasa ga terima, alhamdulillah saya tidak terfokus pada yang bicara, saya cari dalil yang dia gunakan benar ga? Ahlul Haq adalah Allah SWT dan Rasul-Nya, bagaimanapun bertentangan dangan hawa nafsu saya, saya yakini apa yang datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Jika keanehan, keajaiban dan lain sebagainya yang terjadi pada selain nabi, apakah mutlak harus diyakini kebenarannya bahwa hal tersebut sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Islam? DAn haruskan apa yang dia ucapkan dan perbuat menjadi suri tauladan bagi umat Islam (di Indonesia?) Kurang sempurnakah apa yang disampaikan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya? Lebih utama mana meyakini Rasul SAW yang jelas2 ma’sum dengan “Wali” yang nota bene hanya cerita turun temurun dan dibesar-besarkan(oleh mereka yang ghuluw dalam menyanjungnya)? Seandainya para “Wali” tersebut dihidupkan lagi pun Insya Allah kaget dengan cara beragama yang seperti sekarang ini di kalangan masyarakat Jawa. Karena metode yang digunakan oleh para “Wali” itu sifatnya hanya darurat, karena dengan cara itulah Islam bisa diterima. Tapi apa lacur pada jaman sekarang ini cara berdakwah memakai metode jaman “Wali”, masihkah kita merasa menganut “Islam yang sebenarnya”? Bukankah pada jaman sekarang ini sudah ada yang menggugurkan kedaruratan? Saya pun kagum dengan metodenya, karena dengan metode tersebut banyak orang animisme masuk Islam. Tapi untuk jaman sekarang ini, jika diterapkan metode tersebut dipakai akan menjadi bias, rancu, dan kacau. Islam menjadi Hinslam (Hindu Islam), Krislam, Buslam dll dan akhirnya bias. Terus apa maksud Gus Dur dukung JIL, Pluralisme, bahkan yang katanya Ulama, KH, dan “Tokoh Islam”? pun mau diberkati oleh >10000 pendeta, akrab dan mau dijadikan centeng Israel (yg sudah jelas dilarang Allah), jadi juri FFI, jadi anggota BSF, bicara ceplas ceplos akibat stroke, jadi laskar kristus, mangku istri orang. Terus apa yang harus dibanggakan dengan orang seperti itu? Jika yang dibela kebenaran Islam, tegurlah GD, Rasulullah SAW saja mengancam anaknya Fatimah, jika mencuri dipotong tangannya. Berpahalakah orang yang membela GD habis2an hanya berlandaskan ketaqlidan, ghuluw dan fanatisme saja? Suatu contoh, dan sekarang masih. Dzikir itu kepada siapa? kepada Allah bukan? Kenapa harus dengan suara keras? Padahal dzikir dan berdo’a kepada Allah SWT harus dengan rendah hati dan suara yang lembut? Tulikah Allah SWT? Kalau dijawab tidak, terus dengan tujuan apa melakukan dzikir tsb dengan suara keras? Tidakkah itu mengganggu orang yang sholatnya terlambat? Komentar oleh eko — March 7, 2008 @ 12:40 am subhan sebelum km ganyang gus dur.km dulu yang akn kami bantai ku penggal dan ku arak kepalamu keliling kota surabaya. bagaimana bila kita ketemu saja. . . . dan satui lagi’ bukan gus dur yang gila tapi kamu.yang sinting,km gak tau kronologis kejadian waktu itu jd gak usah banyak bacot.(ini tantangan resmi)jawab testi q agar ini lebih lanjut. Komentar oleh PBM — March 13, 2008 @ 12:13 pm benar siapa saja yang menghina gus dur dia pantas mati,subhan kami tunggu jawabmu.sampai ketemu di medan perang Komentar oleh GARDA BANGSA — March 13, 2008 @ 12:18 pm eh subhan lagak kamu kayak tuhan aj pk ngehukumi orang muslim gak muslim.padahal kamu tu masih suka ONANI di kamar mandi. Komentar oleh baskoro — March 13, 2008 @ 12:42 pm ne yg nmnya subhan jangan percaya ama kata2 di atas itu cuma gertakan aj. . .saya hargai testi/komen kamu,boleh kami tau alamat email km ,biar kami bisa (add)nanti km tunggu. . . Komentar oleh pagar nusa — March 13, 2008 @ 12:50 pm eh subhan km dh bikin bangun macan yg udah tidur lebih dr 60th,tp ada gunanya jg soalnya udah kelamaan tidur,dan sekarang lagi lapar berat pengen cincang kamu punya badan,seperti dulu kami cincang dan bantai orang2 PKI. .km pasti cr tau tentang km jangan kuatir kita pasti ketemu . .cox Komentar oleh musa — March 14, 2008 @ 9:16 am subhan ente pengen mampus ya. . . .yg punya blog ini kyknya juga agak gila. . . Komentar oleh guruh — March 14, 2008 @ 9:24 am Assalamu ‘alaikum wr.wb Wong orang salah kok dibela-belain mati2-an.Tahu apa antum semua tentang perang dan jihad?Jihad bukanlah membela seseorang yang sudah jelas menghina Al Qur’an. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya pada antum sekalian.Buat PBM, kalo antum emang brani mati silahkan antum pergi ke medan jihad di palestine, jangan cuman menyombongkan diri berani mati.Kalo ana tidak gentar sedikitpun karena yang menentukan hidup mati ana bukanlah antum. Antum tidaklah pantas untuk ditakuti karna antum hanyalah manusia, sama lemahnya dengan ana. Allah yang paling hak untuk ditakuti.Jika Allah berkehendak ana dan antum pun bisa mati besok pagi, bahkan hanya dengan kejatuhan seekor semut.Buat apa menyombongkan diri dengan mengatakan berani mati.“Rasulullah bersabda :”Barangsiapa yang terdapat kesombongan dalam hatinya sebesar biji dzaroh, maka ia akan masuk neraka”(HR.Bukhori-Muslim) Semoga Allah senantiasa mengampuni hamba2NYA yg selalu bertobat dan memohon ampun, dan semoga Allah memberikan hidayahNYA bagi kita semua. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata: “Ya Tuhan Kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. (QS. Al-Ahzaab (33): 66-68) Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata:”Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an ketika al-Qur’an telah datang kepadaku.Dan syaitan itu tidak akan menolong manusia”. (QS. Al-Furqan (25): 27-29) Itulah ancaman Allah bagi orang yang taqlid buta pada pemimpinnya. Jikalau antum memang orang islam yg istiqomah harusnya antum menghidupkan dan menegakkan sunnatullah dan sunnah rasul, bukan malah menghina. Mungkin jika saja GusDur hidup di jaman Rasulullah maka Umar akan segera memenggal kepalanya karena telah menghina Al Qur’an. Ya aiyuhal ladzina amanu ittaqullah, haqqo tuqotihii walaa tamutunna illaa wa antum muslimun. Wassalamu ‘alaikum wr.wb Komentar oleh nanang — March 21, 2008 @ 10:51 pm hhmm…. apa kalo rasulullah marah lantas berkata kotor/mengumpat?orang macam musa tidaklah pantas menyandang nama musa, nama Nabi yang senantiasa menjaga hatinya dari hal2 kotor.Anda secara tidak langsung juga merendahkan gus dur sendiri dengan bertabiat jelek spt itu, saya yakin gusdur juga gak suka kalo anda mengumpat2. ternyata orang yang suka mengumpat2, yang itu adalah perbuatan yang disukai syetan.Semoga anda terhindar dari firman Allah dalam surat Al An’am ayat 112.Marilah kita jauhi perbuatan2 syetan.Kemudian, anda2 yang mengatakan apakah pengen mati/mampus adalah termasuk orang2 yang berlebihan dan telah kufur pada Allah. Allah-lah yang menghidupkan dan mematikan manusia, kalian bisa apa? banyak2lah mohon ampun karena kekufuran kita semua.Sudahlah hentikan semua ini, tidak ada gunanya.baik yang pro maupun yang kontra dengan gus dur, mbok dikasih tahu 1 juta kali pun kita gak pernah bisa satu pendapat. Sudah kita serahkan pada Allah yang akan menghakimi, entah azab akan ditimpakan pada siapa, yang pro ato yang kontra itu kehendak Allah.yang pasti marilah kita banyak2 istighfar Komentar oleh hamba Allah — March 21, 2008 @ 11:12 pm hhmm…. apa kalo rasulullah marah lantas berkata kotor/mengumpat?orang macam musa tidaklah pantas menyandang nama musa, nama Nabi yang senantiasa menjaga hatinya dari hal2 kotor.Anda secara tidak langsung juga merendahkan gus dur sendiri dengan bertabiat jelek spt itu, saya yakin gusdur juga gak suka kalo anda mengumpat2. ternyata orang yang suka mengumpat2, yang itu adalah perbuatan yang disukai syetan.Semoga anda terhindar dari firman Allah dalam surat Al An’am ayat 112.Marilah kita jauhi perbuatan2 syetan.Kemudian, anda2 yang mengatakan apakah pengen mati/mampus adalah termasuk orang2 yang berlebihan dan telah kufur pada Allah. Allah-lah yang menghidupkan dan mematikan manusia, kalian bisa apa? banyak2lah mohon ampun karena kekufuran kita semua.Sudahlah hentikan semua ini, tidak ada gunanya.baik yang pro maupun yang kontra dengan gus dur, mbok dikasih tahu 1 juta kali pun kita gak pernah bisa satu pendapat. Sudah kita serahkan pada Allah yang akan menghakimi, entah azab akan ditimpakan pada siapa, yang pro ato yang kontra itu kehendak Allah.yang pasti marilah kita banyak2 istighfar Komentar oleh hamba Allah — March 21, 2008 @ 11:13 pm Afwan, boleh taruh link gak ya di sini. Mungkin link2 berikut sedikit banyak bisa dibaca. Ada beberapa fakta di sana. Afwan kalo tidak berkenan, baik utk pendukung GD juga yg tidak setuju dengan GD. 500 Ulama Pulau Jawa Laporkan Gusdur ke Mabes Polri Penelitian Untuk Gus Dur ttg “Pornoisme”Gus Dur Menghina Al-Qur’anTantangan Debat Publik Kepada Gus Dur Sekali lagi afwan jika tidak berkenan. Wassalamu’alaikum wr wb. Komentar oleh junaedi — March 21, 2008 @ 11:19 pm Allah SWT berfirman: “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya. Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya,(diwaktu itu) utusan Kami bertanya:”Dimana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah” Orang-orang musyrik itu menjawab:”Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami”, dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang kafir”. (QS. Al-Araf (7): 37) Komentar oleh junaedi — March 21, 2008 @ 11:28 pm wah seru juga ya diskusiin tentang gus dur.ada yang kepancing sampai ngumpat-ngumpat.malah ada yang sok-sok alim ngeluarin ayat-ayatih gue jadi takut. memang sich menilai gus dur agak repot..sebab tingkat kegeniusan gus dur melebihi kita semuacoba dech ngaca siapa sich tokoh yang mampu mengalahkan gus dur. selama ini belum ada tuh…cuma paling-paling hanya orang yang emosi melulu tanpa melihat dengan mata hati yang jenrih.orang yang bela gus dur maupun yang menghina gus dursaya kira orang yang salah. sebab gus dur bukan untuk di bela islam datang bukan untuk memajukan akal tetapi untuk memperbaiki akhlak. nah gus dur itu sebenarnya tujuannya satu memperbaiki akhlak jenengan-jenengan yang kelewatan ekstrem. Komentar oleh sina — April 10, 2008 @ 11:21 pm mohon maaf sebelumnya, utk akhi/ukhti sina,bisa ngasih dasar gk bahwa kata antum “islam datang bukan untuk memajukan akal ” ???Di dalam Al Qur’an banyak sekali yg bisa kita pelajari, bahkan banyak ilmuwan yang sangat takjub dengan kekinian kandungan Al Qur’an. Teknologi dan pengetahuan yang luar biasa terkandung di dalam Al Qur’an yang merupakan pedoman hidup kaum muslimin. Bagaimana antum bisa berkata seperti itu?Ana hanya menyarankan, banyak2lah mempelajari Al Qur’an memahami maknanya, jangan hanya cuman membaca saja. bagaimana kita bisa hidup sesuai dengan tuntunan Al Qur’an kalamullah jika kita tidak tahu isinya??? Kemudian untuk masalah gus Dur, antum berkata “gus dur itu sebenarnya tujuannya satu memperbaiki akhlak jenengan-jenengan yang kelewatan ekstrem”, ana kira jika Gus Dur ingin memperbaiki akhlak, harusnya tidak berkata dan berbuat semaunya. Harusnya ittiba’ rasul, baik dalam perbuatan maupun dakwahnya.Seseorang itu bisa dilihat dari dzahirnya, apakah akhlak Gus Dur sudah sangat mulia???Bagaimana dengan dakwah Gus Dur pada keluarganya???Apakah keluarga Gus Dur sudah memenuhi syariat islam, baik dalm tingkah laku maupun berpakaian??? Jadi, harusnya yang kita bela bukan Gus Dur nya, tapi Allah, Muhammad, dan Islam. Kita harus fair, Gus Dur hanyalah manusia biasa, sangatlah mungkin melakukan kesalahan, baik kecil maupun besar. Jadi kita harusnya lebih fair, kalo salah ya salah, kalo betul ya betul Komentar oleh hanif — April 14, 2008 @ 7:43 pm Gus Dur memang orang yang gendeng jika mengatakan bahwa Al-Quran itu kitab paling porno tetapi kita memang harus mengakui sebagai orang goblok yang tidak tahu maksud dari porno alias kitab yang tidak pernah ditutup-tutupi (oleh orang Yahudi) artinya masih murni. Komentar oleh khidir — April 15, 2008 @ 10:00 pm Hmmm… brarti nanti jika mau beli madu kita tanya ma penjualnya : Pak, saya mau beli madu, ni madunya “porno” apa tidak ya???Atau mungkin nanti akan ada juga dalam perusahaan atau negara yg menggunakan sistem open managemen, atau dalam bahasa akhi khidir managemen “porno” gitu ya..??? Atau dalam persidangan seorang saksi dituntut utk porno terhadap fakta yang ada. Gitu kan???Atau contoh kalimat lagiSaya melihat wanita itu dengan mata porno. Ana tanya pada antum semua yg baca, kira2 pas apa gak jika kita menempatkan kata porno seperti tadi.Nah jawaban antum itu sudah membalikkan apa yg disampaikan akhi khidir. Komentar oleh ikhsan — April 20, 2008 @ 6:43 pm mas nanang yang alim. . . .laskar2 dan orang2 GD gak cuma bisa ngomong,lebih dari 99 orang dari golongan kami telah turun di di tanah palestin, dan smp sekarang 13 orang belum di ketaui kabarnya saya harap anda yg gak cuma bisa ngomong dan ngeluarien dalil, , , , Komentar oleh pbm — April 22, 2008 @ 11:18 am Alhamdulillah jika memang demikian. Jikalau yang kita perjuangkan adalah tegaknya islam dan Tauhid itu adalah hal yg luarbiasa. Akan tetapi jika yg di bela mati2an adalah Gus Dur dengan tidak memandang apakah salah atau benar perbuatannya maka ini adalah SALAH, harusnya yg kita bela adalah Allah, Rasul dan Islam sbg dien kita. Jika adal yg menyalahi atau bahkan menghina dan memusuhi, maka ia adalah termasuk musuh bagi kaum muslimin.Ini kita juga menunggu giliran utk berjihad, bertempur di medan perang.Diantara kita kaum muslimin jg ada yg membentuk thoifah utk mempelajari ilmu dien dan disampaikan kpd kaum muslimin yg lain dan menegakkan islam lewat dakwah.Seorang mujahid yg akan dikirim utk berjihad tidak dengan serta merta berangkat tanpa bekal apapun, itulah sebabnya mengapa perlu i’dad dalam berjihad agar nanti di medan perang kita bukan lagi justru menyusahkan rekan yg lain. Dan kita juga antri utk dikirim karena utk menuju medan perang juga butuh dana.Di dalam jihad tidak mengenal kata KALAH. Jika memenangkan pertempuran berarti kita mendapatkan kejayaan islam, tp jika kita mati kita akan mendapatkan kesyahidan yg selalu dinanti2.Dan perlu di ingat juga, dalam berjihad tentunya kita jg harus ittiba’ rasul, rasul ketika terkena tombak juga berdarah dan bahkan gigi rasul patah.Hadis riwayat Sahal bin Sa`ad ra.:Bahwa dia ditanya tentang luka Rasulullah saw. dalam perang Uhud, Sahal menjawab: Wajah Rasulullah saw. terluka, gigi seri beliau patah serta topi perang beliau juga hancur. Fatimah putri Rasulullah saw. lalu membersihkan darah beliau sementara Ali bin Abu Thalib menuangkan air ke atas luka dengan menggunakan perisai. Ketika Fatimah melihat ternyata air hanya menambah pendarahan, ia lalu mengambil sepotong tikar dan membakarnya hingga menjadi abu. Kemudian Fatimah menempelkan abu tersebut pada luka beliau hingga berhentilah aliran darah itu”.(shahih muslim hadist no.1038) Jadi dalam i’dad yg diajarkan adalah taktik perang, cara berperang dan bertempur baik dg fisik maupun senjata, dan tentunya do’a dan munajat kita pada Allah. Dan perlu di ingat juga bahwa dari riwayat di atas menunjukkan bahwa rasul tidak kebal senjata, jadi tidak perlu kita menggunakan ilmu2 mistis yg justru nanti akan dijadikan ajang jin utk menjamah diri kita.Harapan kita hanya ada ” ‘isy kariiman aumut syahidan ”Hidup mulia atau mati syahid. Membawa kemenangan atau mendapatkan kesyahidan yg menjadi dambaan bagi kaum muslimin Semoga kita dijadikan sbg jundi2 Allah dlm menegakkan kalimatullah.Rapatkan barisan dalam perjuangan, luruskan niat kita, dan bersihkan aqidah kita shg kita tetap lurus di jalanNYA. Komentar oleh nanang — April 22, 2008 @ 4:02 pm Benar atau tidaknya perkataan pbm hanya Allah yg tahu…. Wallahu a’lam… Komentar oleh abu syahid — April 22, 2008 @ 5:19 pm tegur saja orang2 yg salah dengan kasih kalo masih saja berbuat salah dan iyu dosa biarkan Tuhan saja yh mnghukum, kita ga boleh bertindak krn kita bukan Tuhan. Soal pendapat Gus Dur saya setuju kalo apapun dan siapapun ga boleh bertentangan uud 45 dan pancasila biar saja para pejabatnya yg ngawur kita masyarakat indonesia setia pd pancasila Komentar oleh iwan — May 8, 2008 @ 9:18 pm Emang gusdur itu udah keterlaluan, oto bisaa di katakan dia antek Orientalis Mungkin, mentang2 punya otak cepet. Yaa kalo semua orang kayak gusdus, tahu dasar2 agama!! DLL, Kaloo orang2 awan, yang hanya mengkultuskan dan ikut2tan, bisa2 tersesat. Kalo udah tersesat siapa yang tanggung dosanya.. !!! Komentar oleh Muhammad — May 11, 2008 @ 5:32 pm masalah Gus Dur aja kok dibikin repot… GD bukannya menghina AlQur’an, tapi cuma pengen sampaikan pesan kalo pornografi itu sangat bergantung pada persepsi orang. So bisa aja “orang lain” suatu saat berdasarkan UU anti pornografi akan mengatakan kalo AlQur’an juga mengandung pornografi, so, UU itu tdk selayaknya diterbitkan (ini menurut yang setuju versinya GD). bagi yang pro GD, GD gak pernah kok minta dibela-belain sampai meneteskan darah penghabisan segala macam, beliaunya itu easy dan sabar, so tirulah kesabaran GD sebagaimana GD meniru kesabaran kanjeng nabi. Lagi pula GD gak suka perang, apalagi perang sesama muslim. What do you think…? Komentar oleh AREMA — May 17, 2008 @ 10:27 am memang kita yang terlalu bodoh tidah mengetahui yang sebenarnya.memang di alquran ada ajaran tetnatng menyusui kok.di kitab shahih bukhori muslim juga ada kok.kata kyai saya KH.AHMAD DAIN arif BADRUS memang ada kok.trus itu juga porno..tapi itukan ajran dan sudah jadi hukum bagi kita.kita belom sepantaran mentang gus dur.GD tuh waliyulloh kharismatik……jangan sekali2 menhina tokoh saya. Komentar oleh yudi — May 19, 2008 @ 11:42 am GUs Dur tu orang gila, jadi komentar2nya anggap aja sampah… Kami orang sumatra heran melihat tingkah laku orang2 jawa yang banyak “ngikut” gusdur. kok bisa kalian percaya ama omongan orang yang OTAKNYA TINGGAL SETENGAH (setengahnya lagi udah STROKE). Dasar orang2 aneh.. makanya banyak orang jawa yang jadi pembantu rumah tangga, karena orang jawa mau diperbudak oleh orang2 yang banyak duitnya. Komentar oleh Que — May 23, 2008 @ 4:10 pm Asalamu alaikum wr wb Akhi atau ukhti yang baik,hendaknya jangan mencela hingga membawa orang yang tidak bersangkutan dan tidak tahu menahu.Saya orang jawa,tapi mungkin ngga seperti yang anda maksudkan..?,toh hakikatnya semua manusia itu adalah budak contohnya saja Rosulullah saw,dia adalah budak Allah swt,dan dia tidak mengharapkan sedikit duniapun dari Allah swt,tapi hanya mengharap ridlo Nya semata.Dan sangat beda jauh dengan diri kita yang selalu berharap dunia dan selalu di perbudak oleh dunia, banyak orang yang stres,bahkan sampai melupakan agama hingga tidak tau lagi halal atau haram.Maaf sebelumnya,contoh almarhum ibu saya,dia pernah menjadi TKW di saudiarabia sebagai pembantu rumah tangga,sampai ibu meninggal dengan sebab sakit yang dibawa dari arab. Dia bkerja ikhlas karna Allah,antuk mencukupi keluarganya ,dia tidak punya alasan untuk tidak bekerja di arab,dia janda beranak 4,dan ijasah yang di punya hanya SD,mau dagang ngga ada modal,itulah ibu saya,tentunya saya sangat menghargai sekali atas perjuangannya. Mudah-mudahan anda sebagai orang yang arif bisa mengerti perasaan saya yang di jadikan Allah swt sebagai anak seorang pembantu.Dan seandainya anda yang arif mempunyai kariawan di perusahaan ,atau punya pembantu di rumah yang selalu melayani keluarga anda,saya sangat berterima kasih sama anda sbagai saudara seakidah,apa bila anda yang arif menghargai mereka sebagai mana mereka menghargai anda yang telah menolongnya karna Allah. Amin… Mengenai Gusdur,saya sama sekali tidak suka atas ucapan dan perbuatannya yang melangar syariat islam.*contoh,dia bilang bahwa AL QUR”AN itu kitab yang paling porno di dunia* Nabi,sahabat,tabiin2,bahkan ulama ahli tafsir dari IBNU KATSIR sampai AL MISBAH atau AL ASHAR,tidak ada yang menafsirkan hingga “SEORANG IBU YANG MENYUSUI ANAKNYA” di katakan porno. Wahai sodaraku GARDA BANGSA,sangat dosa besar apa bila seorang muslim membunuh saudaranya sendiri. Saudaraku GARDA BANGSA,sayapun tidak suka orang yang mencaci GUSDUR,apa bila GUSDUR berbuat baik menurut syariat islam. Wahai saudaraku seaqidah, Hendaklah jangan kau anggap sebagai allah setelah ALLAH,jangan kau anggap nabi setelah nabi Mukhammad saw. GUSDUR atau saya,atau anda.. hanyalah manusia yang tak lepas dari salah dan dosa. Wahai saudaraku, Apakah anda percaya bahwa GUSDUR atau SAYA di MAKSUM oleh Allah SWT dari kesalahan atau perbuatannya..?Rosulullah bersabda:Vainna khoirol khadiitsi kitabullah, wa khoirul had yii had yuu Mukhammaddin solallahu alaihi wasalam. artinya: sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah rosulullah solallahu alaihi wasalam. Sudah jelaskah anda siapa yang pantas disujudi dan ikuti.. ?, Insya Allah anda tau itu . Segala yang benar datangnya,dan segala yang salah adalah dari saya sendiri sebagai hamba yang dloif[lemah] wallahu a’lam bi sowab. salman assalwi *[29 mei 2008]“Siap di kritik” Komentar oleh salman assalawi — May 30, 2008 @ 1:31 am Maaf sebelumnya,kalimat terahir maksud saya : ” Segala yang benar datangnya dari Allah SWT,dan segala yang salah adalah dari saya sendiri sebagai hamba yang dloif[lemah] Komentar oleh salman assalawi — May 30, 2008 @ 1:40 am gitu aja kok ribut…ya, kapan qt ini bisa maju kalo gt aj ribut kang…. dibuka dulu wawasan dengan ilmu yang dalam baru bisa melihat segala sesuatu dari segala aspek, sehingga tidak mudah menyimpulkan Komentar oleh abdul — May 30, 2008 @ 9:41 am halamn apaan nih, Al quran kitab suci di blang porno. Emangnya pegangan hidup sampean tuh apaan?UUD45 yang harganya “goceng” eh klo dpasar lebih murah lgi…. tpi kgk di amalkan oleh bangsa dan negra. Komentar oleh Sonic Jihad — June 4, 2008 @ 9:38 pm Berpegang teguh pada Alquran & Hadist tiada kitab sesuci dan ssempurna Alquran, yang lain kitab book of record he…he… Takbir “Allohu Akbar” Komentar oleh Sonic Jihad — June 4, 2008 @ 9:41 pm menurut saya GD memang unik, komentar2 yg beliau lemparkan disatu sisi membuat orang bisa tersenyum bahkan ketawa, tapi disisi lain bisa juga membuat orang menjadi merah padam mukanya menahan marah, karena merasa tersindir ato memang benar2 “kena” dengan kalimat yg diucapakan GD, bagi saya GD tetap seorang figur yg luar biasa, karena apa yg dikatakannya mengandung nilai2 yang benar sejauh kita bisa memahami benar konteks dan maksud dibalik itu, pembelajaran yg benar2 kadang tanpa terasa diberikan tanpa orang2 sadari sudah masuk didalamnya walau dengan pro dan kontra yang tentunya sudah diperkirakan oleh GD, sehingga muncul istilah gitu aja kok repot, tidak perlu dipikirin dll. Jadi meminta GD istigfar adalah hal yg lucu karena semua org harus isftgfarkan? ( tidak ada org yg suci) Komentar oleh amos — June 5, 2008 @ 10:51 am salam bagi seluruh makhluk.. -Sang penyampai kabar- 1.Dan ternyata dia tertipu..bahwa media bukan tuhan yg wajib di imani,bahwa sang penyampai tetaplah penyampai saja dan tuhan tetaplah mahasumber dari segala pesan,firman,sabda itu sendiri. 2.ini hari kian banyak dalih dalih yg membenarkan kesalahan bahkan dipaksa untuk dipercayai..dengan alasan menjaga kehormatan negara,agama bahkan sudah dimulai di keluarga kecil!khusus soal agama rasa rasanya lucu saja di ujung jaman seperti ini versi makna dari sebuah kitab suci masih berganti ganti dan di cari cari..lalu gimana nasibnya orang orang yang blum sempat menikmati revisi makna kitab yg sudah ada sejak lama itu?apa sesungguhnya makna kehadiran sebuah kitab?apa pantas kemurnian sebuah kitab yg memuat pesan pesan tuhan di nodai oleh tangan tangan manusia,sekalipun seorang paman ,sepupu, atau handai tolannya tuhan sekalipun..3.nasionalis,humanis dan agamis..sejauh apa agama bisa diterapkan dalam sistem kebangsaan?yang ada hanya omong kosong!retorika para pemburu kekuasaan selalu fasih menjanjikan isu ga penting ini.islam tidak pernah mengenal sistem seperti ini,dan islam tidak pantas hanya menjadi bagian dari sistem..sebab islam adalah sistem itu sendiri!islam hanya mengenal kekhalifahan yang satu di muka bumi.maka ,saya pernah menanggapi radix nya aksi seorang teman di FPI dengan menertawainya..saya cuma katakan masih percuma menerapkan prinsip islam dengan tindakan represif di muka bumi nusantara ini selama kita masih rela menjadi bagian dari sempitnya nasionalisme.sungguh ini bukan usaha mematahkan semangat para aktivis aktivis islam disana.namun sudah seharusnya mereka menyadari arti kualitas ketimbang kuantitas!mulai mengarahkan jalur perjuangan kearah yang lebih berkelas.coba tanyakan pada umat,siapa yang merasa RUGI ketika Timor leste keluar dan menjadi negri katholik kedua di asia tenggara?yang pasti hanya soekarno di dalam makamnya.. kita masih mau meneruskan jiwa soekarno yang bangga dengan semboyan ”dari sabang sampai meraukenya”.ambisi pribadi yang kemudian dicekoki”penasehat-penasehat”yang telah mencegah negri ini menjadi nusantara darussalam.(buka lagi sejarah siapa yg gencar men-delete “..serta kewajiban melaksanakan syariat islam bagi pemeluknya” dalam sila pertama pancasila?betapa soekarno tak rela bangsa ini terpecah belah,tapi beliau lebih ikhlas bangsa ini kemudian berlumuran darah akibat konflik yang nyata.ya..konflik yang sangat nyata dari semua ini adalah konflik antara pro islam dan anti islam..jangan pernah percaya pada alasan lain yg menyebabkan konflik di manapun di bumi ini,karna sesungguhnya semua itu berpangkal dari masalah agama secara semu atau nyata nyata!dan memang begitu seharusnya..sebab inilah dunia..lalu apa soekarno bukan islam?ya..soekarno itu islam,kemal attaturk islam,bahkan sumanto juga islam.tapi bukan itu ciri yang di jadikan indikasi.ketiganya adalah manusia yang menempatkan agama pada level/urutan yang bukan pada puncak kehidupannya,maka agama tak pantas di jadikan kambing hitam dalam hal ini! 4.-JIL-apa ini?bisa apa mereka dalam mempengaruhi umat secara personal.isu basi!ada satu rumus pencegahan/perlawanan bagi hal hal yang bermaksud hina seperti ini.jangan biarkan terjadi kontak dalam perbandingan 1:2 atau 2:1(theory of eL kanaga) artinya.. Gus dur akan di dengar oleh kumpulan orang orang,juga sebaliknya,kumpulan gusdur akan di dengar oleh seseorang..tapi rahasia orang orang seperti gus dur dan pemanfaat figur lainnya adalah,bahwa mereka tidak dengar jika behadapan orang per orang. Gusdur..so what?bahkan anak kecil pun kelak akan mampu bilang;gw denger omongan lu bukan karna lu bapak gw,tapi karna isi omongan lu bener.. oke bos,sekian curhatnye.. Komentar oleh Menorah — June 6, 2008 @ 4:57 am memang mr. DUR harus di bunuh biar mampus Komentar oleh asap — June 6, 2008 @ 4:40 pm ha ha..ha.. banyak orang sudah gila tapi janganlah ikut-ikutan gila gusdur bisa dong bilang gitu dia kan tidak bisa melihat hanya bisa berkhayal, lha untuk memuaskan khayalanya itu maka dia ngomong sak penake…, selamat gus semoga panjang umur nikmati dulu neraka dunia sebelum kamu menikmati panasnya api neraka amin. Komentar oleh ajk — June 7, 2008 @ 1:29 pm gus dur dulu panutan skrg penghianat la wong jelass 2 ahmadiya tidak sesuai dngan ajaran islam kok gus dur masih membela.gus insaf jangan sok cari sensasi… Komentar oleh harianto — June 10, 2008 @ 11:41 am gus gus………..kamu itu udah lupa ingatan,skrg ibadah aja yang betul jangan bikin negara ini pusing gara2 omongangmu….!!!!!!!!!! Komentar oleh bobo — June 10, 2008 @ 11:59 am gus jangan sok tahu karena kita memang tdk boleh sok tahu dan hanya akan menimbulkan fitnah dan keributan ahmadiyah itu penjajah islam kok dibela gus,gus kamu ulama penghianat…!!! Komentar oleh islamin — June 10, 2008 @ 12:12 pm gusdur adalah musuh allah=musuh islam gusdur yahudi Komentar oleh benar — June 10, 2008 @ 1:59 pm Selamat! Anda sudah berhasil menebarkan fitnah bin provokasi dan kebencian diantara sesama muslim. Memang inilah sifat manusia, cenderung merasa paling benar sendiri dan tidak mau menerima masukan. Hati2 dalam menilai seseorang! Koreksi diri anda, kita semua tidak ada apa2nya dihadapan Allah. Komentar oleh fariz — June 10, 2008 @ 10:33 pm MUSUH ORANG ISLAM ITU BUKANLAH ORANG KAFIR AJA,MELAINKAN MUSUH ORANG ISLAM ITU GUSDUR.ORANG KAYAK GUSDUR ITU PANDAI TAPI KEPANDAIANNYA ITU SUDAH MEMAKAN OTAKNYA DAN MENJADIKAN DIRINYA MUSUH SEBENARNYA BAGI UMAT ISLAM.LAKNATULLOH!! Komentar oleh eno — June 11, 2008 @ 12:03 pm mungkin gusdur harus di cuci otak nya biar jernihhhhhh kali ya Komentar oleh bangsat — June 12, 2008 @ 10:38 am taii..gusdur emang dia kaya malaikat aja emang dasar tai..tu buta reot, Komentar oleh GD — June 12, 2008 @ 9:24 pm Gus Dur Kyai Sinting, yang suka ngomong dan fitnah orang seenaknya,seperti orang yg ga pernah ngerti agama..! ngomong kok seenak perutnya aja! dasar Kyai sableng!dan cuma orang yang kurang waras yang masih ngebelain Gus Dur jgn krn dia cucu pendiri NU jd ga pernah dianggap salah. Komentar oleh islam pemula — June 13, 2008 @ 7:37 pm Baca ini aja deh… http://perspektif.net/article/article.php?article_id=888 Komentar oleh sofian — June 19, 2008 @ 2:00 am gusdur jangan asal bicara..hatii2 anda seorang ulama..ingatkah anda tentang siapa orang yg pertama masuk neraka.. ulama yang salah dalam pengertiannya tentang agama..jangan bicara sembarangan ingat kita akan ditanyakan tentang pertanggungjawaban apa yang telah kita bicarakan dan kt lakukan. buat pengikut2 siapa saja ..golongan apa saja ..jangan mau ikut aja..dengarkan..telaah..jika itu baik.. ok..jika salah jgn …janganlah diikuti…jgn mau masuk lubang…seandainya ada jalan yg baik…terima kasih Komentar oleh ashadi — June 20, 2008 @ 9:56 pm Apa pantas orang seperti GD di sebuat Ulama?…Tidak sama sekali. Inilah akibatnya orang yang terlalu membanggakan logika untuk menilai segala sesuatu. GD itu menganut ajaran SPILIS. jadi kita harus hati2 dengan segala omongan nya. kita tidak bisa menganggap remeh orang ini. Semoga Allah memberi perlindungan dari orang2 yang sejenis dengan makhluk ini (GD) Komentar oleh ilham — June 23, 2008 @ 12:40 am ALLAHU AKBAR………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! DEMI ALLAH GUS DUR WAJIB DI BUNUH & HALAL DARAHNYA…………!!!!!!!!!!!!! KYAI EDAN…………….!!!!!!!!!!!!!!! Yang Melindungi Gus Dur Semoga MASUK NERAKA JAHANAM…….!!!!!!!!!!!!!!!!!KARENA KALIAN TIDAK BEDA DARI SETAN………………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1 ALLAHU AKBAR……!!!!!!!! ALLAHU AKBAR……!!!!!!!! ALLAHU AKBAR……!!!!!!!! HDUP AL-HABIB RIZIEQ & FPI……!!!!!!!!!!!!!!! Komentar oleh Baz & Had — June 25, 2008 @ 3:36 pm wah wah wah semua orang mencaci dan merasa sok pinter ya? emang kalian semua sudah yakin akan masuk surga or neraka? siapa yang kafir? siapa yang pantas di bunuh? siapa yang pengkhianat? siapa yang yahudi?. sebaiknya di pikir dulu sebelim ngomong, harus ditelaah antara konteks dan teksnya. jangan hanya bilang ini salah ini benar. kalau orang merasa dirinya paling benar ya akhirnya kayak kelompok FPI itu, bisanya main hantam aja. kayak anak kecil dan hanya melihat apapun dari satu sisi saja. hanya dari kacamata islam aja, itupun islamnya juga hanya dari sisi yang sebagian aja. semoga kita bisa lebih bijak lagi…….. Komentar oleh M. Rofik — June 26, 2008 @ 1:12 am Asw. Saya seorang muslim yang minim agama.Tapi saya masih melek dan perduli dengan keIslaman saya.Saya juga bukan seorang ulama seperti kebanyakkan disini. Saya adalah seorang IT Planning atau bisa juga programmer.Saya tertarik ikut berkomentar, Just Speaking for my mind.Dan saya tidak terpengaruh oleh siapapun mengenai GD.Sebelumnya saya mohon maaf jika saya tidak mengetahui GD secara Mendalam.Dan Saya juga tidak mengtahui AA’ Gym secara mendalam. Hanya saya tahu keduanya adalah Ulama.1.Tapi yang saya ikuti selama ini, Kenapa GD yang katanya Pintar, wawasan Cerdas, Ahlinya Agama dll, malah tidak membawa kesejukkan dalam berdakwah??? Sangat berbeda dengan Ulama yg lain yg saya maksud. 2. Kenapa kok katanya yg bisa menelaah maksud gusdur, hanya orang2 pintar atau perlu pemikiran yg dalam. Bagi saya, ini TIDAK PERLU!!! karena rakyat gak perlu bertele-tele dalam hal mencernakan apa yang disampaikan. Kenapa harus beda dgn ulama lain yang begitu disampaikan langsung bisa diserap maksudnya. Terus terang saya merasa sesat dengan pernyataan gusdur. 3. Kontroversi2 lain yang membuat saya tidak simpatik dengan gusdur: Saya menyaksikan video pembaptisan dirinya digereja; Menuduh seseorang dng menyebutkan nama si anu, si poland; mengatakan partai2 selain PKB yang NU disebut Taik AyaM, Pengikut2nya yang anarkis dan gak simpatik, yang katanya dulu mau berjihad klo gusdur diturunkan dr kursi presiden (Emang Jihad boleh karena Manusia??? Bukankah Orintasi nya kepada ALLAH SWT); kemudian bersahabat dengan orang2 Yahudi dan sempat ingin membuka jalur kerjasama dngan Israel; Kemudian PKB yang selalu terpecahbelah dibawah kepemimpinannya… Masih Bnayak lagi mengenai gusdur yang saya tidak berkenan terhadap titelnya yang Kyai. Bagi saya gusdur bukanlah PANUTTAN yang PANTAS buat anak bangsa, Apalagi dijadikan IMAM.Saya saja Seorang yang bukan Ahli AGAMA, masih bisa berpikir WARAS. Dan mudah2an ALLAH tidak Menyesatkan saya dari Aqidah dan Syariat. Saya Mohon Maaf, kalau ada kesalahan kata. Khusunya bagi pendukung gusdur yang terlalu fanatik. Komentar oleh Marwan — July 5, 2008 @ 6:30 am Gusdur udah dilaknat Allah,liat tuh partainya ketahuan isinya.Udah jelas 300 juta ngobatin gusdur kok masih membantah.Sadarlah gusdur.Anda pelan2 udah dihukum Allah. Komentar oleh batak muslim — July 16, 2008 @ 2:25 pm Menemapatkan sesuatu pada tempatnya, itulah artinya adil. Segala sesuatu harus dilihat sesuai konteksnya. Turunnya ayat-ayat Al Qur-an ada asbabun nuzulnya. Munculnya sebuah hadits ada asbabul wurudnya. Karenanya, tidak adil jika sesorang menilai sesuatu di luar konteks. Buat orang-orang yang merasa tidak paham dengan sikap, pernyataan, atau pun tindakan Gus Dur, saya ingin bertanya, apakah anda sudah pernah membaca tulisan-tulisan/pikiran-pikiran Gus Dur? Kalau belum, nih saya kasih linknya: http://www.gusdur.net Coba, jadikan itu referensi sebelum anda menilai Gus Dur. Rasanya tidak fair kalau di satu sisi kita merasa tidak paham akan sesuatu namun di sisi enggan untuk berusaha memahminya. Komentar oleh Sofian — July 27, 2008 @ 9:21 am Politik Lawan Budaya dalam Islam Oleh: KH. Abdurrahman Wahid* Islam di banyak negri menampilkan wajah politik lebih banyak daripada wajah budayanya. Karena itu, penampilan Islam sebagai wadah kajian senantiasa berurusan dengan negara dan bukannya dengan bangsa. Ini adalah kenyataan sejarah yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Bahkan gerakan budaya (dalam hal ini pendidikan) yang bernama al-Ikhwan al-Muslimun, sebelum Perang Dunia ke-2 di Mesir yang dicetuskan oleh Hassan al-Banna (dihukum gantung karena gerakan itu) ‘dicuri’ orang dan pada ujungnya menjadi gerakan politik, adalah sebuah bukti dari kuatnya kecendrungan tersebut. Dewasa ini gerakan tersebut sudah resmi menjadi gerakan politik, seperti terjadi di Jordania dan Saudi Arabia. Gamal al-Banna, adik terkecil dari Hasan mencoba membuktikan melalui serangkaian tulisan, bahwa organisasi tersebut adalah organisasi budaya. Tetapi sejauh ini, Gamal belum dapat menghilangkan gambaran bahwa perkumpulan tersebut sebagai sesuatu yang politis. Sebenarnya, pandangan mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia justru tidak menghendaki gagasan Islam politik. Kebanyakan mereka melihat Islam sebagai sesuatu yang bersifat budaya/kultural. Wacana ini dibuka oleh Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan tahun 1926. Pada tahun 1936 dalam muktamarnya di Banjarmasin (Borneo Selatan) dengan dihadiri sekitar enam ribu ulama, NU membuat dua keputusan yang sangat penting bagi masa depan Bangsa Indonesia. Para ulama NU dihadapkan pada pertanyaan: “wajibkah kaum muslimin di Hindia Belanda, mempertahankan kawasan tersebut yang dikuasai non-muslim?” Jawaban muktamar itu adalah: “kawasan itu wajib dipertahankan.” Ini diperkuat dengan refrensi dari Bughyah al-Mustarsyidin. Pertanyaan berikut adalah: “untuk melaksanakan syariat Islam, wajibkah didirikan sebuah Negara Islam?” Keputusan muktamar itu menyatakan: “tidak wajib.” Kedua pendapat di atas sangat dipengaruhi kemunculannya oleh dua orang yang masih terikat dalam hubungan persaudaraan, yaitu H.O.S Tjokroaminoto dari kota Surabaya dan KH. M. Hasyim Asy’ari. Mereka masih bersaudara, walaupun yang satu tokoh Syarikat Islam (belakangan berkembang menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia/ PSII), sedangkan yang satunya lagi adalah salah seorang pendiri NU. Bahkan ia kemudian diangkat menjadi Ra’is Akbar NU dengan temannya sesama santri KH. A. Mahfudz Dimyati dari Termas (Pacitan) dan Wakil Ra’is Akbar KH. Faqih Maskumambang dari daerah Dukun (Gresik). Kegigihan KH. M. Hasyim Asy’ari adalah membuat ‘terobosan’ dalam pemikiran kalangan tradisional di antara gerakan Islam yang berkembang di kawasan Hindia-Belanda. H.O.S. Cokroaminoto dan KH. Hasyim Asy’ari masih merupakan keluarga, karena keduanya berasal dari keluarga keturunan Ki Ageng Basariah dari Sewulan ( +10 km selatan Madiun). Di lingkungan inilah lahir beberapa orang pemimpin gerakan Islam di negeri kita, seperti KH. A. Kahar Mudzakir dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KH. A. Wahid Hasjim dari NU di PP Tebu Ireng Jombang, Alm. KH. A. Wahab Chasbullah dan Abdul Munir Mulkan dari kalangan Muhammadiyah dewasa ini, dan lain-lain. Pada intinya, mereka selalu menyuarakan gerakan Islam sebagai gerakan budaya/ kultural. Inilah yang membedakan mayoritas kaum muslimin di Indonesia, dari gerakan Islam di negeri-negeri lain. Tokoh-tokoh besar gerakan Islam di Indonesia masa lampau pun mengikuti pola budaya ini. Oleh sebab itu suara yang dibawakan NU lalu menjadi sesuatu yang sangat longgar penerapannya, karena selama ini banyak kalangan gerakan Islam di banyak negara seluruh dunia berwatak politis. Ditambah lagi mereka memiliki/ menguasai ‘media Islam’, dengan sendirinya pendapat mereka yang bersifat politis yang dianggap mewakili ‘pandangan Islam’ di negeri ini. Dengan demikian wacana gerakan Islam lebih banyak terlihat sebagai wacana politis. Pendapat NU lalu diperlakukan sebagai pandangan kelompok minoritas. Ini terjadi karena misspersepsi/ pandangan yang dangkal sejumlah pengamat bahwa mayoritas gerakan Islam di Indonesia bersifat politis. Penyatuan antara negara dan Islam sebagai agama justru berkembang dari luar gerakan Islam negeri kita. Karena itulah kita tidak usah heran menyaksikan ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, merumuskan syariat Islam dalam kehidupan bernegara, seperti tertuang dalam Piagam Jakarta. Baru setelah seorang beragama Kristen, yaitu A.A. Maramis dari Sulawesi Utara menyuarakan keberatannya, lalu Muh. Hatta keesokan harinya memimpin sidang perwakilan berbagai gerakan Islam (Ki Bagus Hadikusuma dan KH. A. Kahar Mudzakir dari Muhammadiyah, A. Rahman Baswedan dari Partai Arab Indonesia, Abikusno Tjokrosuyoso dari PSII, Ahmad Subarjo, KH. A. Wahid Has’jim dari NU dan H. Agus Salim sebagai tokoh independen) membuang tujuh kata dalam Piagam Jakarta tersebut. Hampir seluruh dunia memandang gerakan Islam bersifat politik sebagai gerakan fundamentalis/radikal. Pandangan itu lalu menganggap pandangan budaya dari NU sebagai ‘moderat’. Penamaan serampangan seperti inilah yang lalu menciptakan kesan salah tentang gerakan Islam di seluruh dunia. Padahal kita juga melihat berbagai gerakan Islam seperti al-Qaidah yang dipimpin oleh Osama Bin Laden dari Afghanistan (bukankah lebih tepat Saudi Arabia?) dengan rasa was-was karena militasinya yang sangat tinggi. Juga lahirnya pendapat berbagai gerakan Islam, seperti Hizbut Tahrir di negeri kita, akan perlunya sistem pemerintahan berupa kekhalifahan, yang jelas-jelas merupakan pandangan politik yang bertentangan dengan UUD kita. Sulit rasanya untuk membenarkan gerakan-gerakan tersebut. Tetapi misteri seperti inilah yang membuat buku yang ada di tangan pembaca ini, menjadi sesuatu yang menarik dan perlu ada. Jika beberapa waktu yang lalu Majalah Tempo bermotto “enak dibaca dan perlu”, bukankah pembahasan tentang perlunya Islam budaya dan Islam politik kita lakukan, juga demikian? Jakarta, 1 Oktober 2007 Komentar oleh Sofian — July 27, 2008 @ 9:32 am Lucu juga ya……..masa gusdur dibelain mati-matian…..kalo islam itu sendiri dilecehkan qo malah pada diem….capeee dwehhh… Komentar oleh AMIR ELFADANY — July 27, 2008 @ 12:35 pm @Sofyan, anda terlalu bertele-tele.Saya pun sudah melihat website gusdur.net Itu merupakan propaganda untuk citra baik gusdur.Okelah saya setuju dengan pemikiran, wawasan, dan tulisannya memang begitu baik dan terkesan pintar. Tapi saya sebagai seorang pekerja keras, sesekali butuh pencerahan ROHANI. Kemudian klo Gusdur dikonteks kan sebagai Ulama, adakah dia membawa kesejukkan dalam berdakwah-bagi saya TAK ADA dakwah darinya yg dapat meningkatkan ketebalan IMAN. Justeru sebaliknya ketika gusdur berdakwah, saya merasa EMOSI karena pembelaa dia thdp non ISLAM sekaligus melecehkan ISLAM. Dulu sebelum GD jadi Preseiden saya sempat simpatik dgn GD.Namun beberapa bulan kepemimpinannya-BEGITU BANYAK KEBODOHAN YANG DILAKUKANNYA. Tentu saja, RAKYAT MERASA KECEWA.Seharusnya Pendukungnya MIKIR, kenapa Gusdur, diturun PAKSA dr RI1???Lagipun rakyatnya gusdur itu sapa??? Paling juga umat NU, itupun sebagian.GUSDUR itu BUTA, seharusnya anda sadar. Dia itu berbicara atas dorongan orang2 disekitarnya dan menjadikan GD sebagai tunggangan mereka.KALAU pun ada yang membela mati2an GUSDUR, saya cuma bisa mengatakan: “MEREKA LEBIH BUTA” Kalo anda Mengidolakan RASULULLAH SAW,adakah Gusdur BERUSAHA bersikap seperti MUHAMMAD SAW. Lebih baik konteks GUSDUR sebagai Ulama dicopot.Dan diberi Gelar Sebagai “TROUBLE MAKER”. Maaf klo dalam tulisan ini saya begitu lantang,Karena Kekecewaan yang semakin bertambah thdp GD. Komentar oleh Marwan — July 29, 2008 @ 6:14 pm GD cangkamu doang Komentar oleh ale — August 4, 2008 @ 9:09 pm Melecehkan? Lha bukannya payudara, nipple, susu itu masuk kategori pornografi? Lha gak salah dong katanya Gus Dur? Hihihihihi. Adalagi yang bilang pelecehan. Bukannya make bandwidth kantor buat nulis komen seperti saya ini adalah tindak korupsi yang lebih mencoreng lagi citra islam? Atau waktu kita ngelanggar lampu merah dijalan. Bukankah itu lebih mencoreng lagi agama islam yang katanya sangat ketat kedisiplinannya? wekekekekekekekekekekek!!! Silahkan saling menghujat dan menyumpahi. Saya nonton aja darisini sambil ngakak. Mungkin Gus Dur juga gitu kali ya? Hehehehe Komentar oleh krebo — August 25, 2008 @ 5:05 pm Seru banget diskusinya, kurang lebih dua tahun mengalir terus! Jadi ingat masa kecil, setiap habis nagji quran, selalu diberi bonus cerita atau kisah-kisah dari pak ustadz kampung yang sederhana, kisahnya paling seru tentang Abu Nawas! Ada yang mirip dengan yang didiskusikan di atas! Komentar oleh jun_pencangkul — August 28, 2008 @ 11:01 am GUS DUR ORANG KEBLINGER DDENGERIN … EMANG SAPE SEH GUS DUR ?.. YAHUDI BERKEDOK ISLAM KAH ? emang tanda2 akhir zaman … ya rasulullah .. kau sebaik baiknya mahluk ciptaan ALLAH, kekasih drpd kekasih … ya rosul . aku mendambakan syafa’aat dr mu ya rosul … Komentar oleh madotz — August 31, 2008 @ 11:47 pm Biarkan GUK DUR (Anjing Dur) Menggonggong… Kita Tunggu Rahasia Illahi.. Apakah Matanya dirubung BElatung ?? atau apa??? Komentar oleh Guk Dur (Anjing Dur) — September 6, 2008 @ 2:46 pm GUSDUR BEBEL GUSDUR BEBEL GUSDUR BEBEL GUSDUR BEBEL GUSDUR BEBEL Komentar oleh ARUL — September 9, 2008 @ 6:07 am Kebaikan dan kejahatan yang bercampur memang harus dipisahkan,ini perpecahan yang seharusnya.Tapi kalau kesatuan yang baik dipecahkan ini perpecahan yang pelakunya adalah biang kerok yang harus dipecahin kepalanya.Pokoknya yang bikin nista agama Islam akhir hidupnya hina. Dihinakan langsung oleh Allah atau melalu tentara-tentaraNya dari kalangan Manusia, Jin, Belatung, bakteri, virus mencret, kolesterol pembangkit stroke atau sel-sel pencernaan yang tidak mau kompromi seperti Ahmad Qodian yang berak mencret kencing di atas kasur sampai mati. Tunggu saja Komentar oleh asyik juga — September 9, 2008 @ 6:51 am Saya pernah mimpi ketemu GD ga pake baju, saya usap perutnya tiba-tiba jadi dajjal. Kurang lebih setahun yang lalu. Ada yang tahu ta’wilnya Komentar oleh ibnu sirin — September 9, 2008 @ 7:00 am Mas Ibnu sirin, Imam ibnu Sirin yang justru ahli ta’bir mimpi. Kalau baca di Tafsirul Ahlam Imam Ibnu sirin, orang yang telanjang (ga pake baju)artinya orang yang konsisten penuh dengan bidangnya, dan kalau kita mimpi memegang perut seseorang artinya kita dapat manfaat dari keberadaan orang tersebut. Kalau Dajjal, Naudzubillah. Sedikit kutipannya silahkan buka langsung di Tafsir mimpi Imam Ibnu sirin sudah diterjemahkan ada di Toko buku Si Buyung Senen. Bahwa ada seseorang yang datang ke Imam Ibnu sirin dan menanyakan ta’wil mimpinya, dalam mimpinya Ia melihat seorang yang bertelanjang di masjid memegang pedang dan kitab suci. Imam Ibnu sirin berkata pada pemimpi, “Orang yang kau lihat dalam mimpi pasti Imam Hasan AL-Basri” orang itu menjawab, “benar!” kata Ibnu Sirin, “benar seperti dugaan saya Imam Hasan alBasri adalah ulama yang konsisten menegakkan alQuran dan meluruskannya.” KAlau jadi Dajjal??Wallahu ,alam bissawab. Komentar oleh asyik juga — September 9, 2008 @ 7:16 am Komentar oleh mahdar hidayatullah — September 12, 2008 @ 9:06 pm Maaf, Saudara Mahdar.. Setahu saya Kitab suci kl yg dimaksud Kitabullah ada 4 (Taurat, Zabur, Injil, Alquran), cuma yg dijamin keasliannya s/d kiamat hanya Alquran. Mohon koreksi kl sy salah. tks Komentar oleh angger — September 17, 2008 @ 11:33 am assalamualaikum saya rasa blog ini (yang katanya menyuruh Gusdur istighfar) tidak punya niat murni untuk mengingatkan Gusdur, justru cendrung untuk mengumbar kesalahan orang lain (dalam hal ini Gusdur). Kalau anda bener pengen mengingatkan Gusdur . . . ya langsung aja tulis surat ke Gusdur atau dengan cara lain yang sekiranya pesan anda akan sampai ke gusdur. Tidak perlu anda gembar-gembor di blog (kecuali anda ingin cari sensasi) Komentar oleh didi — September 21, 2008 @ 7:19 pm MENCACI MAKI AGAMA DALAM KONDISI EMOSI Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum syari’at menurut pandangan anda terhadap orang yang mencaci-maki agama dalam kondisi emosi, apakah dia wajib membayar kafarat? Apa syarat bertaubat dari perbuatan ini? Mengingat saya pernah mendengar dari para ulama yang mengatakan kepada saya, bahwa berdasarkan ucapanmu tersebut, sesungguhnya kamu telah keluar dari Islam. Demikian juga mereka mengatakan bahwa isterimu itu telah menjadi haram bagimu? Jawaban. Vonis hukum terhadap orang yang mencaci-maki agama Islam adalah bahwa dia telah melakukan kekufuran sebab mencaci-maki agama dan memperolok-oloknya merupakan tindakan murtad dari Islam dan kekufuran terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dien-Nya. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisahkan perihal suatu kaum yang memperolok-olok dien Al-Islam, bahwa mereka itu pernah mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Lalu Allah menjelaskan bahwa senda gurau dan bermain-main seperti ini merupakan bentuk olok-olok terhadap Allah, ayat-ayat dan RasulNya dan bahwa mereka telah menjadi kafir karena itu. Allah berfirman. “Artinya : Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?.’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman..”. [At-Taubah : 65-66] Jadi, memperolok-olok Dienullah, mencaci-makinya, mencaci-maki Allah dan RasulNya atau memperolok keduanya merupakan kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari dien ini. Sekalipun demikian, di sana masih ada peluang untuk bertaubat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : Katakanlah, ‘Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” [Az-Zumar:53] Bila seseorang bertaubat dari apapun bentuk riddah (keluar dari Islam) yang dilakukannya dan taubatnya itu adalah Taubat Nashuh (taubat yang sebenar-benarnya) serta telah memenuhi lima persyaratan, maka Allah akan menerima taubatNya. Lima syarat yang dimaksud adalah: Pertama. Taubatnya tersebut dilakukannya dengan ikhlas semata karena Allah. Jadi, faktor yang mendorongnya untuk bertaubat, bukanlah karena riya’, nama baik (prestise), takut kepada makhluk ataupun mengharap suatu urusan duniawi yang ingin diraihnya. Bila dia telah berbuat ikhlas dalam taubatnya kepada Allah dan faktor yang mendorongnya adalah ketaqwaan kepada-Nya, takut akan siksaanNya serta mengharap pahalaNya, maka berarti dia telah berbuat ikhlas dalam hal tersebut. Kedua. Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan. Yakni, seseorang mendapati dirinya sangat menyesal dan bersedih atas perbuatan yang telah lalu tersebut serta memandangnya sebagai perkara besar yang wajib baginya untuk melepaskan diri darinya. Ketiga. Berhenti total dari dosa tersebut dan keinginan untuk terus melakukannya. Bila dosanya tersebut berupa tindakannya meninggalkan hal yang wajib, maka setelah taubat dia harus melakukannya dan berusaha semaksimal mungkin untuk membayarnya. Dan jika dosanya tersebut berupa tindakannya melakukan sesuatu yang diharamkan, maka dia harus cepat berhenti total dan menjauhinya. Termasuk juga, bila dosa yang dilakukan terkait dengan makhluk, maka dia harus memberikan hak-hak mereka tersebut atau meminta dihalalkan darinya. Keempat. Bertekad untuk tidak lagi mengulanginya di masa yang akan datang. Yakni, di dalam hatinya harus tertanam tekad yang bulat untuk tidak lagi mengulangi perbuatan maksiat yang dia telah bertaubat darinya. Kelima. Taubat tersebut hendaklah terjadi pada waktu yang diperkenankan. Jika terjadi setelah lewat waktu yang diperkenankan tersebut, maka ia tidak diterima. Lewatnya waktu yang diperkenankan tersebut dapat bersifat umum dan dapat pula bersifat khusus. Waktu yang bersifat umum adalah saat matahari terbit dari arah terbenamnya. Maka, bertaubat setelah matahari terbit dari arah terbenamnya tidak dapat diterima. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : (Atau) kedatangan sebagian tanda-tanda Rabbmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. ” [Al-An’am:158] Sedangkan waktu yang bersifat khusus adalah saat ajal menjelang. Maka, bila ajal telah menjelang, maka tidak ada gunanya lagi bertaubat. Hal ini berdasarkan firman Allah. “Artinya : Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’, Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. “[An-Nisa’:18] Saya tegaskan kembali, sesungguhnya bila seseorang bertaubat dari dosa apa saja sekalipun berupa caci-maki terhadap agama, maka taubatnya diterima bilamana memenuhi persyaratan yang telah kami singgung tadi. Akan tetapi perlu dia ketahui bahwa suatu ucapan bisa jadi dinilai sebagai kekufuran dan riddah, akan tetapi orang yang mengucapkannya bisa jadi tidak divonis kafir karenanya dengan adanya salah satu penghalang yang menghalangi dari memberikan vonis kafir tersebut terhadapnya. Dan terhadap orang yang menyebutkan bahwa dirinya telah mencaci-maki agamanya tersebut dalam kondisi emosi, kami katakan, “Jika emosi anda demikian meledak sehingga anda tidak sadar lagi apa yang telah diucapkan, anda tidak sadar lagi di mana diri anda saat itu; di langit atau masih di bumi dan anda telah mengucapkan suatu ucapan yang tidak anda ingat dan tidak anda ketahui, maka ucapan seperti ini tidak dapat dijatuhkan hukum atasnya. Dengan begitu, tidak dapat dijatuhkan vonis riddah terhadap diri anda karena apa yang anda ucapkan adalah ucapan yang terjadi di bawah sadar (tidak diinginkan dan dimaksudkan demikian). Dan, setiap ucapan yang terjadi di bawah sadar seperti itu, maka Allah tidak akan menghukum anda atasnya. Dalam hal ini, Dia berfirman mengenai sumpah-sumpah tersebut. “Artinya : Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang disengaja. ” [al-Ma’idah:89] Bila orang yang mengucapkan ucapan kekufuran ini dalam kondisi emosionil yang teramat sangat (meledak-ledak) sehingga dia tidak sadar apa yang diucapkan dan tidak tahu apa yang telah keluar dari mulutnya, maka tidak dapat dijatuhkan hukum atas ucapannya tersebut. Dengan begitu, dia juga tidak dapat dijatuhi vonis riddah. Manakala tidak dapat dijatuhkan vonis riddah terhadapnya, maka pernikahannya dengan isterinya tidak (secara otomatis) menjadi batal (fasakh). Artinya, dia tetap menjadi isterinya yang sah akan tetapi semestinya bila seseorang merasakan dirinya tersulut emosi, maka cepat-cepatlah memadamkan emosinya ini. Yaitu dengan cara yang telah diwasiatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ada seorang laki-laki bertanya kepadanya sembari berkata, “Wahai Rasulullah, berilah wasiat (nasehat) kepadaku!.” Lalu beliau menjawab, “Janganlah kamu marah. ” Lantas orang itu berkali-kali mengulangi lagi pertanyaan itu dan beliaupun tetap menjawab, ‘’Janganlah kamu emosi. ” Hendaknya dia dapat menstabilkan kondisi dirinya dan meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Bila dia ketika itu sedang berdiri, maka hendaklah duduk; bila dia sedang duduk, maka hendaklah berbaring; dan bila emosinya benar-benar meledak, maka hendaklah dia berwudhu. Melakukan hal-hal seperti ini dapat menghilangkan emosi dari dirinya. Alangkah banyak orang yang menyesal dengan suatu penyesalan yang besar karena telah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ada di dalam emosinya tersebut akan tetapi (sangat disayangkan) hal itu setelah waktunya sudah terlewati (alias nasi telah menjadi bubur). [Nur ‘Ala ad-Darb, dari fatwa Ibn Utsaimin] [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Muthofa Aini dkk, Penerbit Darul Haq] Komentar oleh taufik — September 23, 2008 @ 12:52 pm umm jujur saya cape bacanya ga abis2 seru dan cukup menyebealkan bikin mood turun naik, lama2 eneq n pengen komen. gmana semua saudaraku berpuasakah insyaAllah yah. wah klo menurut aku. Bismilahirahmanirrohim. hanya dengan kembali kepadaNya kita akan berpikir lebih jernih. jalani rutinitas dan tetap berusaha sebagai manusia untuk Allah, keluarga dan agama serta negara. so. im not a perfect one. but for sure, ketika orang sudah berada diatas dan dia bisa nomong apa sesuka dia maka semua pengikutnya akan mengikutinya. mo pemikiran dia bagus mo ini itunya bagus. terserahlah.. tapi inget kita harus tetap beware akan semua keburukan dari omongan itu. mulut itu tajam seperti halnya saya jika menjelekan GD akan membuat pengikutnya kesal padahal saya sendiri berkomentar menurut nalar dan pengetahuan saya. mungkin pengetahuan saya masi sedikit. dan anda lebih banyak. but kalo emang ada lontaran kalimat kata atau statemen yg memicu emosional orang lain mohon lebih di jelaskan. dan segera menyadari semua kesalahan karena kembali ke pengetahuan karena setiap manusia itu memiliki pengetahuan yg berbeda. perlu suatu medium agar pendapat seorang pemimpin dapat di garis ke maksut yg sesuai. :) insyaAllah semua akan baik2 saja. Komentar oleh abdul muis — September 25, 2008 @ 4:04 pm Yang penting bagi kita ummat muslim sedunia, jangan dengarkan ocehan-ocehan yang tidak berdasar, anggap saja itu seorang imam yang kentut tak shalat berjamaah, jadi tidak perlu diikuti lagi. Sekali lagi jangan dengarkan! Memang musuh yang paling berat dan paling susah untuk diperangi adalah musuh dalam selimut. (Munafikin) Komentar oleh Yasup — September 26, 2008 @ 10:14 am sibuta dari goa haNtU kayaknya dilaknat sampe kaga bisa liat,pernah selingkuh , kawan akrabnya s.peres (yahudi)and pake celana pendek (ngeliatin aurat/paha), demen pelesiran pake uang rakyat saat jadi presenter eeh presiden. Komentar oleh edi — October 5, 2008 @ 1:50 am Saya baru liat-liat saja di media masa belum denger si bos teler ngucap yang engak-engak tapi dari nngebaca saja udah enek apalagi kalo ngedenger langsung Hallo GD (gus dur, gede dubur, ambien kaliee)kalo si buta tersebut banyak yang ngedukung (antek-anteknya) berarti mereka lebih buta daripada yang buta yach. tul gak??? jawab dooong Guss Komentar oleh maheer — October 6, 2008 @ 1:24 pm Di zaman GD jadi presiden ada orang yahudi yang dijadikan penasehat ekonomi indonesia, (george soroz) aku bingung nich apa GD nggak lihat ayat yang bunyinya “janganlah orang – orang kafir engkau jadikan pemimpin-pemimpinmu” gimana nich???……. Komentar oleh ABU ALGHIFARI — October 20, 2008 @ 9:29 am sebenarnya kasihan juga tuh si GD, dimanfaatkan orang lain kok mau-mau aja. katanye sih sakti, jin-nya ratusan ribu yang ngawal, tetapi giliran di-lengserkan dari keraton kok kagak ade yang mbantuin ya…hehehe semoga aje lah kembali ke jalan yang benar. ingat usia Dur. katenya sih mbahe’nya GD sudah mem-puasai keturunananya selama 1 thn, jadi semuannya akan jadi ‘orang’. wong yang bapaknya nabi aja belum tentu anaknya nabi, malah kafir, ingat ceritanya Nabi Nuh ‘kan? dan sebalinya yang anaknya nabi belum tentunya orang tuanya masuk surga. moga aja sadar deh. Komentar oleh pecinta Indonesia — October 27, 2008 @ 1:31 pm gus dur kamu cpt mati kafir Komentar oleh rudi — November 6, 2008 @ 8:51 pm assalamu’alaikum. kalo emang kalian orang islam seharusnya bisa berpikir panjang,apa itu arti porno dalam Al Qur’an.kalo pingin tau isi Al Qur’an telaah lebih dalam lagi agar tidak tersesat.jangan menjastifikasikan seseorang dengan enak.bercerminlah, apa kita sudah mengerti semua kandungan Al Qur’an?wassalam. Komentar oleh maman — November 19, 2008 @ 5:38 am Eiit tunggu dulu jangan beratem, siapa bilang Al Qur’an kitab suci paling ” Porno ” ? coba simak dan barangkali Gus Dur perlu dialog dengan ahli Pornografi / Porno aksi atau Mesumgrafi ? lihat kitab lain yang di Injil Yehezkiel 23 : 20-22 mengatakan : ” Maka asyiklah ia terlebih daripada segala gundik mereka itu, yang dagingnya seperti daging keledai dan cemarnya seperti cemar kuda. Demikianlah dilakukannya semula segala perbuatan keji yang telah dibuatnya pada masa mudanya, tatkala orang Mesir itu menjamah mata susunya pada masa mudanya “. Cuman yang saya heran Gus Dur itu kan muslim kenapa begitu ? Komentar oleh masnunk — December 13, 2008 @ 9:23 am ealah… ternyata di sini forum rasan-rasan ta? wah asyik banget tuh… sebab hobi yang paling gratis tuh ya ngrasani, ga peduli pa kita dah lebih baik dari mereka pa justru makin bobrok, yang penting “NGRASANI TERUSSSSS” sampek mati! Hidup GHIBAH! Komentar oleh solkan — December 17, 2008 @ 9:29 am Sing Edan ya bener2 edan, jangan diikuti atau malah dikultuskan, sing waras ya mawas diri jangan sampe ikut kejeblos penyakit hati. yang dimaksud gus dur itu qurane gus dur..bukan qur’an punya orang Islam. Komentar oleh dolim — December 23, 2008 @ 4:29 pm wah… wah… ternyata setelah baca blog ini saya baru yakin bahwa di dunia ini masih banyak orang yang bodoh..(ya… kan gus)semakin tiggi ilmu seseorang maka akan ditinggikanlah derjatnya oleh Allah…kenyatannya derajat gusdur semakin tinggi tuh… Komentar oleh zain — December 25, 2008 @ 1:00 pm WOOOOOOOOOOOIIIIIIIIIIIIIIIIIII….PEACE…..PEACE……..ANDA ANDA SEMUA NYADAR GA SEH, MASA’ DARI APRIL 2006 SD DESEMBER 2008 (2 TAON) BISANYA CUMAN NGOMONGIN GUS DUR MULU ??? INI DAH 2009. DEMI MEMBESARKAN ISLAM SAYA HARAP PEMILIK BLOG INI MENUTUP SAJA ACCOUNT NYA. NGA MALU NEH SAMA SLANKER’S. KAMI MEMANG HIDUP SLENGEAN TAPI TOH TETAP BISA SALING MENGHARGAI…..OM, TANTE….MALU NGA SEH??? PLEASE DECH….PEACE ! Komentar oleh SLANKER’S — January 6, 2009 @ 3:31 am Ada orang yang benar-benar tau dengan segudang ilmunya trus ngomong ini-itu, ada juga orang yang gak tau dan gak punya ilmu tapi karna sok tau makanya ngomong ini dan itu biar dianggap tahu.Kalo orang mau nyalahin orang lain, mau mencela orang lain, menghujat orang lain tanpa melihat alasannya kenapa itu sih semua orang jg bisa.Kalau mau mengoreksi kesalahan orang mbok ya dengan bahasa yang santun, dengan dasar ilmu yang lebih memadai bahkan seharusnya lbh tinggi daripada yang dikoreksi. Lha wong anak baru kemaren, baru belajar alguran baru satu ayat aja udah koar-koar, ngomong sana ngomong sini. itupun belajarnya “AYAT BOLA” alias cuma tau luarnya aja tapi isinya kosong. dan biasanya yang sok ngritik gusdur itu ya orang-orang yang gak suka dgn beliau. kalau omongan Gusdur yang menurut saya udah tinggi ilmunya dan paham lebih memahami Alquran, apalagi orang-orang yg komentar negatif ttg gusdur, yang saya yakin benar hanya belum ada apa-apanya. orng yg lbh bnyk belajar agama dengan buku dari pada dengan guru. saya punya analogi gini, jika ada orang memakai baju tapi auratnya ada yang terbuka sedikit, terus dia berkata “wah saya porno nih karena aurat saya terbuka” atau ngomong gini “wah saya paling porno nich”. terus saat orang itu ngomong gitu ada orang lain yang nyata-nyata membuka memamerkan auratnya lebih banyak terus mendengar kata-kata itu. ada dua kemungkinan orang lain itu merasa cuek jika dia gak sadar diri, tapi akan merasa malu jika dia sadar. alasanya jika orang yang auratnya kebuka sedikit aja bs bilang dirinya porno sekali, berarti dia yang memarkan auratnya lebih banayak harus ngomong apa dan disebut apa?? menurut saya omongan Gusdur itu lebih saya nilai sebagai omomgna pemuka agama yang memahami agamanya, yang bersikap rendah diri dengan agamanya. selain itu mendidik umat islam, jika dalam Alquran yang hanya terdapat kata “menyusui” saja udah dianggap sebagai hal paling porno, apalagi kelakuan kita yang kadang ngomongnya gak karu-karyan, cara penampilan/pakaian kita yang kadang gak senonoh. terus mau dibilang apa diri kita yang kelakuan pornonya udah segudang?? Lagian apa yang berkomentar2 miring disini bener-bener tahu/nonton diaolog Gusdur saat itu secarta langsung?? atao hanya dari tulisan2 yang dengan segala gaya bahsanya bisa sekenarionya kadang bisa diedit, kalimat2 omongna orang bisa dipenggal-penggal??? Peace………. Ada “ilmu muda” yang baru boleh dipelajari oleh kita yang masih muda dan ada “ilmu tua” yang mungkin blm blh kita pelajari sebagai anak muda. karena “ilmu tua” harus dipelajari dengan kearifan dan kebijaksanaan yang lebih besar dimana anak muda yang blm cukup arif dan bijak. sehingga ketika kita mempelajari ilmu itu justru membawa perbedaan pendapat.jika ilmu kita “ilmu muda” maka kalau ada niat mengajarkannya maka ajarkanlah pada yang “ilmunya lebih muda” lagi. Komentar oleh masmus — January 9, 2009 @ 8:19 am terserah gusdur mau bilang apa toh dia gak bisa melihat cuma bisa bicara doang hanya allah yang tahu dia benar atau salah dia hanya bisa mendengar tapi tidak bisa melihat apa yang ada di dunia ini Komentar oleh hamba allah — January 10, 2009 @ 6:21 pm lagi2 gusdur pertanyaan: pernyataan mana yang benar dan anda bela : ALLOH swt Raja Manusia dan Raja semesta alam berfirman dalam Al-Baqarah ayat 26 “Sesungguhnya Alloh tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah daripada itu. Adapun orang-orang yang beriman ,maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka , tetapi mereka yang kafir mengatakan “Apakah maksud Alloh menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Alloh dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang di beri-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Alloh melainkan orang-orang fasik” Gus Dur yang kata tetangga saya dia wali : Loh, jelas kelihatan sekali. Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha… Komentar oleh erick — January 10, 2009 @ 10:19 pm Komentar oleh bobon — January 13, 2009 @ 3:32 am buat ummat islam, hati-hati,stlah saya check dari link-link komentator yang apposite trhdap Romo, mayoritas dari non-islam..Hati-hati dan waspada,sudah banyak referensi masuk, jika misioneris lebih tau islam drpda ummat islam ‘awwam. mari kita budayakan ber-etika dan berhusnuddhon. Komentar oleh bobon — January 13, 2009 @ 3:40 am Menanggapi banyaknya nada-nada sumbang tentang keberadaan Everest Media. Ada pengalaman yang justru tidak masuk akal. Saya Ruli, tinggal di Serpong (BSD), 38 tahun. Karyawan salah satu Bank Swasta di Jakarta Barat. MOHON MAAF kalau tulisan ini bukan bermaksud membuat banyak pihak kecewa. Tepatnya di awal Februari 2008 lalu saya pernah menemukan masalah. Sore hari, laptop Toshiba saya tiba-tiba hang. Seperti biasanya saya segera matikan listriknya, lantas saya restart ulang. Biasanya mau lagi berjalan normal. Tetapi sekarang ini sepertinya lain, hanya tampilan ‘blue screen’ dengan tulisan bahasa aneh, agak sedikit bunyi aneh klak-kletek, dan saya pun tidak tahu artinya. Lantas saya copot hardisknya untuk di-copy ke PC, dengan memakai external case SATA ternyata sama saja & ada bunyi kletak-kletek. Akhirnya saya membawa ke beberapa tempat recovery data di Harco Elektronik dan Mangga 2 Mall. Seperti biasa, saya menunggu beberapa hari. Tetapi saya tidak menegerti, ternyata mereka gagal menyelamatkan data saya dengan alasan bahwa kerusakannya adalah pada piringan/disk hardisk saya sudah parah (tergores). Saya pun mengambil harddisk SATA Seagate Momentus saya, dan mencoba merecover lagi ke beberapa tempat lain. Ternyata sama. Mereka gagal. Sama saja, terakhir saya coba ke Mall Ambasador, Sudirman Setiabudi, daerah Jakarta Barat juga, dan banyak tempat lain. Ternyata hasilnya sama saja. Padahal mereka juga mengaku-ngaku adalah master, ahlinya atau yang terbaik. Entahlah saya hampir putus asa. Saya sudah bingung harus kemana lagi saya antar harddisk saya agar dapat diselamatkan data – data penting di dalamnya. Saya juga hampir putus asa. Akhirnya saya coba terus mencari di Internet, di salah satu situs iklan gratis tampa daftar, saya menemukan Everesta Media, situsnya http://www.everezta.com. Awalnya saya sempat ragu – ragu dengan sosok Everesta Media. Karena sebelumnya, saya sempat membaca beberapa tulisan-tulisan bernada sumbang tentang Everesta di situs http://www.mediakomsumen.com, dan juga di situs Logic hardware yang bernada amat sinis terhadap Everesta Media. Tetapi, saya tidak mudah percaya langsung dengan tulisan mereka. Karena belum ada buktinya bagi saya! Ya. Coba-coba dululah siapa tahu lain apa yang banyak pihak propagandakan. Mungkin juga, sosok Everesta tidaklah seperti tulisan yang pernah saya baca. Awalnya. Saya coba -coba menelpon mereka.Ternyata mereka meminta saya mengantar harddisk saya ke tempat mereka di daerah Lenteng Agung arah Depok. Akan tetapi kalau diambil oleh mereka , akan dikenakan biaya, yaitu untuk biaya pengecekan dan transportasi, yaitu sebesar tujuh puluh lima ribu rupiah. Dari pada repot – repot pikir saya, karena juga saya juga agak sibuk waktu itu. Saya meminta mereka segera datang mengambil harddisk tersebut untuk direcover ke kantor saya. Saya pun harus bersabar lagi menunggu jawaban dari pihak mereka. Keesokan harinya saya ditelpon pihak mereka / Everesta Media, walau sempat tidak percaya. Mereka memngabarkan kepada saya, bahwa harddisk SATA saya dapat diselamatkan mereka, karena belum sempat dibongkar dalamnya. Katanya keberhasilan recovery data minimal 80% bukan 100%, juga waktunya agak lama minimal satu minggu, alasannya bahwa kerusakan harddisk saya tergolong sangat parah secara fisik (katanya ada sudah bunyi, head bacanya rusak, tidak terdetek BIOS lagi dan sudah banyak “bad sector area”). Mereka mengajukan biaya recovery data sebesar 5 juta rupiah. Jumlah yang sangat mengejutkan saya. Alangkah kagetnya saya! mahal sekali! Mahal sekali mas!!!! Padahal tidak seperti di tempat – tempat lain yang pernah saya tanya, jauh lebih murah! Karena mahalnya saya bingung sekali, sempat saya akan membatalkan saja. Saya curiga juga takut ditipu oleh mereka. Apalagi saya ingat artikel yang seperti yang pernah saya baca di http://www.mediakonsumen.com dan punya bung Logic hardware ini.karena terus penasaran, saya coba lagi tawar harganya agar dapat lebih murah. “Jangan mahal-mahal bah…..!” Entahlah, mereka tetap keras kepala… Tetap saja, mereka (pihak Everesta Media (http://www.everezta.com) tidak mau agar biayanya lebih murah. Karena terpaksa juga pasrah, mau tidak maulah! harus kemana lagi saya coba merecover data saya dengan harga jauh lebih murah, Sementara mereka belum tentu menjamin sanggup! Sebagaian besar mereka telah menyerah tak sanggup/ gagal. Akhirnya dengan terpaksa, saya menyetujui juga dengan biaya 5 juta rupiah secara tunai. Asalkan data-data saya benar – benar telah berhasil diselamatkan! Itu janji saya pada pihak Everesta Media. Bingung dan mencurigakan juga cara kerja Everesta Media seperti apa. Terpaksa harus menunggu lebih seminggu, akhirnya setelah 8 hari, mereka (pihak Everesta Media) tiba-tiba menelpon lagi kepada saya, memberitahukan bahwa sudah selesai semua data saya diselamatkan, diminta saya segera membuka e-mail saya, karena laporan datanya sudah dikirim. Segera saya cek e-mail saya, ternyata benar data saya sudah ada semua. Kesesokan harinya, mereka akan antar data-datanya ke kantor saya siang hari. Diminta juga, saya segera menyiapkan pembayarannya secara tunai 5 juta rupiah. Saya tidak mau rugi dong, saya harus cek lagi lebih detail apakah benar – benar data saya sudah ada. Saya mencoba mengingat satu – persatu data – data penting saya, yang sebagian besar saya sudah tak ingat lagi satu persatu. Ternyata benar! Aneh sangat tidak dapat dipercaya! mereka telah berhasil menyelamatkan data-data saya! Percaya tidak percaya! walaupun banyak nada sumbang tentang Everesta ! Tak terkecuali photo-photo anak saya waktu lahir dulu. Hebat juga Everesta Media, walaupun biaya recovery datanya cukup mahal, tidak percaya dan tak mungkin! tidak seperti di tempat-tempat lain yang pernah saya tanya. Walaupun, saya agak curiga takut ditipu. Sebenarnya jujur dalam hati kecil saya, sudah cukup puas dengan harga 5 juta rupiah. Bagi saya saat ini. Sangat tidak penting seperti apa tempat Everesta Media, siapa – siapa saja yang anggotanya, bagaimana cara kerja mereka, dan berapakah personil dari Everesta Media itu?! Justru yang terpenting bagi saya Everesta Media adalah lebih dan memiliki nilai tambah dari dari yang lain! Karena terbukti telah berhasil menyelamatkan data-data penting saya, bahkan yang sudah lama dihapus sekalipun. Sementara di tempat lain sudah gagal / menyerah. Ruli, Serpong (8-1). Percaya atau tidak semuanya! terserah anda! saya hanya menuliskan saja. Semoga berguna.Wassalam. Komentar oleh ruli — January 15, 2009 @ 11:30 am Menanggapi banyaknya nada-nada sumbang tentang keberadaan Everesta Media dengan harga recovery data yang agak mahal yaitu 5 juta. Ada pengalaman yang justru tidak masuk akal. Saya Ruli, tinggal di Serpong (BSD), 38 tahun. Karyawan salah satu Bank Swasta di Jakarta Barat. MOHON MAAF kalau tulisan ini bukan bermaksud menjelek-jelekan orang atau organisasi tertentu. Tapi untuk penyeimbang berita saja. Ada suatu cerita. Boleh percaya boleh tidak. Tepatnya di awal Februari 2008 lalu, saya pernah menemukan masalah. Sore hari, laptop Toshiba saya tiba-tiba hang. Seperti biasanya saya segera matikan listriknya, lantas saya restart ulang. Biasanya mau lagi berjalan normal. Tetapi sekarang ini sepertinya lain, hanya tampilan ‘blue screen’ dengan tulisan bahasa aneh, agak sedikit bunyi aneh klak-kletek, dan saya pun tidak tahu artinya. Lantas saya copot hardisknya untuk di-copy ke PC, dengan memakai external case SATA ternyata sama saja & ada bunyi kletak-kletek. Akhirnya, saya membawa ke beberapa tempat recovery data di daerah Harco Elektronik dan Mangga 2 Mall. Seperti biasa, saya menunggu beberapa hari. Tetapi saya tidak menegerti, ternyata mereka gagal menyelamatkan data saya dengan alasan bahwa kerusakannya adalah pada piringan/disk hardisk saya sudah parah (tergores). Saya pun mengambil harddisk SATA Seagate Momentus saya, dan mencoba merecover lagi ke beberapa tempat lain. Ternyata sama. Mereka gagal. Sama saja, terakhir saya coba lagi membawa ke jasa recovery data di bilangan Mall Ambasador, Jl.Setiabudi Sudirman, daerah Jakarta Barat juga, dan banyak tempat lain. Ternyata hasilnya sama saja. Padahal mereka juga mengaku-ngaku adalah master, ahlinya atau yang terbaik. Entahlah saya hampir putus asa. Saya sudah bingung harus kemana lagi saya antar harddisk saya agar dapat diselamatkan data – data penting di dalamnya. Saya juga hampir putus asa. Akhirnya saya coba terus mencari di Internet, di salah satu situs iklan gratis tampa daftar, saya menemukan Everesta Media, salah satu jasa penyelamat data, situsnya http://www.everezta.com. Awalnya saya sempat ragu – ragu dengan sosok Everesta Media. Karena sebelumnya, saya sempat membaca beberapa tulisan-tulisan bernada sumbang tentang Everesta dari berbagai pihak! Mengatakan, bahwa tempat Everesta Media tidak meyakinkan sekali! Tetapi, saya coba untuk tidak mudah percaya langsung dengan tulisan mereka. Karena belum ada buktinya bagi saya! Ya. Coba-coba dululah siapa tahu lain apa yang banyak pihak propagandakan. Mungkin juga, sosok Everesta tidaklah seperti tulisan yang pernah saya baca. Di tengah keputus-asaan, karena Everesta juga saya pikir akan sama dengan yang lain sebelumnya. Awalnya iseng-iseng saja kalau saja mereka bisa. Saya coba -coba menelpon ke pihak Everesta Media. Ternyata, mereka meminta saya mengantarkan harddisk saya ke tempat mereka di daerah Lenteng Agung arah Depok. Akan tetapi kalau diambil oleh mereka, dikenakan biaya, yaitu untuk biaya pengecekan dan transportasi, yaitu sebesar tujuh puluh lima ribu rupiah dibayar di muka. Awalnya saya ragu-ragu dan ciriga. Akhirnya, dari pada repot – repot pikir saya, karena juga saya juga agak sibuk waktu itu. Saya meminta mereka segera datang mengambil harddisk tersebut untuk direcover ke kantor saya. Saya pun harus bersabar lagi menunggu jawaban dari pihak mereka. Keesokan harinya saya ditelpon pihak mereka / Everesta Media, walau sempat tidak percaya. Mereka mengabarkan kepada saya, bahwa harddisk SATA saya dapat diselamatkan mereka, karena belum sempat dibongkar dalamnya. Katanya keberhasilan recovery data minimal 80% bukan 100%, juga waktunya agak lama minimal satu minggu, alasannya bahwa kerusakan harddisk saya tergolong sangat parah secara fisik (katanya ada sudah bunyi, head bacanya rusak, tidak terdetek BIOS lagi dan sudah banyak “bad sector area”). Mereka mengajukan biaya recovery data sebesar 5 juta rupiah. Jumlah yang sangat mengejutkan saya. Alangkah kagetnya saya! Saya tidak percaya!!! Mahal sekali! Mahal sekali mas!!!! Padahal tidak seperti di tempat – tempat lain yang pernah saya tanya, jauh lebih murah! Karena mahalnya saya bingung sekali, takut sekali telah ditipu Everesta Media! sempat saya akan membatalkan saja. Saya curiga juga takut ditipu oleh mereka (pihak Everesta).Karena terus penasaran di hati saya, saya coba lagi tawar harganya agar dapat lebih murah. “Jangan mahal-mahal…..!” Entahlah, mereka tetap keras kepala! Tetap saja, mereka (pihak Everesta Media (http://www.everezta.com) tidak mau agar biayanya lebih murah, alias tidak dapat ditawar lagi biayanya. Karena terpaksa juga & pasrah, mau tidak maulah! harus kemana lagi saya coba merecover data saya dengan harga jauh lebih murah, Sementara mereka belum tentu menjamin sanggup! Sebagaian besar mereka telah menyerah tak sanggup/ gagal. Akhirnya dengan terpaksa, saya menyetujui juga dengan biaya 5 juta rupiah secara tunai. Asalkan data-data saya benar – benar telah berhasil diselamatkan! Itu janji saya pada pihak Everesta Media. Bingung dan sangat mencurigakan juga cara kerja Everesta Media seperti apa. Terpaksa harus menunggu lebih seminggu tampa ada kejelasan. Tak sabar, akhirnya setelah 8 hari, mereka (pihak Everesta Media) tiba-tiba menelpon lagi kepada saya, dan memberitahukan bahwa sudah selesai semua data saya diselamatkan, diminta saya segera membuka e-mail saya, karena laporan datanya sudah dikirim. Segera saya cek e-mail saya, ternyata benar data saya sudah ada semua. Diminta juga, saya segera menyiapkan pembayarannya mutlak secara tunai 5 juta rupiah. Saya tidak mau rugi dong! saya harus cek lagi lebih detail apakah benar – benar data saya sudah ada. Saya mencoba mengingat satu – persatu data – data penting saya, yang sebagian besar saya sudah tak ingat lagi satu persatu. Ternyata benar! Aneh, sangat tidak dapat dipercaya!!! mereka telah berhasil menyelamatkan data-data saya! Atau mungkin Everesta sedang kebetulan ‘hoky’ jadi dapat menyelamatkan data-data saya. Aneh! Mungkin saja….! Percaya tidak percaya! Tak perduli, walaupun banyak nada sumbang tentang Everesta lantaran tempatnya tidak meyakinkan yang masuk gang itu! Tak terkecuali photo-photo anak saya waktu lahir dulu.Sangat mahal bagi saya, biaya recovery datanya! tidak seperti di tempat-tempat lain yang pernah saya tanya. Walaupun, pertama-tama saya curiga takut ditipu pihak Everesta karena tempatnya tidak meyakinkan. Sebenarnya jujur dalam hati kecil saya, terpaksa harus puas juga dengan harga 5 juta rupiah. Saat ini, sangat tidak penting seperti apa tempat Everesta Media, siapa – siapa saja yang anggotanya, bagaimana cara kerja mereka, dan berapakah personil dari Everesta Media itu?! Justru yang terpenting bagi saya Everesta Media adalah lebih dan memiliki nilai tambah dari dari yang lain! Karena terbukti telah berhasil menyelamatkan data-data penting saya, bahkan yang sudah lama dihapus sekalipun. Sementara di tempat lain sudah gagal / menyerah. Ruli, Serpong (8-1). Sekali lagi. Percaya atau tidak cerita. Terserah anda, jangan tuntut saya telah menipu anda di hari akhir kelak! Mau dianggap fiktip belaka silahkan. Terserah anda juga. Karena kebenaran cerita ini tidak akan pernah dibuktikan kebenarannya! Jangan tanya saya fiktip atau tidak. Hanya saja.Terima kasih kalau anda telah mau membacaya. Komentar oleh Ruli — January 27, 2009 @ 11:28 pm tolong dong isi tulisan jangan dirubah,..knapa yang pro menjadi contra, dan yang contra menjadi pro,…. tolong di cek ulang donk Komentar oleh ahcsant — February 9, 2009 @ 10:23 pm ya ndak papa nyuruh gus dur untuk istigfar. nabi muhammad aja istigfar 100 kali tiap habis shalat. jadi nasehat ini bukanlah untuk menjelekkan gus dur. kemuliaannya tidak akan berkurang karena hinaan atau celaan orang. gus dur tetaplah gus dur. demiiann juga dengan kehinaannya juga tidak akan bertambah karena sanjungannya. meskipun begitu saya cukup apresiasi dengan gus dur. dengan adanya gus dur baik yang membenci maupun mencintainya berani muncul. Komentar oleh muchojin — February 13, 2009 @ 4:07 pm Gus Dur, orang yg dibenci sekaligus dikagumi. Maksud lohh.. Komentar oleh Sword — February 18, 2009 @ 5:39 pm Gus Dur tidak perlu istighfar, karena ia tahu apa yang tidak ia lihat. Sementara “kita” tidak tahu apa yang “kita” lihat. Siapa yang harus istighfar? Komentar oleh HM Madarik Yahya — February 25, 2009 @ 1:44 pm hmmm…saya mau tanya buat yg pro-GDapa alasan GD menyatakan bahwa daging babi halal untuk dikonsumsi?(jlas2 mlnceng dr ajaran agama islam)dan pro israel?(dgn bnyaknya muslim yg terbunuh:anak2 dan wanita)??? Komentar oleh ita — February 26, 2009 @ 12:29 am dancuk Komentar oleh aan — February 28, 2009 @ 3:25 am porno!!! saya kok bingung sendiri dengan tentang devinisi porno apalagi hingga kini masih belum selesai-selesai. kalau saja al-quran itu porno saya tidak keberatan. bukankah tetek dengan alat kelamin itu juga sama-sama anggota. Meski di lihat atau di pertontonkan bahkan di bicarakan kenapa tidak boleh lawong sama-sama anggota badan! coba berfikir jernih! kenapa hingga kini tidak selesai-selesai tentang RUU pornografi? karena anggota tubuh atau badan ada undang-undangnya sampai kapanpun tidak akan selesai.seandainya ucapan atau tulisan saya di baca oleh semua orang maka akan saya tulis panjang lebar tentang nama-nama sekaligus gambarnya anggota badan. Komentar oleh qornain — March 15, 2009 @ 7:48 pm saya sejak dulu kagum dengan Gusdur dan dengan kekaguan ini saya mohon kepada beliau janganlah hak asasi saja yang di bahas apalagi di dengung-dengungkan. seharusnya ‘hak umum’ yang lebih penting kok malah tidak pernah di singgung. karena kalau hak asasi kita setuju otomatis secara mafhum mukholafahnya hak umum seharusnya juga di sepakati. kenapa mereka tidak berfikir ke arah situ?. Komentar oleh qornain — March 15, 2009 @ 7:59 pm kok gitu aja dikasih komentar sih.. Komentar oleh anang halim — April 5, 2009 @ 11:49 am berprasangka baik, itu kuncinya. Menghakimi dengan kaidah keilmuan yang kita yakini itu baik dan benar, belumlah tentu. karena keterbatasan kita akan wawasan keilmuan. Maka dari itu kita sebaiknya lebih banyak belajar lagi. Coba kita berkaca, jangankan untuk menilai orang lain apalagi sampai mengeluarkan statement tertentu, lha kita aja setiap hari bergumulnya dengan dosa terus, ingat Gusti Allah jarang-jarang, apalagi di kota besar banyak cewek cakepnya. Wah.. Pokoknya tata hati dulu deh.. belajar sama guru yang jagoan, jangan yang setengah-setengah. Peace Komentar oleh Agus Susanto — April 10, 2009 @ 12:28 am Katakanlah kepada mereka : “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya). Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.” Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab : “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah : “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat) niscaya Kami akan mengadzab (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At Taubah : 64-66 Orang Islam Tidak Pantas Berolok-olok dengan Ayat2 dari Alquran itu Haram… Komentar oleh teman — May 7, 2009 @ 5:03 pm bagus gussss….. pokoke aku manut mawon kwrena aku tahu jenengan gak asal ngendiko Komentar oleh nurul lazim — May 8, 2009 @ 11:27 pm gitu aja kok repot,itukan kata gusdur yang katanya super hero (herosin kali yee…) Komentar oleh mulya — May 9, 2009 @ 11:18 pm tapi itu smua memang perlu ada klrifikasi,mana yang melek dan mana yang merem,mana yang jalan sendiri mana yang dituntun… Komentar oleh mulya — May 9, 2009 @ 11:21 pm a….h kalian tuh gmn sih agama sendiri dijelek-jelekin,bingung gue.. Komentar oleh dodi — May 9, 2009 @ 11:27 pm yang manut-manut aja sama dengan kambing atau kerbau…ditarik kemana aja ikut… Komentar oleh dodi — May 9, 2009 @ 11:42 pm Gus Dur emang kontroversial tapi kalo kita mau jernih apa yang dikatakan Gus Dur benar kok! cuman orang-orang yang gak suka aja bisanya melintir kalimat yang Gus Dur ucapin. Bravo Gus Dura ane dukung terus biar negara ini pinter Komentar oleh suprapto — May 11, 2009 @ 11:40 am mempelajari Al-Quran dan Hadist yang jelas lebih bermanfaat daripada berpayah-payah menerjemahkan kalimat Gus Dur Komentar oleh asyrop — May 18, 2009 @ 12:39 pm test Komentar oleh ddd — May 20, 2009 @ 7:13 pm Kita semua tau siapa gusdur hanya lewat media… Dulu dia Kelihatannya bagus dan hebat, dari gologan Islam, diharapkan bisa membela kepentingan Islam. Tapi semenjak menjabat jadi Presiden dimana banyak kaum muslimin di negeri ini yang mempercayakan kepadanya nasib mereka… justru kemudian malah bertolak belakang dari harapan, dia jadi seperti asal-asalan ngomong, membuat banyak orang tambah bingung pada saat krisis ekonomi yang membingungkan, seperti kelakar di warung kopi…pada posisi sebagai petinggi dinegeri ini adalah wajar kalau dia selalu disorot media dan seharusnya dia bisa menjaga lisan karena semua pembicaraannya dapat mempengaruhi situasi politik dan ekonomi bangsa dan negara serta memberikan dampak terhadap nasib orang banyak di negeri ini, yang yang paling kontroversi adalah masalah kerjasama dengan yahudi, masalah konfik Sarah di Ambon… dan belakangan ketahuan dia dibaptis di gereja… menerima penghargaan dari petinggi yahudi… yang hampir-hampir membuat negeri ini menjadi kacau-balau karena ulahnya, dan pada akhirnya diturunkan dari Jabatannya. Sekarang marilah kita pertanyakan apakah masih pantas untuk didengar pendapatnya? kalau menurut saya, barangkali sebaiknya kita abaikan saja semua kementarnya, biarlah dia mau berkomentar seperti yang ia mau. Bila masih ada media yang mengekpose berita tentang dia, median tsb juga perlu dipertanyakan, ada kepentingan apa? Maaf ya… komentar ini diberikan memang sudah telat. cuma ingin memberikan masukkan tambahan, mudah-mudahan ada manfaat. kita do’akan saja mudah-mudahan saja GD dan kita semua diberikan hidayahNya. amin. Komentar oleh someone — May 21, 2009 @ 3:17 am Ingat Jangan terlalu gampang menuduh orang di Babtis. tidak demikian karena Aku tahu sendiri rekaman VCD nya.Masalah gus Dur kerja sama dg Yahudi dulu itu karena Logisttik gerakan Aceh merdeka di sokong penuh Yahudi. Setelah pura2 kerjasama dg Yahudi ternyata Aman kan. baru GAM bergejolak setelah mega berkuasa karena dia gak tau cara mengakali Yahudi. kita memang gak tau Gus dur kayak apa. Aku mulanya juga benci Gus Dur tapi banyak hikmah peristiwa dari apa yg dia buat . Dan setelah sekian lama akhirnya aku baru paham tentang apa yg membuat kontroversi. Berarti aku telat mikir ketimbang GD. Barang kali yang lain gitu yaa…? Komentar oleh Anjani — May 21, 2009 @ 3:36 pm SETUJUUU… Contohnya aja waktu jaman jahiliyah Orde Baru . saat itu SDSB (judi berkedok sumbangan) sangat membumi seakan halal 100% tapi apa ada ulama yg bisa dan berani membubarkan ? Ternyata Gus Dur punya trik Jitu . Dia langsung membakar emosi semua Ulama dg mengatakan SDSB Halal. Setelah Demo besar-besaran maka Pemerintah Orba membubarkan SDSB.Saat gus Dur ditanya kenapa SDSB halal ? Dia jawab hanya untuk bikin emosi semua orang aja . Biar SDSB dibubarkan . nah kan ? Siapa sekarang yang telmi. Mengutip omongan Wimar Witular” pikiran gusdur itu berjalan cepat dan melompat-lompat sedang kita berjalan lambat jadi untuk ahu apa maksudnya tinggal nunggu peristiwanya aja” Komentar oleh Sofwa — May 21, 2009 @ 3:44 pm Kalau Gus Dur bicara saya yakin ada sesuatu dibaliknya jadi jangan makan mentah-mentah apa yang diucapkan. Gus Dur emang kontroversi tapi itulah demokrasi kalau ada yang kebakaran jenggot berarti tak tau demokrasi Komentar oleh suprapto — May 27, 2009 @ 12:54 pm demokrasi itu apa?dlam Islam hanya ada Syuro,sementara demokrasi buatan nasroni (KALIAN…red;TASYABBUH)!!! Komentar oleh jihadi — May 30, 2009 @ 10:12 am Islam itu Rahmatan lil Ngalamin artinya secara luas juga demokrasi mas!!! perbedaan adalah rahmat jadi tidak boleh mutlak-mutlakan merasa pendapat anda benar dan Saya atau Gus Dur itu salah. ane dukung anda Gus!!! 100 % Komentar oleh suprapto — May 30, 2009 @ 11:49 am itulah gus dur cara ngritiknya beda……kalw sampean gak seberapa tw gus dur jangan “menegatifkan” gus dur trus…….coba aja diskusi ma orangnya……………….. Komentar oleh yudha — May 31, 2009 @ 8:34 pm hidup gus lanjutkan perjuanganMusaya tahu anda lebih tahu dari saya kritikan ada sangat jauh lebih maju OK!!! Komentar oleh solikhin — June 3, 2009 @ 10:05 am yang nongomng dalam islam gak kenal demokrai itu berarti gak tau islam. dan bagi yang bilang islam gak kenal demokrasi seharusnya orang itu gak usah ngomong di forum ini, sebab apa yang diomongkannya bukan hasil syuro(musyawarah), ya kan?? kata-kata yang ditulis dan diomongkan disini pasti hasil pemikiran dan pendapat sendiri ya kan?? itu namanya demokrasi. dalam demokrasi orang boleh berpendapat, dalam Syuro pun ada demokrasi. Komentar oleh oglex — June 9, 2009 @ 4:05 pm Ingat Allah punya kuasa tapi tidak pernah memaksa, sedangkan tuan tidak punya kuasa tapi tuan suka memaksa. Komentar oleh abhm — July 9, 2009 @ 10:20 am Kalo ada yang g setuju Gusdur itu Kyai ya g usah menganggap Kyai dan sepertinya maksud GD sudah tercapai. (Mungkin) Masud GD adalah supaya orang-orang dapat menyampaikan pendapatnya masing2 baik itu yang pro dan kontra terhadap pernyataan tersebut atau pernyataan GD yang lain sehingga kita dapat menyimpulkan sendiri apa yang baik. Sepertinya hampir semua pernyataan GD akan membuat beberapa orang berselisih, namun dari perselisihan itu dapat diambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Saya rasa GD juga ingin memberikan iklim demokrasi dan kebebasan berpendapat tumbuh dan berkembang di masyarakat kita. Komentar oleh Bobi Iswahyudi — July 12, 2009 @ 10:31 pm udahlah mas penulis..kang dur itu tuhan’y orang NU..kl Al-Quran di buat tissue toilet ma si dur jg sah2 aj bt orang NU..si dur mah di dunia aj udah di siksa apalagi di akhirat..ente mah yang waras ngalah aj.. Komentar oleh El Muhammad — August 12, 2009 @ 1:54 am komentar pertama tanggal 26 April 2006, jadi sudah lebih dari tiga tahun masih ada yg komentar, kalau saya no coment….. teruskan komentarnya sampai kapan ya? Komentar oleh sty — August 28, 2009 @ 10:28 am mesti di sadarkan orang2 sperti itu Komentar oleh zen madury — August 31, 2009 @ 8:36 pm Saya tidak mendengar sendiri perkatan Gus Dur tentang kitab suci paling porno. Dan saya tidak mengetahui apa maksud Gus Dur. Lebih baik kita meminta penjelasan sama GD dulu sblm menyalahkan.Kalau GD ngejelasin, insya Allah kita juga mangut-manggut. Komentar oleh sadar — September 19, 2009 @ 10:44 am Toh masing-masing punya amal… kaji saja lebih dalam. jangan pernah mendikte orang lebih dahulu sebelum mendikte diri kita sendiri lebih dulu… cari hikmahnya, jangan buat keresahan, pasti masing – masing punya alasan tertentu.. islam agama yang damai. Komentar oleh Apunk — October 10, 2009 @ 6:03 pm sesungguhnya..mereka2 yg mengatakan sedemikian x perlu di perangi kerana..bagi muslim yg beriman..muslimin sejati..mereka akan mengatakan golongn2 itu adalah musuh ketat Islam..tidak ada tempat mereka melainkn neraka dan seksa Allah SWT…ingatlah..mereka yg memburuk-burukkan AL-QURAN..akan menerima balsan yg mereka sendiri tidak terfikir..malahan mereka hanya mengeluarkan suara2 menyesal..hakikatnya mereka tahu tidak lagi d terima golongan itu…mereka tidak tahu…mengapa mereka mengagung-agungkan injil..Injil asalnya adalah salah satu Kitab muslimin..namun tlah d curi dan d sesatkn hingga skarang…jika d selidik kitab2 itu..tidak sebegitu jauh isikandungnya tapi..injil lebih kepada arah kesesatan..mereka sbnrnya tahu injil itu sudah sedia kala sesat..namaun mereka melindunginya dgn memburukan alquran..padahal mereka sudah tewas…pengadilan hanya Allah sahaja yg menentukan..mereka akan kelu berhadapan dgn kebenaran….bgi umat Islam, mereka hanya mampu bersabar dan mempertahan kn kesucian al-Quran…ingatlah golongan sesat..kmu tidak akan mnedapat kemenangan..mustahil… Komentar oleh wan — November 11, 2009 @ 10:37 pm sudahlah saudara2…gus dur itu manusia juga yg bisa salah. sebaiknya kita merenung pd diri kita ini sudah sejauh mana pengakuan islam kita ini, sudah sebesar apa perjuangan kita untuk islam. untuk yg diatas semua kok pemikiran kalian ndak beda jauh ya dengan orang NASRANI..apakah kalian ini sudah fasih baca basmalah??? perbanyaklah ilmu agama kalian dulu..bermanfaatkah ngasi2 coment?… Komentar oleh fauzy — December 30, 2009 @ 7:49 pm karena orang Islam banyak juga yang belum hapal isi Alquran,..mungkin beliau berkata demikian sebagai salah satu cara agar orang2 membaca Alquran,..dan banyak juga akhirnya orang yang baca Alquran membuka dan membaca isinya ,..meski cuman utk mencari istilah porno ini,..beginiilah mungkin type bangsa ini,..bila dibilang Alquran ini baik hanya dilihat disayang tapi tak dipelajari isinya,…tapi bila sesuatu itu dibilang buruk akan dicari2 keburukan2 nya,..coba dipikir secara bijaksana saja,… Komentar oleh ark — January 1, 2010 @ 7:55 pm yang lalu biarlah berlalu, jadikan sebagai pelajaran. Saatnya kita perbaiki diri untuk menuju iman dan takwa yang lebih baik. saling menasihatilah dalam kebenaran dan kesabaran. Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu’alaikum wr wbr. APA GUS DUR MERASA AMAN? Ahmad Sudirman XaarJet Stockholm – SWEDIA. Tanggapan untuk Presiden Gus Dur dan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi. NU JADI BENTENG DAN SIAP BELA GUS DUR DIBAWAH UUD’45 SEKULAR Gus Dur sekarang masih tetap menikmati dan menghirup udara sekularisme di negara-negara Eropa yang dikunjunginya sampai 13 Februari 2000. Pikirannya menjadi segar dan nyaman dapat menghisap hawa paham sekularisme. Beberapa berita yang melambungkan isu-isu kudeta tidak menyebabkan Gus Dur terperanjat. Ancaman dari kiri-kanan tidak menjadikan otaknya yang penuh humor menjadi terkulai. Karena nun jauh di belahan dunia Asia Tenggara, di Negara Pancasila, Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi, Senin, 7 Februari 2000, mendeklarasikan bahwa “Nahdliyin siap di belakang Gus Dur jika ada pihak yang coba-coba mengkudeta presiden. Kita siap membela di bawah konstitusi kalau ada usaha kudeta. Tidak benar Gus Dur terancam karena Gus Dur didukung oleh banyak kalangan.

Dia pun memiliki legitimasi yang kuat” ( http://www.satunet.com/artikel/isi/00/02/07/6329.html ). NU BUKAN HANYA DUKUNG GUS DUR, TETAPI HARUS MEMBUANG PIKIRAN SEKULARISME-NYA Banyak orang terpesona pada Gus Dur dengan akrobat diatas talinya. Seperti yang diturunkan oleh Republika Online edisi: 27 Januari 2000 dengan menampilkan tulisan “Mengevaluasi Sang Guru” yang menggambarkan hasil pemikiran penulisnya dengan gambaran bahwa “melihat Gus Dur seperti ”lukisan Monalisa”, yang ”bisa menyesuaikan diri” dengan jiwa dan kondisi psikologis orang yang melihatnya. Oleh sebab itu, membaca ”ucapan, pikiran, dan tindakan Gus Dur” haruslah dengan perspektif yang benar, perspektif yang sesuai dengan karakter Gus Dur, yakni sebagai Guru (dengan ”G” besar) bagi bangsa Indonesia, khususnyaumat Islam” (Mengevaluasi Sang Guru, Republika Online edisi: 27 Januari 2000) Kelihatannya dengan diloloskannya tulisan “Mengevaluasi Sang Guru” oleh pengasuh Republika Online menunjukkan bahwa secara tidak langsung Gus Dur telah diangkat sebagai Guru bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Disinilah saya melihat bahwa bagaimana sebagian rakyat Indonesia terpesona dengan keligatan Gus Dur dengan loncatan-loncatan sekularismenya, sehingga mampu memberikan bayangan dan gambaran kepada sebagian rakyat Negara Pancasila bahwa sekularisme adalah paham yang bisa menyelamatkan kemelut yang menimpa bangsa Indonesia. Apabila Gus Dur “….mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang” (Al Maidah, 5: 56). Tetapi kalau Gus Dur “….dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya” (An Nisa, 4: 143). Tentu saja bagi umat Islam “….janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman” (Al Maidah, 5: 57). PERSATUAN YANG DITERAPKAN GUS DUR PERSATUAN SEMU Persatuan yang didasarkan pada sekularisme merupakan dasar pijakan Gus Dur untuk merangkul seluruh rakyat Negara Pancasila. Karena itu ketika Gus Dur membicarakan persatuan, agama tidak boleh diangkat kepermukaan. Selama agama dijadikan dasar persatuan, maka selama itu persatuan tidak akan terlaksana. Itulah pemikiran yang keluar dari paham sekularisme-nya Gus Dur. Persatuan Gus Dur adalah persatuan yang tidak didasarkan pada keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT. Pemerintahan Gus Dur adalah pemerintahan yang tidak dibangun atas dasar masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil, berdasarkan akidah Islam dengan menghormati agama lain, dengan konstitusi yang bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah, yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras. Inilah sedikit tanggapan untuk Presiden Gus Dur dan Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada [EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman NDONESIA kembali kehilangan seorang sosok guru bangsa. KH Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan Gus Dur wafat beberapa hari lalu. Meski demikian, karya-karya dan pemikirannya tidak akan pernah hilang dari bangsa Indonesia. Ialah sosok yang banyak menjadi inspirasi bagi rakyat Indonesia. Pikiran-pikirannya yang brilian selalu membuat segar suasana dan terobosan-terobosan baru. Tidak hanya itu, Gus Dur juga merupakan seorang tokoh ulama yang sangat disegani baik di tingkat nasional maupun internasional. Beliau termasuk ilmuwan sosial yang diakui dunia hingga saat ini. Berbagai jabatan penting pernah Gus Dur duduki. Puncaknya beliau menjadi Presiden ke-4 RI. Jalan pikiran Gus Dur tidak pernah bisa ditebak. Beliau bertindak sesuai dengan hati nurani yang dipadukan dengan nalar sebagai pertimbangan. Meski, kadang kala sepak terjangnya membuat sejumlah orang merasa risi dengannya. Tentunya karena Gus Dur adalah manusia biasa, yang fitrahnya sebagai tempat salah dan lupa. Pemikiran beliau juga tidak semua orang bisa menerimanya karena banyak hal. Ada yang tak bisa menerimanya dengan alasan politik, agama, ideologi, atau hanya karena tidak suka saja dengan pribadinya. Pejuang HAM Sosok Gus Dur juga merupakan pejuang demokrasi dan hak asasi manusia. Kaum minoritas di Indonesia selama ini selalu menjadikan beliau sebagai tempat berlindung ketika mendapat tekanan. Gus Dur selalu tampil menjadi yang nomor satu ketika hak-hak kaum minoritas ditindas. Dalam pandangan Gus Dur, kaum minoritas adalah juga warga negara Indonesia yang wajib untuk dilindungi secara hukum. Terutama pada kelompok-kelompok minoritas keagamaan, beliau sangat respek. Kita tentu masih ingat bersama ketika Ahmadiyah diserang dan dihujat habis-habisan Gus Dur berdiri sebagai seorang ulama yang membela mereka. Atau bagaimana Gus Dur membela kelompok minoritas yang kesulitan dalam membangun rumah ibadah mereka. Beliau berdalih bahwa pembangunan rumah ibadah adalah hak bagi setiap pemeluknya. Gus Dur pulalah yang pertama kali mengizinkan pertunjukan barongsai setelah lama dilarang dimainkan. Ketika beliau menjadi seorang presiden, agama Konghucu dilegalkan di Indonesia. Termasuk menghapus peraturan tentang warga negara keturunan dalam hal ini Tionghoa yang diharuskan mempunyai nama Indonesia. Bagi kaum Tionghoa, Gus Dur termasuk tokoh penting mereka dalam kebebasan dari diskriminasi. Beliau jugalah yang berinisiatif menghapuskan Tap MPR tentang pelarangan PKI dan ajaran komunisme di Indonesia. Juga mengupayakan rekonsiliasi antara mantan-mantan PKI dan segenap kelompok yang dulu memusuhinya. Dalam upaya ini usaha Gus Dur tidak sia-sia.

NU yang menjadi gerbongnya selama ini bisa berekonsiliasi dengan mantan-mantan PKI, meski sejumlah tokohnya menolak hal tersebut. Hubungan NU dengan umat kristiani juga membaik beberapa akhir tahun belakangan, meski sebelumnya juga tetap mesra. Inilah hasil karya pengarsitekan Gus Dur dalam program pengamanan Hari Natal oleh Banser NU. Sebagian umat Islam juga sering kali dibuat berang oleh tingkah laku kiai yang satu ini. Terutama ketika Gus Dur mengunjungi Israel, yang sampai saat ini masih menjadi musuh Islam. Apalagi ketika beliau mengungkapkan keinginannya untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Kekerasan bukan merupakan jalan yang baik dalam menyelesaikan masalah. Karena kekerasan yang dilakukan akan mengakibatkan kekerasan lainnya timbul. Prinsip inilah yang dianut Gus Dur dalam menyikapi permasalahan. Banyak anak bangsa yang melakukan kekerasan dengan berbagai dalih untuk kepentingan mereka, baik mempertahankan eksistensi atau sebagai legitimasi kebenaran tunggal versi mereka. Gus Dur secara tegas menolak dan mengecam berbagai aksi kekerasan yang terjadi di negeri ini. Demokrat sejati Jalan seberang (oposan) dalam berdemokrasi juga selalu diambil bapak bangsa ini.

Sejak mudanya Gus Dur berani menjadi oposan dari setiap penindasan oleh penguasa. Dengan terang-terangan beliau menyatakan tidak mau masuk dalam gerbong ICMI waktu didirikan. Saat reformasi 1998, ia juga menjadi pemrakarsanya. Rumahnya di Ciganjur dijadikan tempat pertemuan menentang rezim berkuasa saat itu. Dan karena kejeliannyalah Gus Dur bisa lolos dari rezim Orde Baru. Meski beliau dikenal sebagai pengkritik tajam pada penguasa saat itu. Bahkan terhadap partai yang didirikannya sendiri Gus Dur tetap menerapkan budaya oposan. Tentunya kita masih ingat saat bagaimana Gus Dur berseteru dengan keponakannya sendiri Muhaimin Iskandar berebut PKB. Atau ketika Gus Dur duduk sebagai presiden, banyak kontroversi yang mengikutinya. Mulai gonta-ganti menteri hingga protokoler yang sering dilanggarnya. Yang paling fenomenal adalah membuat Istana Presiden kehilangan kesakralannya dan menjadikannya sebagai istana rakyat. Dari semua presiden yang pernah ada mungkin Gus Dur-lah presiden yang paling mudah ditemui oleh siapa saja dan kapan saja. Inilah sosok aktor politik yang andal dan jeli meski pada akhirnya kena telikung juga sehingga Gus Dur menjabat sebagai presiden hanya separuh waktu saja. Dengan berbagai fenomenalnya Gus Dur mewarnai iklim demokrasi Indonesia dan mendidiknya menjadi dewasa. Namun, kondisi bangsa ini masih jauh dari harapan atas apa yang diperjuangkan Gus Dur selama ini. Kaum minoritas masih terpinggirkan, rakyat banyak yang miskin. Kezaliman para penguasa juga masih sering kita lihat. Tentunya itu semua menjadi tugas kita mewarisi perjuangan dan cita-cita luhur Gus Dur. Mewujudkan Indonesia yang demokratis, sejahtera, adil, dan makmur, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Kini beliau pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Perjuangan dan cita-citanya akan terus hidup di sanubari kami. Selamat jalan Gus, kami akan selalu merindukan orang seperti engkau.

Hello world!

Posted in Uncategorized on February 8, 2010 by bedjonugroho

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.